A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Fahri Hamzah / Fahri (1)

Fahri (1)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Saat temannya, Anis, tak lagi ditunjuk, ia sudah siap-siap. Beres-beres, apa yang mesti dibereskan. Istilahnya, siap-siap angkat koper. Ia tahu itu bukan soal penunjukan biasa. Itu penyingkiran dan itu sudah disiapkan sejak lama. Tapi, siapa yang percaya? Temannya saja tak percaya, apalagi ia? Ia tak kuasa. Ini lorong gelap nan panjang. Seperti tak akan pernah ada cahaya di ujung sana.

Lagian ini juga sudah lama. Belasan tahun atau mungkin lebih, berada di garis perlawanan. Saatnya beristirahat. Memikirkan dunia lain, pendidikan, sosial, atau kebudayaan, misalnya. Politik sebetulnya dunia yang kering, keras. Yang naik ke situ dipastikan, hari ke hari, akan kekurangan ilmu. Yang memang tak berilmu, akan memperburuk.

Saat baru akan keluar ruangan, ia mendengar hiruk-pikuk di ruangan sebelah. Bukan lagi ribut, tapi seperti suasana pesta pora. Asyik benar. Ia berusaha mencari tahu, pesta apa itu? Ia mendekat, konsentrasi, dan memasang pendengaran baik-baik. Belum sampai di ruangan itu, tiba-tiba seseorang keluar dan menutup kembali pintu rapat-rapat.

Ia sama-sama kaget. Ia kenal dengan orang itu dan langsung bertanya. “Ada apa?” “Asyik benar tampaknya.” Orang itu yang juga kaget, juga langsung bertanya agak membentak. “Ngapain kamu?” “Intip-intip acara orang.” Ia tak menjawab. Orang itu yang akhirnya menjawab lebih dulu.

“Sudahlah, kamu terima saja, kamu pergi saja sana.” Orang itu pergi dan tak menoleh lagi ke belakang. Datar, tapi terasa kecut. Sepertinya orang itu tak balik lagi. Entahlah.

Ia begong sendiri, tepat didekat pintu. Ia bertanya dalam hati, apa pesta pora ini ada kaitan dengan dirinya? Sekelebat, ia bisa melihat suasana dalam ruangan, saat orang tadi buru-buru menutup pintu. Terdengar suasana meriah, enjoy, dan orang-orang berpesta masih terlihat mengenakan jubah.

Sebetulnya, di ruangan itu tak perlu lagi jubah. Orang lain tak ada, tak melihat, hanya mereka saja. Jubah hanya diperlukan di luar. Tapi mungkin saking enjoynya, saking gembiranya, sampai lupa menaruh jubah. Tapi, itu lebih natural. Apa salahnya? Jubah bisa menutupi tubuh, perangai belum tentu.

Ia kembali ke ruangan. Koper-koper sudah siap, sebagian sedang dibereskan. Ia terduduk di sofa, terhenyak, termenung dalam. Orang disingkirkan, yang lain berpesta pora, ia malah siap-siap pergi. Lama juga ia termenung, lalu mengambil remote televisi, memencet, televisi langsung hidup. Gonta-ganti channel, ternyata ada berita tentang dirinya. Ia sudah sering masuk televisi. Itu bukan hal aneh. Ia publik figur juga.

Tapi berita ini agak aneh. Tiba-tiba, sudah beredar surat pemecatan terhadap dirinya. Ia mendengarkan baik-baik. Sampai berita itu selesai, ia masih terpana di depan televisi. Kali ini bukan lagi karena menonton, tapi berusaha merekat satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Ada apa ini?

“Oh, berarti, saya bukan pergi, tapi mundur atau diminta mundur, karena tak mau langsung dipecat.” Gumamnya dalam hati. Ceritanya jadi simpel. Orang-orang berpesta pora atas pemecatan dirinya. Tapi sayang, ia sendiri belum menerima surat pemecatan itu dan belum diberi tahu apa-apa. Tapi, itu mungkin sudah tak penting.

Koper-koper masih berserakan di ruangannya dan ia sudah tak ingin melanjutkan beres-beres lagi. Ia biarkan saja koper-koper itu tergeletak di ruangan. Handphone-nya berdering, ia langsung menjawab. Dari koleganya, ia mengajak ketemuan. Ia langsung mengiyakan dan pergi menemui koleganya itu. Kebetulan, memang tak jauh dari ruangannya. Masih di lingkungan itu dan tak lama mereka sudah bertemu.

Koleganya itu langsung menghempaskan sebuah surat berupa copian ke atas meja. “Nih, baca!” Kata koleganya itu, tanpa kata pengantar. Ia mengambil dan membaca surat berupa copian itu.

“Pantas, sudah heboh di televis. Saya juga baru tahu. Ternyata begini ceritanya.” Katanya, masih sambil memegang surat itu. “Baiklah, kalau ada informasi terbaru tolong kabari saya, “katanya kepada koleganya itu. Ia langsung pergi, setelah mengucapkan terima kasih, dan tak ada basa-basi. Koleganya juga tak menahan ia terlalu lama, karena tahu urusan itu harus segera diselesaikan.

Ia tak balik lagi ke ruangan. Koper-kopernya itu mungkin sudah dilupakan. Ia menelusuri jalan-jalan ibukota. Malam merangkak pelan, suasana ibukota tak berubah. Gemerlapan dan sibuk. Ia teringat saat baru datang ke ibukota. Harapan, cita-cita, tekad, semua terkumpul. Ia bersyukur, selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Tapi, ini akan menjadi awal dari hari yang tak mudah. Jalan baru. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *