A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Fahri Hamzah / Fahri (4)

Fahri (4)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Ia tak mungkin hanya melawan lewat proses hukum. Proses hukum itu terlalu lama. Ada banding, kasasi, malah PK bisa berkali-kali. Walau PK memang tak menghambat eksekusi. Tapi tetap sangat lama. Bisa-bisa, sampai lebaran kuda pun tak selesai-selesai. Tapi mau apa lagi? Itu harus dijalani, karena tak ada jalan lain. Ia tak memiliki lagi orang dalam. Semua terasa jauh dan asing. Kalau ingin masuk, harus ulang dari awal. Berarti jejaknya benar-benar sudah dibersihkan. Satu-satunya, temannya, Taufik, mengundurkan diri, karena tak kuat. Dan tak lama setelah itu, ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Semua begitu cepat. Tapi tetap ia tak bisa menempuh satu jalan.

Ia harus mulai menggalang (kekuatan), gerakan dari bawah. Ia mantan aktivis mahasiswa. Namanya satu dari sekian banyak, nama yang harum tahun 98. Ia alumni dari satu organ gerakan mahasiswa ekstra-kampus, yang cukup ternama saat itu. Ia pernah akan didaulat untuk jadi ketua alumni, tapi menghindar. Ia memilih regenerasi secepat mungkin. Ia ingin fokus kepada hal yang lebih besar. Negara, misalnya. Tapi di situ pula kakinya ditarik dari belakang. Ia dipecat tiba-tiba karena agenda pembersihan yang harus tuntas. Mau tak mau, ia kembali pada habibatnya sebagai organ gerakan. Ia menerima sebagai ketua alumni. Kali ini, tak lagi bulat. Alumni itupun terbelah.

Ini bukti keras bahwa ia memang tak punya agenda aneh-aneh di dalam sejak awal. Persis saat ia hendak angkat koper, saat temannya Anis tak lagi ditunjuk. Tapi semua berubah setelah ia timbang-timbang, diskusikan, minta petunjuk, lewat shalat istikharah. Ada kezaliman yang nyata. Ia tak boleh pergi. Ia harus bertahan dan melawan. Lewat proses hukum juga lewat gerakan dari bawah. Makanya ia kembali pada organ gerakan yang ada, yakni gerakan para alumni aktivis mahasiswa. Belakangan muncul tuduhan bahwa justru dialah yang dianggap telah merencanakan semuanya dari sejak awal. Inilah pemutar-balikan fakta yang sangat terang. Yang berbuat malah menuduh orang lain yang berbuat.

Pola ini terus berlangsung hingga kini. Tapi, fakta tak bisa dikangkangi. Organ alumni itu terbelah dua antara yang pro dan kontra. Bukan pro terhadap dirinya, dan kontra terhadap dirinya. Melainkan pro terhadap dirinya dan pro terhadap para pihak si pemecat. Sebab ia pernah didaulat bersama-sama untuk menjadi ketua alumni, tapi menghindar, karena ingin fokus kepada hal yang lebih besar. Tapi setelah ia dipecat, alumni terbelah karena pro terhadap dirinya dan pro terhadap si pemecat. Aneh juga. Tapi memang ini sejak awal adalah cerita aneh dari orang-orang aneh dan bangga dengan keanehan itu. Mereka saja yang berjuang, orang lain tidak. Itulah, hebatnya jubah.

Ia mulai menunjukkan siapa dirinya. Ia pelan-pelan membuat arus sendiri. Ia halau semua suara-suara yang menginginkannya diganti, dipecat, tak tahu diri, kacang lupa kulit, dan lain-lain, di mana-mana. Di forum formal, maupun informal. Di media konvensional, dunia maya, maupun dunia nyata. Di ruang-ruang tertutup, maupun terbuka. Menggalang counter opini atas opini yang sudah beredar, disebar jejaring yang terstruktur dan cukup rapi. Ia mulai datang ke daerah-daerah hampir setiap pekan. Ia beri pencerahan ke dalam, internal dan ke luar, eksternal. Peran apa yang bisa dimainkan. Pada akhirnya memang, ini tak melulu soal dirinya semata. Ini soal yang lebih besar. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *