Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (12)

Kepemimpinan Anis Matta (12)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com, – Nasional. Ada yang mengatakan bahwa tidak pernahnya Anis Matta dan Fahri Hamzah melihat LHI ke LP Sukamiskin adalah bukti ia yang membuat skenario pemenjaraan. Fahri Hamzah datang ke LP Sukamiskin hanya tugas dinas. Malah saya dengar juga, Fahri Hamzah keras-keras pada KPK hanya strategi agar hukuman LHI makin berat. “Ana uhibbuka fillah” ala Anis Matta hanya kilah.

Apa itu masuk akal? Itu gila. Faktanya, itulah yang beredar. Apa orang dibegitukan masih mau menjenguk? Malah, proposal hembusan bahwa Anis Matta di balik pemenjaraan LHI, sudah beredar saat ia masih bekerja menyelamatkan partai. Apa itu tak jahat? Sangat. Tapi, ia terus saja menyelesaikan tugasnya. Selesai. Ia tak dipakai, ia turun, apa lagi? Tapi Anis Matta tak sendirian.

Ia memiliki orang-orang di sekelilingnya. Baik saat memiliki posisi maupun tidak. Orang-orang ini punya kemampuan yang beraneka ragam, multitipe, multitalenta, dan lain-lain. Karena itu kebijakan yang dibuat relatif pas dan bagus. Dikaji dari berbagai sudut pandang, menutup celah-celah yang mungkin ada. Selain tentu, kemampuan ia sendiri bisa meracik semuanya secara pas dan tepat.

Entahlah PKS saat ini? Sesiapa di sekeliling pemimpin? Kemampuannya beraneka ragam atau hanya seragam? Yang jelas, bukan orang yang sama. Satu-dua, mungkin ada. Yang lari, saat Anis Matta tak lagi berada di struktur. Nama Aboe Bakar Al-Habsyi bisa disebut. Sohib yang tak lagi seiring. Menarik juga mendengar versinya mungkin, tapi biasanya normatif saja soal jamaah. Seturut juga dengan arah kebijakan pimpinan saat ini? Mungkin tidak. Tapi belakangan ikut juga.

Kebanyakan mereka yang di dalam struktur sekarang, dulu di luar, mengkritik Anis Matta cs tanpa basa-basi. Apa yang tak pantas disebut, mungkin disebut. Mengkritik melalui media pun juga dilakukan. Tapi cara mereka menyikapi putusan pengadilan di dalam, terutama setelah kalah menghadapi Fahri Hamzah, sungguh mengerikan. Rada-rada, bukan parpol. Entah, gejala apa itu?

Memang hampir mustahil, pemimpin fenomenal lahir sendirian. Ia pasti dikelilingi orang-orang yang juga fenomenal. Seperti pencetak gol dalam sepak bola, yang mustahil mencetak gol ke gawang lawan sendirian. Tapi bukan mustahil pemimpin gagal, walau dikelilingi orang-orang fenomenal karena tak bisa meraciknya. Apalagi merasa hebat saja tak mau mendengar orang lain.

Bila orang-orang sekeliling Anis Matta hanya setipe Fahri Hamzah, tak terbayangkan apa yang dihasilkan? Bukan setipe Fahri Hamzah tak baik, tapi pasti akan terasa monoton. Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan pun bisa ditebak. Tapi ada juga orang seperti Musyafa Ahmad Rahim dan Ahmad Zainuddin. Orang yang berhati-hati, menjaga diri, pemalu, tertawa pun mungkin sulit.

Rofi’ Munawar, Mahfudz Siddiq, Muzdofar, Syahfan Badri S, Buya Irel, untuk menyebut beberapa nama lain. Dugaan saya, bahkan orang seperti Buya Irel punya kemampuan lain. Selain lobi, negosiasi, “rajo abok” karena ia orang Minang, juga membaca apa-apa yang tersirat. Ia bisa membaca air muka orang, ini jujur, ini pembohong. Anis Matta juga sering diingatkan “ini orang sedang membohongi antum.” Ia tak percaya, nyatanya benar. Walaupun orang itu berjubah lebar.

Sebetulnya, fitnah-fitnah dunia yang ditujukan kepada Anis Matta dan kawan-kawan, dari sisi ini, terbantahkan dengan sendirinya. Karena, kalau fitnah-fitnah ini benar, maka orang-orang itu akan terlebih dulu hengkang dari Anis Matta. Tak akan lamalah, mereka bertahan. Tapi, kalau akhirnya mereka juga kena fitnah, bisa dipastikan ini gerakan dari dalam, dan diolah oleh orang dalam.

Mereka paling tahu, bahwa Anis Matta bergerak berdasarkan cita-cita besar gerakan yang hendak dicapai. Ia tak pernah lari dari itu. Ia tak pernah membangun kerajaan pribadi, tak pernah mempersonalisasi masalah. Sekali lagi, kalau itu tercium, maka orang-orang ini sejak lama pergi dari Anis Matta. Baik saat memegang posisi maupun tidak seperti sekarang. Itu fakta yang nyata.

Kata orang kampung saya, “bersuluh matahari bergelanggang di mata orang banyak”. Tak ada lagi yang harus diragukan. Semua terang-benderang. Tapi, masih kata orang kampung saya, “mato, mato lauk kariang”. Melihat ada, malah terbelalak lebar di depan mata, tapi tak sedikitpun melihat. Lebih yakin dari apa yang didengar, daripada apa yang dilihat. Melihat pun kadang ogah. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *