A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (14)

Kepemimpinan Anis Matta (14)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com, – Nasional. Dari seorang teman di Jakarta, saya tahu Fahri Hamzah akan diganti sebagai Wakil Ketua DPR–bukan dipecat–sejak November 2015. Saat itu, Sumatera Barat sedang pilkada serentak 13 kabupaten/kota, termasuk pilgub. Informasi pergantian Fahri saya beritahu kepada pengurus PKS Sumbar yang lain, ia tak percaya. Juga mungkin tak peduli karena saat itu sedang sibuk-sibuknya.

H. M. Anis Matta
H. M. Anis Matta

Saya sebetulnya juga tak percaya dan tak peduli kurang lebih sama situasi. Apalagi sudah ada keterangan dari rezim baru terpilih bahwa tak ada bersih-bersih loyalis Anis Matta. Dan yang berganti memang hanya Anis Matta yang digantikan Sohibul Iman. Selebihnya masih orang yang sama. Awalnya, Salim Segaf Al-Jufri tak melakukan rombak total, seperti yang dirasakan saat ini.

Artinya, tiap kader berharap dan tak ada yang berpandangan negatif. Kritik-kritik sebagai pengejawantahan atas kekurangan-kekurangan selama ini bisa terwujud. Waktu berjalan, harapan tinggallah harapan. Entah apa yang terjadi? Bukan pergantian yang terjadi, melainkan pemecatan. Kronologi disiapkan, tapi kader tentu ingin tahu. Itu dihambat, maka wajar kader mencari sendiri.

Salam GARBI Ala Anis Matta
Salam GARBI Ala Anis Matta

Saya termasuk yang mencari lewat keterangan, twit-twit Fahri Hamzah termasuk bertemu langsung dengannya di Jakarta. Saya belum sampai pada kesimpulan, siapa yang benar dan siapa yang salah? Kesimpulan itu pasti juga banyak dianut kader, walau yang pokoknya Fahri Hamzah salah, tentu juga ada. Tapi, situasi itu sebetulnya memprihatinkan ketimbang soal benar dan salah.

Maka kalau diperhatikan betul tulisan-tulisan saya awal seputar pemecatan Fahri Hamzah, pasti akan ditemukan nuansa keprihatinan itu. Di buku saya, “Arah Baru: Konflik di Tubuh PKS dan masa Depan Politik Islam” semua ada. Memang, ada nuansa keberpihakan kepada Fahri, tapi itu wajar karena ia pihak yang lemah, pihak yang dizalimi. Cara itu tak pernah digunakan di PKS.

Anis Matta tak pernah memecat orang-orang yang tak sejalan dengan caranya. Jangankan memecat, mengganggu posisinya saja tidak. Posisinya tetap aman, walaupun ada orang lain yang dianggapnya pas dan cocok dengan posisi itu. Atau ia tak pernah merasa terganggu dengan orang-orang yang tak menyukainya. Terganggu saja tidak, maka tak terpikir buat menyingkirkan orang.

Bersamaan dengan itu, kebetulan sudah ada rencana jauh-jauh hari hendak mendatangkan Fahri Hamzah ke Padang. Atas nama KA KAMMI (Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Kebetulan saya diminta teman-teman sebagai pelaksana. Bertemunya tulisan-tulisan dan acaranya ini, mungkin dianggap sebagai dukungan dan perlawanan terhadap struktur.

Anis Matta Bersama Para Sahabatnya
Anis Matta Bersama Para Sahabatnya

Saya diminta Ketua DPW Sumbar lewat pesan WhatsApp (WA) agar membatalkan acara itu. Sebelumnya, saya juga sudah dipanggil Ketua Kaderisasi. Saya mendapat penjelasan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Keprihatinan saya semakin membesar, tapi tak tahu cara bagaimana melampiaskannya? Tulisan adalah cara. Tapi, cara itu akhirnya, menyeret saya kepusaran konflik.

Saya tak mungkin membatalkan acara Fahri Hamzah di Padang sesuai permohonan Ketua DPW Sumbar. Selain tak enak hati dengan Bang Fahri karena sudah lama kenal, saya juga merasa ditelanjangi di hadapan mantan aktivis KAMMI Sumbar. Bagaimanapun mereka sudah beragam. Afiliasi politiknya juga sudah berbeda-beda. Jika saya batalkan acara itu sepihak, ke mana muka ini akan disembunyikan?

Di PKS, kadang ini tak menjadi perhatian. Itu urusanmu sebagai jundi (prajurit) dan tidak ada urusanku sebagai qiyadah (pemimpin). Urusanku sebagai qiyadah memberi perintah. Sebagai jundi, kamu harus taat dan tsiqoh. Caranya, terserah. Itu juga yang dikeluhkan Fahri Hamzah saat diminta mundur. Diingatkan soal kesepakatan KMP tak mau. Pokoknya mundur. Itu hak qiyadah.

Ide & Gagasan Anis Matta
Ide & Gagasan Anis Matta

Acara membludak. Padahal, sudah dilarang keras. Itu seperti pukulan telak. Saya juga tak berhenti menulis. Maka, panggilan terhadap saya dilayangkan. Kali ini datang dari Sekretaris dan Wakil Ketua DPW. Tepatnya di kantor DPD Padang. Saya datang dan hormat. Di situ diingatkan agar semua kader tegak lurus di belakang qiyadah. Saya harus berhenti menulis, perihal FH-PKS.

Saya tak langsung mengiyakan atau menidakkan. Karena itu, bagian dari kegelisahan dan cara melampiaskan keprihatinan. Saya berharap, semua ini berakhir dan kegelisahan saya lenyap. Saya agak membantah saat dimasukkan isu bahwa Anis Mattalah yang memenjarakan LHI. Saya bilang, saya bukan anak-anak yang bisa dimasuki isu seperti itu. Saya ikut membela LHI melalui tulisan-tulisan pada saat itu. Saya mengikuti kasus itu. Rekaman-rekaman, tapi jangan dibelokkan begitu.

Setelah pertemuan, hari-hari berlanjut, saya memang terus menulis karena memang kasus FH-PKS tak mereda malah terus menaik. Media saja memberitakan, tentu saya lebih lagi menulis. Maka pada suatu sore, pembina UPK saya datang ke rumah membawa surat panggilan dari DPW. Saya diperlihatkan surat itu. Dipersilakan baca, tapi tak boleh mem-foto, apalagi menyimpannya.

Dalam hati saya berbisik, ini pasti agak serius! Saya datang, saat itu bulan Ramadan 2016. Agak lama menunggu, akhirnya saya dipanggil masuk ruang pleno DPW Sumbar. Setelah dibuka dan ditanya apakah saya sehat dan lain-lain. Akhirnya, dibacakan penonaktifan saya dari struktur PKS dan segala macam terkait PKS. Saya diwajibkan menemui Ketua DPW, DSW, MPW dalam jangkan waktu 3 bulan.

Saya tidak menunaikan itu, tapi saya berpesan kepada pembina UPK, siap dipanggil, kapan saja. Saya tak pernah dipanggil, dan dari bisik-bisik saya dengar, cap pada saya buruk sekali. Padahal saat mau di sidang itu, saya sudah siap-siap untuk mengalah dan akan menghentikan tulisan-tulisan saya. Ternyata saya tak di sidang, tapi langsung dijatuhi hukuman. Akhirnya takdir sejarah berkata lain. Saya, FH, dan PKS, sampai juga di sini. AJM/RedLP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *