A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / opini / Babak Baru Ratna Sarumpaet

Babak Baru Ratna Sarumpaet

Babak Baru Ratna Sarumpaet
Oleh: Erizal

LIPUTANPOLITIK.COM
Amien Rais dipanggil, Ratna Sarumpaet belum selesai. Ada yang bilang: Ini babak baru! Saat mengaku, Ratna wanti-wanti, agar fokus ke dia saja.FB_IMG_1533768414739

Jangan yang lain! Bahkan, ditanya saja dia tak mau. Dia menutup konfrensi pers tanpa tanya-jawab. Dia tahu, tak akan mudah menjawab.

Babak pertama Ratna kalah telak. Bukan kalah tipis. Dia menanggung malu yang teramat dalam. Masih bisa konfrensi pers saja, itu sudah hebat. Entah kemana lagi wajah mau disurukkan? Wajah itu betul yang kena. Aslinya operasi plastik, mengakunya dipukuli oleh tiga orang preman.

Untung Ratna Sarumpaet masih waras. Dia tak merusak dirinya lebih dalam. Dia berhenti, menyerah, dan angkat bendera putih. Ada juga, orang yang tak kuat menanggung malu seperti itu. Dia akan “memperlurus” kebohongannya hingga dirinya betul-betul selesai, termasuk secara fisik.

Tapi, dalam sepak bola, babak pertama kalah telak, belum tentu, babak kedua kalah telak lagi. Dan akhirnya memenangkan pertandingan. Banyak kasus, babak pertama kalah telak, babak kedua situasi berbalik. Yang tadinya kalah telak, akhirnya menang, bahkan di detik-detik terakhir.

Betul, dia mengaku berbohong setelah polisi sukses, membongkar kebohongannya. Kalau tidak, belum tentu juga. Republik bisa pecah. Karena drama kebohongan itu betul-betul mengena. Perempuan tua dipukuli tiga preman tak dikenal hingga bonyok. Lalu mencampakkannya di jalan.

Harus diakui, Ratna Sarumpaet adalah seorang dramawan yang canggih. Hampir-hampir, publik yakin dan tersulut amarah karena lakon yang dibuatnya. Apalagi kasus serupa kerap gagal diungkap, siapa pelaku utamanya. Pikiran publik terbentuk, bahwa ini akan jadi kasus berikutnya.

Asrul Sani mengatakan pada sekitar tahun 1950, bahwa teater merupakan alat demokrasi yang lain. Mahbub Djunaidi menuliskannya lagi dalam kolom khususnya di Kompas, pada tahun 1990, dalam rangka pembelaannya atas teater Koma yang dibredel pementasan, pada zamannya.

Panggung teater digambarkan adalah kehidupan itu sendiri. Segala ragam kehidupan, bisa dipentaskan tanpa hambatan. Para dramawan punya imajinasi sendiri, dalam menjelaskan realitas dalam bentuk lakon. Makanya, Drama Kecoa teater Koma saat itu dinilai penguasa, tak mendidik.

Sama seperti pers yang menjadi pilar demokrasi, teater kira-kira juga ingin dipakai begitu. Tentu, cara kerjanya tak sama. Pers melalui berita-berita, sementara teater melalui lakon-lakon di atas panggung. Sebagai alat, ini tak mudah. Realitas ditransfer ke atas panggung seolah-olah nyata.

Tapi teater yang ditampilkan Ratna Sarumpaet betul-betul dalam realitas nyata, tak lagi di panggung. Ia menjadi lakon sendiri, bukan orang lain. Dia teraniaya, dipukul hingga bonyok oleh tiga preman. Dia menampilkan teater tidak lagi sebagai alat demokrasi, tapi memperalat demokrasi.

Demokrasi yang mudah terbawa amarah, lalu diperalat dengan lakon teraniaya seperti itu, sebetulnya sangat membanggakan. Refleks demokrasinya bagus, natural. Justru yang lambat atau tak bereaksi sama sekali, dipertanyakan jiwa demokrasinya. Makanya, tak ada yang keliru di situ.

Tapi apa pun, Ratna Sarumpaet sudah terhempas. Dia sudah mengaku, dan mungkin akan melarikan diri ke Chili. Tapi polisi memburunya hingga sudah berada di dalam pesawat asing. Di situ, Bahasa Indonesia tak digunakan lagi. Ada yang mulai mempermasalahkan itu, tapi entahlah?

Ini babak kedua dari drama seorang Ratna Sarumpaet. Dia diseret dari bandara, hingga ke jeruji besi. Ada dugaan dia bukanlah aktor tunggal, ada aktor-aktor lain. Sejauhmana, belum tahu pasti. Polisi sedang bekerja. Amien Rais dipanggil dan telah diperiksa. Siapa yang mau menyusul?

Fadli Zon? Atau malah langsung Prabowo? Babak kedua ini tak mudah dan sangat riskan. Amien Rais mulai melebarkan kasus ini, ke soal desakan pencopatan Kapolri Tito Karnavian atas dugaan suap. Alumni 212, juga sudah kembali turun ke jalan, dan berorasi melakukan pembelaan.

Kalau tak cukup bukti, memang sebaiknya Kepolisian berhenti hanya pada seorang Ratna Sarumpaet. Jangan sampai, perlakuan orang yang telah mengaku berbohong lebih buruk daripada orang yang menutupi kebohongannya. Babak kedua ini bisa berakhir antiklimaks kalau tak saling menjaga..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *