Home / Fahri Hamzah / Roman Revolusi: Soal Fahri Hamzah (16)

Roman Revolusi: Soal Fahri Hamzah (16)

Oleh: Agus Cuprit

Liputanpolitik.com,- Nasional. Mari pakai logika ini: Jamaah adalah partai, partai adalah jamaah (al jamaah hiyal hizb, al hizb huwal jamaah). Doktrin ini baku, tunggal, kesepakatannya begitu bukan? Maka hukum tertinggi yang berlaku adalah rapat majelis syuro’ sebagai pengambil kebijakan tertinggi dan aturan lainnya yang termuat di dalam AD/ART. Sehingga kita yakini bahwa semua harus kembali ke dua hal ini. Pedoman dasar dalam berorganisasi, yang mengatur dan membatasi agar tak terjadi penyalahgunaan dan kesewenang-wenangan. Organisasi tak boleh dibelokkan dan dimanfaatkan oknum.

Ketua Majelis Syuro’ maupun Presiden Partai itu sendiri hanya menjalankan tugas dan wewenang yang kesemuanya telah diatur AD/ART, bacalah dengan detail. Perihal ketaatan, AD/ART tidak memuat tentang ketaatan mutlak terhadap qiyadhah. Hanya terdapat 1 pasal, yakni pada pasal 6 ayat (1) ART, perihal ikrar janji anggota, memang terdapat frasa: setia kepada pimpinan partai, tetapi ingat, sebelumnya didahului dengan “… berpegang teguh kepada AD/ART dan peraturan partai…”, dengan ini, ketaatan anggota pada pimpinan harus tetap sesuai dan didasarkan pada AD/ART dan aturan partai. Begitu panduannya.

Maka selain tidak ditemukan di rapat DPTP, dirapat majelis syuro’ manakah yang membenarkan pergantian Fahri Hamzah? Tidak ada. Clear. Bahkan alibi pemecatan melalui BPDO itu juga sudah dimentahkan pengadilan karena dinilai melanggar aturan-aturan, semuanya tidak terbukti. Lalu atas dasar apa percaya semua ini? Permainan siapa dan semua ini untuk apa? Pada apa ketaatan itu berlaku?

Ngerinya, diluaran terus dihembuskan untuk tidak boleh percaya FH, termasuk juga kepada Anis Matta, karena mereka individu, bukan jamaah, dan disisi lain disuruh taat kepada qiyadhah, sedang qiyadhahnya sudah salah, melanggar AD/ART, semakin aneh bukan?

Bisa jadi, yang mengaku taat itu karena 2 hal, ia yang tidak tahu secara detail aturan jamaah atau ia yang punya ikatan-ikatan tertentu yang membuat enggan atau takut jika menelisik kebenaran lebih jauh? Janji awal kita adalah kepada jamaah, lalu mengapa berganti kepada individu? Tak ada yang mahsum selain Rasulullah. AJM/RedLP.
Penulis: (Cuprit 7/3).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *