A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Politik / Jalan pedang Samurai Anis Matta

Jalan pedang Samurai Anis Matta

IMG-20180203-WA0040

 

 

 

 

 

 

 

LIPUTANPOLITIK.COM
*Jalan Samurai Anis Matta*

_“Beberapa orang dapat mendengar dengan jelas bisikan lirih dari dalam hatinya, dan mereka mengikutinya. Sebagian dari mereka berakhir sebagai orang gila, dan sebagian yang lain menjadi legenda”. (Legend of the Falls)_

Prilaku mereka yang dianggap legenda, nyaris tak berbeda dengan mereka yang dianggap gila, kurang lebihnya begitu menyimpulkan quotes yang saya ambil dari film Legend Of the Falls. Mungkin karena mereka sering berbicara dan bertindak dengan bahasa yang sulit dicerna.

Anis Matta salah satunya. Saya termasuk yang sempat menyaksikan transformasinya dari sekedar ustadz yang mengisi ceramah, sampai menjadi Presiden PKS yang ke-5. Saat ini Anis Matta sedang melakukan langkah besar politiknya, yang kelak bisa membuat namanya dikenal sebagai legenda atau orang gila. Kontroversi merebak, sebagian kalangan mempertanyakan motifnya, apa kaitan direleasenya nama 9 Capres PKS kepada public dengan perubahan dinamika di internal PKS? Bagi kita layak pula dipertanyakan, apa relevansi munculnya spanduk Baliho dan masivenya narasi tentang dirinya? Pelajaran apa yang bisa kita ambil?

IMG-20180201-WA0060


Ada gejala yang cukup jelas, bahwa Anis Matta tengah meluaskan makna “Perubahan”. Dengan tagline kampanye ARAH BARU INDONESIA, Anis seperti mengajak semua orang untuk berdiri bersama dibelakangnya, sebagi simbol kemajuan untuk perubahan yang lebih baik, bukan hanya bagi Jamaah PKS tapi juga bagi Indonesia.
Arah baru Indonesia meresonansikan gagasan lamanya yang bisa kita jumpai dalam buku-buku yang ditulisnya. Menekankan pentingnya memahami format masa depan dan kesiapan mengambil bagian. Dalam buku Gelombang Ketiga Indonesia, Anis Matta membuat periodesasi sejarah Indonesia dalam tiga tahap. Gelombang Pertama ia sebut sebagai “Menjadi Indonesia”. Gelombang Kedua, sebuah transisi, yang ia sebut “Menjadi Negara-Bangsa Modern”. Gelombang Ketiga ia katakan sebagai ekuilibrium baru di tengah kehidupan modern.

Anis Matta viral di sosial media

Kecemerlangan Anis Matta mengingatkan saya kepada Yukio Mishima (bukan nama sebenarnya), seorang penulis sekaligus penyair, dramawan, aktor, dan sutradara yang tiga kali dinominasikan sebagai penerima Nobel Kesusastreraan. Karya-karyanya tergolong revolusioner, memadukan unsur estetika modern dan tradisional yang melampaui batas-batas budaya. Ide dan imajinasi Yukio dalam tulisan-tulisannya mengenai Jepang sangat luar biasa, melewati imajinasi jamannya, dia dipuja karena berani menyuarakan perubahan.

Tahun 1970, Yukio Mishima ditemani Tatenokai (organisasi tentara swasta yang dibentuk dan dipimpinnya) mengakhiri hidupnya dengan ritual Seppuku (Merobek perut/bunuh diri), setelah sebelumnya masuk ke Pangkalan Ichigaya, Markas Besar Japan’s Self-Defence Force atau pasukan beladiri Jepang dan menyandera sang komandan. Yukio Mishima berpidato mengenai keharusan mengembalikan kejayaan Jepang, dan tidak takluk kepada segala upaya melemahkannya, diantara yang dia sampaikan manifesto yang meniru para pelaku kudeta militer tahun 1930:
_“Marilah kita kembalikan Jepang ke bentuk murninya dan biarkan kami mati. Apakah kalian akan menghargai hidup dan membiarkan semangat kebangsaan mati? Kami akan menunjukkan suatu nilai tinggi yang jauh lebih mulia ketimbang penghormatan pada kehidupan. Bukan kebebasan. Bukan demokrasi. Hanya Nippon, Nippon, tanah air sejarah dan tradisi. Jepang yang kita cintai.”_

Saya tak ingin Anis berakhir seperti Yukio Mishima. Dia adalah asset bagi PKS dan Indonesia. Kemiripan Anis dan Yukio adalah keberaniannya menyuarakan apa yang dianggapnya benar. Hanya saja Anis tidak pernah benar-benar menyuarakannya sendiri. Anis masih malu-malu memilih jalur sosialisasi. Mungkin ini yang sering membuat Anis tidak utuh dipahami mereka yang masih ragu.

Kehadiran Anis Matta kadung dianggap sebagai upaya mengambil alih “kekuasaan” dalam tubuh PKS. Ada yang salah dalam pola komunikasi tim kampanyenya. Anis bisa tampil jauh lebih elegan seandainya sejak awal dia tidak dibenturkan. Memang tidak semua yang setuju dengan ide Anis Matta adalah mereka yang pro kepada “gerakannya”. Namun ada juga fenomena unik, dimana seorang ikhwan mengatakan kepada saya, bahwa dia memilih pro kepada gerakan Anis Matta karena muak dengan prilaku para pengurus DPD di daerahnya. Dimana prilaku para pengurus DPD tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai perpanjangan tangan DPP dan terkesan sekedar asal bapak senang (ABS). Alih-alih sebagai mediator, DPD cenderung menjadi eksekutor. Dimana terkadang keputusan yang dihasilkan lebih mencerminkan isi kepala pengurusnya.

Anis Matta adalah contoh ide besar yang tidak didukung strategi brilian. Anis terjebak situasi diantara narasi perubahan yang diperjuangkan dengan tekanan yang akan membuatnya “mati”sebelum beraksi. Anis harus tampil menjadi perekat dan bukan menyekat antara mereka yang pro dirinya dengan mereka yang pro kepada jamaah. Kemenangan yang sekalipun nantinya dia peroleh dalam kontestasi antar bacapres, tetap tidak bisa mengabaikan peran mereka yang pernah berseberangan dengannya. Anis butuh suara dan dukungan mereka.

Namun membaca strategi kampanye timses Anis yang cenderung mengambil pendekatan konfrontatif, dengan memaksakan menjual dirinya ketimbang idenya, saya agak pesimis, Anis bakal mampu tampil menjadi perekat dan akan dikenal sebagai legenda. Akan muncul dampak besar yang bukan hanya membuat Anis bisa bernasib seperti Yukio Mishima tapi juga bagi PKS yang telah membesarkannya. Anis harus membuktikan bahwa dirinya yang terlanjur di simbolisasikan dengan karakter kepemimpinan yang memikat, bukan hanya sekedar “citra”, tapi juga “identitas” dan “integritas” yang terjaga. Ia selayaknya melawan setiap upaya mitologisasi atau peraksasaan dirinya dari pendukungnya.

Sejarah Reformasi membuktikan, bahwa sosok mitologis akan mengakhiri karir politiknya secara tragis. Sejarah pendek bangsa ini mengajarkan bahwa politik pencitraan tak bakal melahirkan relasi kuat politisi dengan konstituen, hanya sanggup memancing sorak sorai satu atau dua musim kampanye. Akhirnya kita akan melihat akhir dari jalan yang ditempuh oleh Anis Matta, apakah dia menempuh jalan samurai yaitu jalannya para pejuang atau cuma jalan para pecundang.

14 Februari 2018

Abu Mu’adz AlFatih
Dreamteam Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *