Home / GARBI INDONESIA / Garbi, dari Pemikiran ke Parpol

Garbi, dari Pemikiran ke Parpol

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Garbi, Insya Allah akan dideklarasikan menjadi parpol. Itu kata Fahri Hamzah dalam forum ILC (Indonesia Lawyers Club). Sebelumnya, juga sudah sering disebut-sebut. Tapi, tak ada yang seterang-benderang itu. Apalagi, itu forum ILC. Selain ratingnya tinggi, disimak terutama dari kalangan menengah atas, juga setelah acara itu video Youtube-nya paling banyak beredar dan dicari, bahkan ditonton ulang.

Fahri Hamzah sering disebut sebagai penggagas Garbi (Gerakan Arah Baru Indonesia). Satu orang lagi atau mungkin dua orang, yang juga sering disebut sebagai penggagas Garbi, yakni Anis Matta dan Mahfudz Siddiq. Ini malah biangnya. Tak ada yang membantah, tapi keduanya lebih sering mengatakan sebarkan ide dulu, nanti lihat respon dari masyarakat. Saat Fahri Hamzah lantang mengatakan Garbi akan menjadi parpol, barangkali itu sudah saatnya.

Garbi atau awalnya #ABI (Arah Baru Indonesia) adalah sebuah gagasan yang padat. Tidak tebal, tapi berisi. Banyak fase-fase yang dilompati, tapi memang harus dilompati karena terlalu banyak waktu terbuang. Berleha-leha dalam satu episode sejarah, tanpa tonggak perubahan yang penting dan mendasar. Tapi bagi yang menganggap situasi sudah berjalan baik, benar, tepat, beginilah seharusnya, maka gagasan #ABI atau Garbi memang tidak diperlukan lagi, mengada-ada, atau hanyalah mimpi-mimpi indah belaka. Itu orang yang mentok, pribadi tempurung.

Tapi, belum selesai gagasannya dielaborasi, dikaji dan dipahami secara mendalam, disosialisasikan secara merata, gerakan #ABI atau Garbi sudah berubah menjadi gerakan politik, menjadi parpol. Artinya, gerakan sosial atau gerakan pemikirannya belum terlalu membumi, baru sebatas slogan-slogan; menjadi 5 besar kekuatan dunia; langit terlalu tinggi tapi terbang terlalu rendah, belum sampai pada isi atau inti, apalagi intinya inti dari gagasan, tiba-tiba sudah berubah menjadi gerakan politik (parpol) yang syarat kegaduhan dan kepalsuan ketimbang keheningan berpikir dan keaslian.

Tapi memang, Anis Matta, Mahfudz Siddiq, dan Fahri Hamzah, adalah orang yang percaya atau meyakini bahwa politik adalah industri pemikiran, bukan semata-mata kekuasaan (an sich) yang pragmatis bagi individu dan kelompok semata. Jadi wajar. Orang-orang yang datang atau masuk ke dalam dunia politik dengan bekal pemikiran kuat dan mendalam. Itu satu tarikan nafas saja. Tidak hanya datang dengan kepala kosong atau otak kosong, dan nafsu kekuasaan yang telanjang bulat, ataupun terbungkus rapi oleh hal-hal yang bersifat moralis dan agamis, tapi hanya kedok tanpa kepahaman.

Dan juga, awalnya, gagasan #ABI atau Garbi berangkat dari isu-isu politik dengan menggunakan pendekatan sejarah politik guna memenuhi syarat visi-misi seorang pemimpin tentang Indonesia masa depan. Sebab, krisis narasi atau krisis pemikiran, juga dibarengi dengan krisis kepemimpinan itu sendiri. Seperti ayam dan telur, entah mana yang dahulu pula. Bisa jadi, keduanya sekaligus. Karena itu, tidak perlu terlalu rigid dan kaku, gerakan pemikirannya dahulu, baru gerakan politik. Keduanya bisa seiring sejalan.

Sebagai gerakan pemikiran (ormas) maupun gerakan politik (parpol), Garbi atau Partai Garbi atau apa pun namanya nanti, akan diuji. Apakah akan diikuti, punya pendukung, atau malah tak diikuti, sedikit pendukung, lalu hilang sama sekali? Betapa banyak pemikiran-pemikiran yang tak diikuti, kemudian mati, dan tumbuh pemikiran-pemikiran baru yang lebih orisinal dan mendasar. Seperti juga parpol, yang sejak reformasi, bahkan pemilu lalu, datang dan pergi tanpa permisi, lalu mati. Garbi juga akan menjawab sendiri di kemudian hari. AJM/RedLP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *