A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Garbi, Dhirar kah ?

Garbi, Dhirar kah ?

FB_IMG_1538990612712

*GARBI, DHIRAR-KAH?*

Oleh Ayik Heriansyah

LIPUTANPOLITIK.COM
Silent conflict elit PKS dalam waktu dekat akan berakhir. Dengan deklarasi Garbi di beberapa daerah menuju deklarasi akbar Garbi nasional. Makin jelas siapa saja Osan dan Osin. Deklarasi Garbi nasional mempertegas pemisahan Osan dan Osin. Mudah-mudahan jadi klimaks perseteruan senyap sesama kader PKS ini.

Dalam perjalanan menuju klimaks, suasana emosional kedua belah pihak tak bisa dihindari. Apalagi kultur PKS yang tidak biasa dan belum bisa berbeda di dalam, membuat Osan dan Osin harus menahan nafas panjang sambil memantau perkembangan aktivitas pihak lawan.

Sangat disayangkan dalam suasana batin penuh emosi ada pihak yang menggunakan agama untuk mendeskreditkan kubu lawan. Perseteruan model Osan vs Osin bukan hal baru sepanjang sejarah umat Islam. Sudah ribuan kasus perselisihan sesama muslim yang terjadi sebelum konflik di tubuh PKS ini. Jadi sebenarnya santai saja, tidak perlu bawa-bawa agama. Ini konflik manusiawi. Cukup diselesaikan dengan akal sehat dan hati nurani. Rasanya belum perlu bawa-bawa ayat al-Qur’an. Toh ini bukan perang antara kaum muslim dengan orang-orang kafir.

Ayat al-Qur’an memang alat yang paling efektif untuk melegitimasi kubu sendiri dan mendeskriditkan pihak lawan. Sangat disesalkan beredar fatwa yang menuding Garbi sebagai tanzhim dhirar. Dengan mengqiyaskan Garbi dengan masjid dhirar berdasarkan surat at-Taubah: 107.

Sang mufti ditengarai pendukung salah satu kubu. Dia tidak netral. Terasa ada emosi di balik fatwanya. Dia berpihak. Sehingga bias dalam qiyas tak bisa dihindari. Bukankah seorang hakim dilarang membuat keputusan ketika sedang emosi?!

Qiyas metode ijtihad/istinbath hukum syara’ yang legal. Ijtihad merupakan kegiatan ilmiah untuk menemukan berdasarkan hukum syara’ atas perkara baru yang belum ada hukumnya di al-Qur’an dan hadits. Ijtihad berdasarkan al-Qur’an dan hadits. Hasil ijtihad berupa dugaan kuat (ghalabatu dzan) tentang hukum Allah Swt atas suatu hal. Hasil ijtihad tidak qath’i. Bisa benar, bisa juga keliru. Tapi bisa diamalkan.

Larangan Shalat di Masjid Dhirar

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ
إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadharatan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah,”kami tidak menghendaki selain kebaikan.”Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).[at-Taubah/9:107]

Ibnu Mardawaih rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Ishâq rahimahullah yang berkata, “Ibnu Syihâb az-Zuhri menyebutkan dari Ibnu Akîmah al-Laitsi dari anak saudara Abi Rahmi al-Ghifâri Radhiyallahu ‘anhu. Dia mendengar Abi Rahmi al-Ghifâri Radhiyallahu ‘anhu – dia termasuk yang ikut baiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Hudaibiyah – berkata, “Telah datang orang-orang yang membangun masjid dhirâr kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,pada saat beliau bersiap-siap akan berangkat ke Tabuk. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami telah membangun masjid buat orang-orang yang sakit maupun yang mempunyai keperluan pada malam yang sangat dingin dan hujan. Kami senang jika engkau mendatangi kami dan shalat di masjid tersebut.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Aku sekarang mau berangkat bepergian, insya Allah Azza wa Jalla setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan shalat di masjid kalian.” Kemudian dalam perjalanan pulang dari Tabuk, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di Dzu Awan (jaraknya ke Madinah sekitar setengah hari perjalanan). Pada waktu itulah Allah Azza wa Jalla memberi kabar kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masjid tersebut (dan larangan shalat di dalamnya) dengan menurunkan ayat ini. (Aisarut-Tafâsir, Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri, Maktabah Ulum Walhikam, Madinah. Cetakan kelima th.1424 H/2003M).

FB_IMG_1539014833981

Rasulullah Saw awalnya tidak tahu kalau masjid itu masjid Dhirar. Ia Saw husnudzan. Berdasarkan fakta yang diketahuinya tidak ada masalah dengan masjid tersebut. Ia Saw menerima undangan untuk shalat di masjid tersebut. Insya Allah setelah pulang dari perang Tabuk.

Allah Swt mengetahui motif sebenarnya dari pendirian masjid Dhirar yang tidak diketahui oleh Nabi Saw. Allah Swt yang menetapkan dan menghukumi masjid itu, masjid Dhirar dan memerintahkan Nabi Saw membatalkan janjinya untuk shalat di situ.

Motivasi pendirian masjid Dhirar:
1. Untuk menimbulkan kerusakan.
2. Untuk kekafiran.
3. Untuk memecah belah kaum mukmin.

Apakah Garbi didirikan oleh orang kafir yang pura-pura masuk Islam (munafiq) untuk menimbulkan kerusakan, kekafiran dan memecah belah kaum mukmin?!

Jika mengikuti Nabi Saw, seharusnya Sang Mufti husnudzan dulu kepada Garbi berdasarkan fakta yang diketahuinya. Jika ada ketidakjelasan, bisa tabayyun. Atau Sang Mufti menunggu wahyu dari Allah Swt sebelum memvonis motivasi pendiri Garbi.

Menghukumi Garbi sebagai tanzhim dhirar berdasarkan qiyas dengan masjid dhirar, sangat keliru karena illat motivasi pendirian Garbi berbeda dengan motivasi pendirian masjid dhirar.

Tujuan taktis Garbi untuk mewadahi kader-kader PKS yang merasa tidak nyaman dan tidak sehaluan lagi. PKS jamaah minal muslimin. Hukum bergabung dengan PKS, mubah bukan fardlu. Keluar dari PKS juga mubah, bukan haram. Demikian juga halnya dengan hukum masuk dan keluar dari Garbi. Tujuan ideal Garbi mulia. Tidak tidak ada yang menyalahi hukum syara.

Jadi “men-dhirar-kan Garbi sangat tendensius. Bias dalam qiyas yang dilakukan Sang Mufti mengubah ijtihad dari aktivitas ilmiah menjadi propaganda politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *