Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (13)

Kepemimpinan Anis Matta (13)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com, – Nasional. Beberapa kali saya lihat, sosok Anis Matta yang progresif, yang sering digambarkan, tak terlihat. Kadang malah, ia terlihat konservatif, njlimet, dan berhati-hati. Bukan peragu, kira-kira di atas itu sedikit, dan memang beda. Dalam hati saya ada kalanya bertanya, “ini apa sebenarnya yang dipikirkan dan ditimbang-timbang?” Ini muncul saat tak jelas arahnya hendak mau ke mana.

Kadang ia terjepit di antara Fahri Hamzah yang ingin merangsek lebih jauh dan yang lain, yang ingin tetap bertahan tak bergeming. Tapi, Anis Matta tak keduanya, ia tetap merangsek, tapi tak seperti Fahri Hamzah, dan juga tak bertahan seperti yang lain. Ia dapat informasi banyak, tapi informasi tak membingungkannya. Ia jalin informasi itu sebaik mungkin hingga keluar peta jalan.

Kadang ia membuat perumpamaan pertandingan silat. Langkah dihitung betul sekecil apa pun. Saat tiba serangan dari pihak lawan, serangan balik cepat yang mematikan, sudah disiapkan. Tapi kadang ia juga membuat perumpamaan pertunjukan tradisi kuda kepang. Orang seolah-olah bertarung dan memukul, tapi tak sedikitpun bersentuhan. Orang menjerit, tapi tak terjadi apa-apa.

Terlalu filosofis. Iya, betul. Orang yang tingkat abstraksinya rendah tentu tak akan mudah menangkapnya. Tapi, biasanya itu menjelang keputusan. Keputusannya sendiri, jelas dan konkret. Tapi menjelang itu, kerap meliuk-liuk. Dengarkan saja pidato-pidatonya, itu sebagai pemikir atau pemimpin, atau motivator, susah dibedakan. Audiens terkesima saja, tepuk tangan, tapi entah apa?

Secara tidak langsung, Anis Matta pernah mengatakan, bagaimana ia membuat keputusan. Bila tujuan kita di depan, maka teruslah melangkah ke depan. Saat ada benturan atau penghalang, kita menghindar, tapi pastikan bahwa arahnya tetap ke depan, menuju arah tujuan. Tak perlu juga kadang, menghancurkan penghalang. Cukup dihindari saja. Seperti air yang terus mencari muara.

Tiba-tiba ia mendukung Fahri Hamzah tampil gagah di aksi 411. Padahal konsekuensinya berat. Kata Fahri Hamzah, usai aksi itu, ia akan dijemput polisi. Tapi pidato Fahri Hamzah dalam aksi itu jelas, ada dalam Undang-Undang Dasar, yakni soal impeachment. Tak ada yang salah. Di kemudian hari, itu bukti keberpihakannya terhadap gerakan umat Islam. Tak cuma sekadar klaim seperti yang dilakukan PKS, yang resmi tak turun. Dan sejak awal “takut” betul menentang Ahok.

Untuk satu keputusan penting, tak jarang seorang Anis Matta melakukan shalat istikharah sudah seperti minum obat. Berkali-kali, berhari-hari, dalam waktu yang lama. Orang seperti ini yang dibilang sebagai pengkhianat. Apa tak miris? Tapi anehnya ia tak terpengaruh. Ia bukan tipe orang yang mudah terganggu dengan cap orang lain. Katanya, “itu tak menambah apa-apa.”

“Kalau ada keikhlasan di hati kita dan di hati saudara kita, Allah SWT akan membukakan jalan-jalan-Nya, semustahil apa pun itu dalam pandangan kita.” Itu kira-kira kata Anis Matta suatu ketika. Apakah jalan-jalan-Nya itu terbuka? Apakah ada keikhlasan di hati kedua belah pihak? Entahlah.

Saya ingin mengakhiri bagian internal ini. Saya ingin masuk bagian eksternal. Mulai dari rezim baru bertandang ke istana, saat Anis Matta, Ketua Umum Partai, yang belum pernah bertemu Presiden Jokowi sejak dilantik. Hingga putusan dukungan capres-cawapres 2019 dan pileg saat ini sebagai pertaruhan terakhir. Tapi saya ingin menunaikan janji soal cerita bagaimana saya dinonaktifkan dari struktur DPW PKS Sumbar sekaligus Unit Pembinaan Kader (UPK) hingga sekarang. Sabar ya. Hehehe. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *