A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (31)

Kepemimpinan Anis Matta (31)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Fahri Hamzah bercerita kepada saya. Cerita ini pengalaman pribadinya. Berbekas dalam, sepertinya. Maka, ia bercerita pelan-pelan seperti berbisik, tapi jelas dan terang, serta dalam juga terdengar oleh saya. Ini tentang firasat Anis Matta. Beberapa kali, ia membuktikan bahwa firasat Anis Matta itu terbukti di kemudian hari. Dan itu sangat menolong dirinya. Bahkan, menghindari dirinya dari kehancuran. Tak terbayang, kalau ia tak menuruti firasat Anis Matta. Entah apa yang terjadi? Alhamdulillah, sampai saat ini masih baik-baik saja. Tidak bermaksud mendahului takdir.

Fahri Hamzah diminta Anis Matta untuk tak dekat-dekat dan berurusan dengan seseorang. Walau sebetulnya, orang itu sangat dekat hari-hari. Butuh usaha ekstra untuk tak dekat-dekat dan berurusan dengan orang itu. Tapi karena permintaan Anis Matta, Fahri Hamzah hanya mengikuti saja permintaan itu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, ternyata orang itu memang terbukti bermasalah, dan siapa saja yang berdekatan dan berurusan dengannya juga ikut bermasalah. Bukan masalah kecil, bahkan republik ini hampir “hancur” karena ulahnya.

Fahri Hamzah juga diminta tak berurusan uang-piuang dengan seseorang. Orang itu, juga sangat dekat dengannya. Bahasa uang juga sangat dekat, karena itu kadang dinilai sebagai bahasa pertemanan biasa. Umpama, teman mentraktir makan atau ngopi sekali dua kali, apa masalahnya? Tapi, lagi-lagi, Fahri Hamzah hanya mengikuti saja permintaan Anis Matta itu. Dan di kemudian hari terbukti bahwa orang itu memang bermasalah dengan uang. Lagi-lagi Fahri Hamzah selamat karena menuruti firasat Anis Matta. Siapa yang tak tergiur uang? Apalagi dianggap teman sendiri?

Fahri Hamzah, tentu mengenal Anis Matta dengan sangat baik. Luar dan dalam. Mungkin tak ada dari seorang Anis Matta, yang tak dikenalnya. Ia tak mengenal Anis Matta seperti orang-orang mengenalnya, apalagi atas fitnah-fitnah yang berserakan, di mana-mana. Ia pasti tak mengenal Anis Matta sebagai pribadi yang hedonis, bermewah-mewahan, budak kuasa, dan lain-lain. Ia justru mengenal Anis Matta sebagai pribadi yang dalam, bertakwa, zuhud, dan sangat tahu diri. Maka, saat Anis Matta memfirasati sesuatu, Fahri Hamzah tak punya pilihan, selain menurutinya.

Fahri Hamzah tahu betul dengan sebuat hadist Nabi Muhammad SAW. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda. “Takutlah terhadap firasat orang mukmin, karena sesungguhnya dia melihat dengan cahaya Allah.” Lalu beliau membaca surat dalam Al-Quran, “sesungguhnya pada demikian itulah benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah SWT) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (Al-Hijr: 75). Artinya, firasat orang mukmin itu, apalagi dia paham betul kualitasnya, tak bisa diabaikan. Karena ia bisa merasakan apa yang tak dirasakan orang lain.

Kadang, mukmin bertakwa itu, orang zuhud itu, tak harus tampak dengan penampilannya. Ada kalanya simbol-simbol itu tak mencirikan isinya, begitu sebaliknya? Simbol-simbol lengkap, tapi isi serba kekurangan. Begitu sebaliknya? Saya melihat, memang ada dari sifat Anis Matta itu yang bisa disalahpahami. Ia ingin bermobil mewah, berjam tangan mewah, dan lain-lain. Tapi itu tak menjadikannya pemburu barang-barang mewah. Bahkan mobilnya tak berganti sejak tahun ia diisukan bermewah-mewahan. Dan orang yang mengisukannya, menikmati sebagai pribadi sederhana, kini mobilnya jauh lebih mewah.

Letakkanlah dunia di tanganmu, bukan di hatimu! Begitulah. Dan itu tak bisa terlihat dari sekadar simbol. Anis Matta, tampaknya, termasuk pribadi yang tak terlalu menghiraukan simbol-simbol itu. Makanya, firasatnya masih terus terasah tajam dan menjadi modal kepemimpinannya, sejak awal, setidaknya sejauh dikenal Fahri Hamzah. Tapi terkesan firasat itu hanya tajam ke luar, dan tumpul ke dalam. Berkali-kali, ia seperti dibohongi, dikhianati. Apakah ia benar-benar tak tahu? Atau, ia punya kaidah sendiri?

Saya pernah dengar Anis Matta bilang begini: “Biarkan ia menganggap kita seorang politisi, bukan murid. Tapi selamanya kita akan tetap menganggapnya sebagai seorang guru, bukan politisi.” Saya tak tahu dan tak mengerti maksudnya apa dan siapa?. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *