Home / Anis matta / Fahri (3)

Fahri (3)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Ini hari pertama perlawanan. Ia sudah siap-siap. Surat pemecatan dipegangnya erat-erat. Hanya itu pegangannya. Permintaan mundur, sebab temannya tak ditunjuk, disingkirkan, suasana pesta pora yang terdengar, sulit dijadikan pegangannya. Itu ruang yang mustahil dipercayai siapa pun di dalam, walau itu nyata senyata nyatanya nyata. Benar-benar, sebuah pendakian kebenaran.

Sebetulnya, biasa saja diminta mundur atau pergi, pergi atau diminta mundur. Ditunjuk atau tak ditunjuk, bahkan dipecat atau dipromosikan, dalam partai. Pindah partai pun, gonta-ganti setiap pemilu, bukanlah aib. Ia memahami dan sangat maklum. Ia bukan orang yang gila jabatan. Buktinya, sudah siap-siap angkat koper. Tapi karena terasa semakin aneh, ia harus melawan arus.

Ia sudah siap dengan konferensi pers. Awak media juga sudah menunggu. Ia berusaha santai, tapi tetap tak bisa menyembunyikan ketegangannya. Di media sosial, apalagi di ruang-ruang tertutup, ia sudah tamat. Yang dulunya memuji, kini mencaci. Yang kenal, pura-pura tak kenal. Yang sudah tak suka, ada juga menunjukkan empati, tapi hatinya gembira. Ada yang tiba-tiba, jijik saja kepadanya. Mengubah pembangkang menjadi pembebas itu, memang tak mudah.

Tapi, harus dimulai. Seribu langkah, tetap harus dimulai dari langkah pertama. “Ini peradilan sesat!” Ia mulai dengan ekspresi wajah serius. “Penyidik, jaksa, hakim, adalah orang yang sama, “lanjutnya sambil menunjukkan bukti surat kepada awak media. Tak ada cara lain, “saya harus membawa ini ke ranah hukum!” Ia menutup konferensi pers dengan pesan jelas kepada para pecat, yang sepertinya juga sudah siap-siap, tanpa menunjukkan rasa khawatir sedikitpun.

“Kami sudah biasa menghadapi ini dan kami selalu menang!” Kata pihak sebelah sebagai balasan dari konferensi persnya itu. Sementara, ia selalu diserang di ruang-ruang terbuka secara bergelombang. Dari orang yang tak tahu apa-apa, sampai orang yang benar-benar ditugaskan untuk itu. Ini memang hari-hari yang berat. Seolah-orang jarum jam berhenti atau bergerak sangat lambat. Hanya orang yang sudah memiliki kemantapan hati luar biasa yang bisa melaluinya. Dan ia sepertinya sudah memiliki itu. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *