A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / GARBI INDONESIA / Bernarasi Tanpa Emosi

Bernarasi Tanpa Emosi

FB_IMG_1539162900721

Bernarasi Tanpa Emosi
By: Nandang Burhanudin

LIPUTANPOLITIK.COM
“Pukulan yg tak membunuhmu, menguatkanmu”. Demikian nasihat itu menutup perih luka yg menganga.

(2)
Ragam fitnah dan tuduhan keji, bertalu menambah pilu suasana ukhuwah yg kian membeku.

(3)
Lupa kaidah: Nahnu duaat walasnaa qudhaat. Nahnu Mukmin qabla kulli syai. Kam fiina laisa minna wakam minnaa laisa fiina.

(4)
Diksi yg terlontar bak peluru membunuh jiwa2 yg tak terbukti bersalah. Ada dhiror, munafik, pembangkang, jahiliyah, dll.

(5)
Kisah2 salaf ditampilkan sekedar mendempul aib. Salafus shalih yg tampil sebagai penyintas ruang-waktu, jadi spirit zaman di mana mereka tumbuh berkembang. Kini dihadirkan untuk menghukumi kawan yg tak lagi satu perjalanan.

(6)
Kegelisahan yg melintasi batas terjauh hidup, ditanggapi dengan sederet aksi, sekedar menunjukkan kejumawaan: Aku berkuasa.

(6)
Tidak ada evaluasi atas pemikiran yg di masa lalu menjadi engine bertahannya perjuangan dari kerapuhan. Tidak ada lagi kebijaksanaan yang menjadi obat bagi begitu banyak jiwa yang terkoyak—bahkan hingga kini.

(7)
Sejarah masa lalu, hanya jadi artefak belaka. Kehidupan emas Salafus Shalih tak berhasil digali. Sebab saat mengkaji disertai emosi untuk menghukumi.

(8)
Proses pembinaan terbukti gagal mempercantik jiwa manusia yg terdiri dari 1.350cc volume otak dan 100 juta sel saraf (neuron). Dibina puluhan tahun, sama sekali tak membuat bertambah pintar, cerdas, apalagi jenius.

(9)
Ironisnya tak mampu menemukan intu masalah, lalu mengeluarkan kebijakan yg memperuncing masalah.

(10)
Tak ada renungan: benarkah di zaman si fulan, roda organisasi harus berakhir seperti ini? Sebegitu sulitkah memahami kebaikan2 masa lalu?

(11)
Bila betul proses tarbiyah itu sesuai pedoman, kenapa umat bertarbiyyah tak jua selesai memahami jalan perjuangannya?

(12)
Mereka justru sibuk bertikai dan berbalahan tentang keyakinan yang jelas tak bisa dibenturkan. Wajah dunia Islam jadi buruk rupa dengan percekcokan mereka yang tiada sudah.

(13)
Dibutuhkan perangkat baru pemikiran dan kebijaksanan untuk menanggulangi masalah ini. Jika terus terabaikan, mari bersiap menghadapi keruntuhannya yang sudah mengintai di depan mata..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *