Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (48)

Kepemimpinan Anis Matta (48)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Jadi, sebelum atau sesudah pemilu, hanya soal momentum saja. Tak lebih dan tak kurang. Tak terlihat maksud lain. Dan momentum itu dapat. Tak semua, baru separuh. Baru tersosialisasi di kubu Prabowo-Sandi, Jokowi-Ma’ruf belum. Mungkin ide ABI itu lebih cocok dan pas di kubu penantang dibanding petahana. Tapi, itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya Garbi sudah berhasil memanfaatkan apa yang diistilahkan Anis Matta dalam bukunya, Menikmati Demokrasi, sebagai celah sejarah. Meliuk di antara situasi sulit, tapi bisa keluar sebagai pemenang, bukan pecundang.

Tapi memang, Anis Matta bukan siapa-siapa. Ia tak sedang memegang posisi apa-apa. Di PKS, sejarahnya jelas, rekam jejaknya jelas. Rasa-rasanya, tak ada pula rezim baru PKS ini yang berani mempertanyakan, berdebat, tentang itu. Teman-teman dekatnya seperti Ahmad Zainuddin, Musyafa Ahmad Rahim, Akhmad Faradis Syahfan B Sampurno, dan lain-lain, “berani” dipanggil lembaga penegak disiplin bernama BPDO, tapi belum “menyentuh” Anis Matta. Keburukan Anis Matta “sengaja” diserakkan ke bawah. Ke atas, orang tahu sama tahu, di mana atau siapa akarnya. Tak sulit betul menemukannya. Maka ini bukan semata tentang siapa pemenang dan pencundang.

Bisa, memanfaatkan celah sejarah, keluar sebagai pemenang, belum tentu juga, bisa lolos seleksi sejarah. Ini tahap berikutnya. PKS, misalnya. Awalnya bisa dibilang, termasuk yang bisa memanfaatkan celah sejarah, tapi belum tentu bisa lolos seleksi sejarah, bila nanti suaranya turun atau malah, tak lolos PT. LHI, misalnya lagi. Contoh orang yang tak lolos seleksi sejarah. Malah, kehadiran Garbi itu sendiri sebenarnya, ialah bukti dari ketidaklolosan PKS dalam seleksi sejarah. Karena sejak awal, tak ada yang mau membentuk Garbi, kalau jalan islah itu benar-benar dijalani.

Bukan berarti pula, saya berharap PKS suaranya turun atau malah, tak lolos PT yang pada akhirnya, tak lolos seleksi sejarah. Kalau tak percaya, ya, silakan saja. Saya bisa apa? Sebaliknya, saya menjamin Garbi akan lolos seleksi sejarah berikutnya sebab sudah bisa memanfaatkan celah sejarah, dan lima besar kekuatan dunia dengan mudah diraih sekali hentak. Jangan begitu jugalah. Malah, saya masih yakin suara atau kursi PKS masih tetap. Walaupun untuk naik saya sangat tak yakin. Tapi, itu semua karena faktor eksternal. Kalau faktor internal, sudah selesai. PKS tak lolos seleksi akibat kelahiran Garbi. Jangan pula dibalik, Garbi yang tak lolos seleksi karena masih ada PKS. Garbi itu akibat bukan sebab. Membalik-balikkan ini bagi orang yang tak memahami kerap keliru, lupa, atau pura-pura. Padahal, itu pematang yang jelas, bukan sawah yang tanpa pematang.

Memang, harus diurut dari awal. Jangan setengah-setengah. Dari akhir juga boleh dimulai. Dijamin kesimpulannya akan bisa sama. Kalau tidak juga, tidak bisa disebut lagi. Coba saja putar rekaman sejak awal, dan bandingkan dengan yang sekarang. Minimal, saat surat pemecatan Fahri Hamzah tersebar di media dan Fahri Hamzah belum tahu apa-apa. Betapa arogannya saat ditanya wartawan, merasa di atas angin, siapa pun yang berbicara dari petinggi atas hingga petinggi biasa, saya melihat malah seperti “monster” dari dunia lain. Bandingkan sekarang? Sama sekali berbeda jauh. Celakanya, tanpa penyesalan dan rasa bersalah. Apakah itu yang dimaksud sebagai kembali pada asholah dakwah? Entahlah. AJM/RedLP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *