Home / Fahri Hamzah / Fahri (2)

Fahri (2)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Mobilnya mengarah ke rumah Anis. Pulang senja, itu terasa kepagian. Pulang dini hari, itu baru sebenarnya pulang. Sejak dulu, ia biasa begitu. Itu pula yang kadang dipermasalahkan. Bukan cara nabi. Nabi habis Isya tidur. Dini hari bangun, langsung tahajud hingga subuh.

Tentu, ia juga ingin begitu. Tapi, apa bisa? Dunia justru diurus malam-malam. Pernah dengar istilah presiden siang dan presiden malam? Yang berkuasa justru presiden malam, bukan presiden siang. Entahlah, apakah kini, tidur habis Isya itu, masih dipermasalahkan? Dulu, seperti penting betul. Itulah bedanya kami dan ia. Seolah-olah tidur habis Isya itu kunci segala kunci.

Ia tahu, temannya, Anis, ada di rumah. Hari-hari itu, ia memang lebih sering di rumah. Ia tak perlu janjian, ia sudah hafal. Ia langsung masuk. Dan tak lama, ia sudah bertemu. Anis malah tak mempersilakan ia duduk. Anis mangajaknya jalan. Ngobrol di mobil, kadang lebih asyik. Sambil melihat suasana malam, tekanan permasalahan bisa lebih berkurang ketimbang di dalam ruangan. Ruangan terasa sumpek. Tapi, setiap orang punya caranya masing-masing.

Ia mulai pembicaraan. Anis hanya mendengarkan. Ia hanya melihat ke depan, kadang ke samping kiri, melihat suasana malam. Malam, sudah benar-benar larut. Ia selesai berbicara, Anis tak langsung menanggapi. Ia mengangguk-angguk saja beberapa kali. Anis berkata: “Ini sudah saya duga, ini tak akan berhenti, ini akan jauh dan meluas.” “Saya kasihan dengan orang yang tak tahu apa-apa, tapi terkena dampak, “lanjut Anis, khas orang Bone.

“Kini terserah kamu. Tapi saran saya, istikharahlah baik-baik, minta kemantapan hati. Jangan pernah personalisasi masalah. Jangan paksa orang memilih antara kamu, saya, atau siapa saja, dengan mereka. Ini bukan individu versus individu lainnya. Ini persoalan nilai, cita-cita, visi-misi, masa depan, atau jalan yang harus tempuh.” Kali ini, semakin jelas, tegas, dan beruntun.

Mobil sudah berhenti berada di tempat tadi mereka naik. Anis turun dan mengucapkan salam. “Sampai ketemu, “katanya lagi.

Hari sudah berganti. Ia tertidur karena capek. Rumahnya memang agak di pinggiran ibukota. Segala nasihat temannya tadi, dipegangnya baik-baik. Niat benar-benar harus dipasang, diluruskan, diperbaiki, sebelum segala sesuatunya dimulai, dijalani. Nasib orang siapa yang tahu? Ia yang dipecat, dizalimi, siapa tahu nanti, orang yang memecat itulah yang keluar. Dan seterusnya.

Besoknya, ia sudah dihadang awak media persis di pintu ruangannya. Ia ditanya perihal pemecatan itu. Ditanya perihal koper-koper yang sudah hendak diseret keluar. Sebagian masih berserakan. Kapan akan pergi? Awak media menyerbu, mengerumuni, seperti semut mengerumuni gula.

Di hadapan awak media, ia hanya bisa mengatakan akan menunggu surat pemecatan itu diterimanya, baru bisa bersikap, apa yang akan dilakukan. Kemudian, ia berlalu dan mohon izin masuk ke ruangan. Sementara dari pihak pemecat, seperti gayung bersambut, sudah menyerang dirinya seperti sebuah pengeroyokan yang timpang. Orang di atas angin, memang kerap begitu.

Dari rumah, ia dapat kabar akan datang seorang office boy mengantarkan surat. Ia harus buru-buru pulang ingin menerima surat pemecatan itu secara langsung. Selain surat itu penting, ia menganggap itu prosesi paling sakral dalam hidupnya. Akhirnya, ia dihargai hanya oleh seorang office boy. Ia sedih, mungkin juga marah, tapi mau apa lagi? Bak sepah yang dibuang, setelah manisnya dihisap. Kadang malah di balik, ia yang dituduh begitu. Tapi, office boy itu tentu tak tahu apa-apa. Ia hanya menjalankan tugas.

Ia membolak-balik, memukul-mukul surat itu ke tangan sebelah kirinya. Ternyata, yang dipersoalkan tak hanya sikapnya, juga gaya bicaranya. Padahal belum pernah diperingati, dan dengan gayanya itulah, ia berada di posisi saat ini. Ada yang dianggap lebih sopan, tapi tak menjadi apa-apa. Ia malah pemuncak di atas semua rekan-rekannya. Belum lagi, yang beredar di luar yang tak tertulis di surat ini. Pribadinya yang digerogoti seperti ulat menggerogoti pohon.

Akhirnya, istikharahnya semalam semakin kuat. Isi koper harus dikeluarkan kembali. Ia tak boleh pergi. Pergi berarti lari, mengalah berarti kalah. Ia belum saatnya untuk beristirahat. Ia harus melawan dan tetap berada di garis perlawanan. Malah menjadi double. Melawan ke dalam dan ke luar sekaligus. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *