Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (1)

Kepemimpinan Anis Matta (1)

FB_IMG_1540090382383

Kepemimpinan Anis Matta (1)
Oleh: Erizal

LIPUTANPOLITIK.COM
Kepemimpinan Anis Matta yang dimaksud adalah bagaimana ia membuat kebijakan. Jika ia seorang orator, pemikir, penulis, termasuk administrator, mungkin sudah sering didengar. Dan buktinya juga mudah didapat. Tapi bagaimana ia membuat kebijakan, ini agak jarang diceritakan. Padahal di situ hakikat seorang pemimpin. Bagaimana membuat kebijakan dalam situasi apa pun.

Tapi jangan buru-buru bilang saya orang dekat Anis Matta. Jika ada istilah lingkaran satu, lingkaran dua, maka saya hanya berada di lingkaran empat, atau malah lima dan seterusnya. Tapi, sungguh-sungguh saya ingin bilang bahwa sedikit banyaknya, saya tahu bagaimana seorang Anis Matta membuat kebijakan. Artinya, dari tempat saya berdiri proses olahannya masih terlihat jelas.

Saya kenal Anis Matta tak lama usai dinonaktifkan dari struktur, termasuk dari unit pembinaan kader (UPK) tiap pekan dan segala macam terkait dengan DPW PKS Sumbar. Kesalahan saya hanya satu. Yakni, menulis di koran! Apalagi, kalau bukan soal Fahri Hamzah. Tulisan saya, tidak sebagaimana dikehendaki struktur. Sudah diperingatkan tapi tak berhenti. Saya disidang di markas DPW PKS Sumbar, tapi tepatnya bukan disidang, yakni mendengarkan keputusan penonaktifan tanpa bisa membantahnya.

Anis Matta ingin tahu kronologi penonaktifan saya. Bagaimanapun, saya anggota dewasa di PKS. Hanya satu level di bawah Fahri Hamzah. Tapi soal kapasitas, tentu jauh. Saat itu, penonaktifan saya sudah tersebar luas di kalangan kader. Malah, non-kader inti pun mengetahui dan banyak bertanya pada saya tentang kebenaran penonaktifan itu. Terlalu cepat penyebaran itu. Kepada Anis Matta saya ceritakan soal kronologi penonaktifan apa adanya. Saat itu bulan Ramadan 2016, usai melakukan shalat tarawih.

Anis Matta tak menanggapi langsung kejadian saya itu. Ia malah menganjurkan saya agar menemui saja pimpinan PKS di Wilayah, sesuai keputusan penonaktifan saya. Tapi saat itu, saya mengatakan tak akan menemui pimpinan, kecuali dipanggil. Itu sudah saya katakan kepada pembina UPK saya. Saya tak akan datang seperti pesakitan. Anis Matta tak menanggapi dan bercerita soal lain.

Ini harus digarisbawahi terlebih dulu agar tak muncul tuduhan Anis Matta memprovokasi saya. Itu sikap saya pribadi yang sudah yang ambil lebih dulu. Nanti akan muncul tentang dauroh-dauroh, Anis Matta bikin pasukan, dan lain-lain. Itu tidak benar. Setelah Anis Matta tak ditunjuk sebagai Presiden Partai, rezim baru bermanuver, Fahri Hamzah dipecat, Sekjen mundur, dan lain-lain, situasinya sama sekali baru. Malah Anis Matta dikesankan menyetujui semua kebijakan itu.

FB_IMG_1550785745207

Nah, saat itulah saya mengetahui bagaimana Anis Matta membuat kebijakan atas masalah yang dihadapi internal, termasuk situasi eksternal yang tak kalah sulitnya waktu itu. Pilkada DKI, misalnya. Gelombang aksi umat Islam yang tak berhenti, bahkan sampai sekarang. Situasi global yang juga dicermati, semua diolah Anis Matta menjadi satu kebijakan yang utuh, rinci, dan solid.

Karena itu barangkali kebijakan PKS di masa lalu kerap berada pada situasi yang pas dan bagus ketimbang kebijakan PKS di masa kini. Anehnya saat itu, di dalam ia terus diserang terutama citra mewah, sementara kebijakan yang dibuatnya bagus dan menguntungkan. Saat ini, kebijakan dibuat kurang pas dan kurang menguntungkan, tapi di dalam, pimpinan selalu dipuji dan didukung sebagai prestasi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *