A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Bayang Bayang GARBI

Bayang Bayang GARBI

FB_IMG_1536749497012

Bayang-Bayang GARBI
Oleh: Erizal

LIPUTANPOLITIK.COM
PKS itu PK (Partai Keadilan) jilid II. Sesuatu yang baru, tapi bukan terpisah. Maka, kalau nanti ada GARBI (Gerakan Arah Baru Indonesia), atau entah apa namanya, itu bisa dibilang PKS jilid II. Bukan sesuatu yang terpisah, tapi juga baru. Sama, walau punya kamar sejarahnya sendiri.

PK bergabung ke PKS, maka wajar PKS adalah PK jilid II. Karena banyak juga pengurus teras PK menjadi pengurus teras PKS. Tapi ada juga yang tak mau. Masuk tapi memisah. Mereka bisa disebut PK jilid I. Mereka sirna, karena tak sesuai aturan dan PK telah berubah menjadi PKS.

Mereka sempat membuat FKP (Forum Kader Peduli) dan menggeliat sebentar, lalu hilang karena sebagian diam-diam masuk ke PKS, dan sabar menunggu terjadinya perubahan kekuasaan. Sedikit banyak, yang berkuasa di PKS saat ini adalah PK jilid I, atau FKP yang memilih bertahan.

FB_IMG_1537495423847

Maka GARBI adalah PKS jilid II yang sadar atau tidak, dibuang PK jilid I atau FKP yang memilih bertahan yang saat ini berkuasa. Adanya GARBI, karena cita-cita melanjutkan PKS jilid I yang cenderung bergerak ke belakang. Balik pada cita-cita PK saat masih hidup di bawah tanah. Malah, terkesan lebih ekstrem karena situasi sudah berubah. Tapi tak dihiraukan, pokoknya balik!

Saat sumpah masih diyakini–dan tak cukup sekali, berkali-kali, pakai tanda tangan segala–sebagai cara mengikat orang per orang, taat dan tsiqoh, adalah jawaban dari apa pun pertanyaan yang muncul di tiap bidang. Dari soal aqidah yang dalam hingga politik praktis yang sangat kasat mata. Padahal era berbeda. Era digital. Transformasi terjadi cepat, kontradiksi terjadi di tiap level.

Tak ada yang benar-benar sakral, kecuali Tuhan itu sendiri. Organisasi, apalagi orang, tak ada yang sakral, apalagi yang jelas-jelas punya sifat buruk tapi ditutupi jubah-jubah doktrin yang palsu. Para nabi saja tak pernah melakukan itu. Kecuali perintah Tuhan, semua ada potensi salah. Walau tetap ada yang terbius, malah takut berlebihan sebab ketidaktahuan atau kepentingan fana.

Jadi, PK jilid I dan II, PKS jilid I dan II, FKP dan GARBI atau apa namanya nanti, hanya keberlanjutan bukan keterputusan dari gerakan yang memiliki ide-ide, tradisi, nilai-nilai, cita-cita, atau narasi, yang ditempa oleh zamannya. Wajar ada yang sirna, bertahan, dan sesuatu yang baru.

FB_IMG_1533193324026

PK hilang tak hanya karena aturan yang berlaku saat itu, juga karena ide, tradisi, nilai dan narasi yang tak cocok dengan zamannya. Sebagian tersadar, mesti ada yang diperbarui, dikoreksi, tempurung dibuka agar dunia sebenarnya terlihat, ternyata kita hanya menghuni dunia yang kecil.

Sebagian lain tak sadar, malah menentang dengan keras, itulah FKP itu. Ada yang terang-terangan keluar, ada yang diam-diam bertahan, ikut, sampai ada kesempatan untuk membalikkan keadaan. Tempurung tak harus dibuka. Bukan tak ada perubahan, mereka juga intens beradaptasi.

Saat mereka berkuasa, maka ide, tradisi, nilai, dan narasi, lamalah yang mereka hidupkan. Para pembaharu dianggap aneh, sudah keluar tradisi, dan lain-lain. Padahal kalau tak ada mereka, mustahil PK yang berubah menjadi PKS yang tempurungnya telah dibuka itu, bisa tetap bertahan.

Termasuk, mempertahankan saat presiden partainya digelandang dari markasnya, malam-malam sebagai koruptor. Jadi, tak sekadar memperbarui, mengoreksi, membuka tempurung, juga bergelut, bertarung, terkena fitnah, luka-luka, dicurigai, dalam dunia yang sudah terbuka lebar itu.

Tak ada tujuan tercapai tanpa perjuangan, dan pengorbanan. Tak ada hujan emas. Tak ada baju bersih dalam pertarungan dunia becek yang kotor. Semua harus dibayar dan tunai. Tapi, saat peperangan usai, wajah-wajah buruk ini terlihat aneh. Merekalah yang kemudian disebut GARBI.

PK itu tempurung dengan ukuran satu persen, sedangkan PKS berhasil masuk tumpurung dengan ukuran tujuh persen. Saat di tempurung PK, terasa sangat besar. Masuk tempurung PKS, PK tak ada apa-apanya, karena sudah tujuh kali lipat. Tak mudah beradaptasi, tapi cukup berhasil.

Kurang lebih, GARBI ingin keluar dari tempurung tujuh persen itu menuju ke tempurung yang lebih besar, yakni tempurung Indonesia yang sebenarnya. Sedangkan PKS, cenderung balik ke tempurung satu persen dengan segala langkah-langkah politik yang dilalui sadar maupun tidak.

Hanya saja bedanya, saat PKS terbentuk, PK telah sirna secara institusi. Tapi saat GARBI atau entah apa namanya nanti terbentuk, PKS masih ada. PKS menganggap GARBI makar, ilegal, pembangkang, dan semacamnya. PKS merasa terganggu walau sadar maupun tidak, GARBI juga lahir karena ulah mereka. Ingin ke belakang dan lebih menggunakan kuasa daripada pengetahuan.

Wajar PKS merasa terganggu. Tapi harusnya, GARBI tak sedang mengganggu PKS. Bila GARBI hanya mengganggu PKS maka GARBI tak akan lebih baik daripada PKS. GARBI bukan lagi kelanjutan, melainkan sekadar pengulangan. GARBI sesuatu yang baru, dan akan lebih besar.

PKS terganggu, karena seperti PK akan tersedot dan perlahan hilang seperti FKP. Kecuali yang diam-diam mau bertahan dan memilih ikut dalam arus gelombang yang dibuat oleh GARBI.

Ketergangguan malah ketakutan PKS karena GARBI seperti bayang-bayang yang hendak membongkar semua kesalahan di masa lalu, yang selama ini tertutup. Takut akan bayang-bayang berarti takut akan diri sendiri. Takut akan diri sendiri berarti akan terus membayangi, bahkan saat tidur pun menghantui. Dan memang, GARBI itu baru sebentuk bayang-bayang yang belum nyata..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *