Home / Uncategorized / Kepemimpinan Anis Matta (16)

Kepemimpinan Anis Matta (16)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com, – Nasional. Seperti LHI, pastilah tingkat kepercayaan diri rezim baru begitu memuncak. Licence (Lc) digantikan Doktor (Dr). Ini seperti mengembalikan tradisi PKS lama, bahwa mereka berasal dari kalangan terdidik perkotaan. Doktor Nur Mahmudi Ismail, Doktor Hidayat Nur Wahid. Sungguh bergawa gelar-gelar itu. Saat sosialisasi MPP pertama di Padang, di Asrama Haji. Hadir juga Nur Mahmudi Ismail. Saya mengira akan kembalinya wajah-wajah lama sebagai pejabat teras di PKS.

Tapi belakangan, Nur Mahmudi Ismail, semakin surut ke belakang. Namanya tersandung kasus saat menjabat sebagai Walikota Depok dua periode. Entah berapa kasus, tapi pastilah rumit dan iba kita. Kalau sudah begitu, apa lagi yang mau dibanggakan dari gelar Doktor? Kadang saya berpikir, partai yang katanya bagus, bersih, tapi pejabatnya terkait korupsi juga. Sementara PDIP tak pernah ngaku-ngaku baik, tapi pejabatnya terkenal dengan prestasi seperti Risma di Surabaya.

Nanti, saya dituduh pendukung PDIP pula. Tidak! Itu hanya kemirisan terpikir dalam hati saja. Mantan Gubernur Jawa Bara Ahmad Heryawan, misalnya lagi. Belum lama, diperiksa KPK selama 8 jam dalam kasus Meikarta. Itu sebetulnya lampu kuning. Kalau berlanjut, apa yang bisa dibanggakan dari prestasi 1/13 hari itu? Runtuh semua. Siapa lagi dibanggakan? Irwan Prayitno? Sejak ia ikut “menggergaji” Aban Yasin, saya tak tertarik. Tak hanya Doktor, ini malah Profesor.

Tapi, masih mending ketimbang LHI. Posisi Presiden Partai Islam Terbesar di Indonesia, digunakan untuk bisnis impor daging sapi impor yang dikatakan teman saya, “hanya bisnis kertas, dagingnya tak ada.” Ini dipakai untuk bertandang ke istana bertemu Jokowi memperkenalkan diri sebagai pemegang kuasa baru di PKS. Yang lama sudah tak ada, sudah tersingkir. Dan benar saja, setelah pertemuan itu permintaan mundur dan pemecatan Fahri Hamzah bergema di ruang publik.

Kritik-kritik keras Fahri Hamzah kepada pemerintah, seperti mengganggu manuver rezim baru. Belakangan diketahui, pertemuan terbuka di istana itu diiringi pertemuan-pertemuan empat mata secara tertutup. Pertemuan itu justru diungkap oleh Jokowi sendiri. Tak tanggung-tanggung, langsung dipimpin oleh Doktor Salim Segaf Al-Jufri. Betul-betul berkelas dan mantap permainan politik Doktor ini. Operasi pemecatan Fahri Hamzah di media, dilakoni Doktor Mardani Ali Sera.

Masih heboh-heboh soal pemecatan Fahri Hamzah, saya sempat bertemu dengan seorang Walikota dari kader PKS. Ia termasuk yang mendukung pemecatan itu, karena memang khawatir atas sikap kritis Fahri Hamzah, akan berefek kepada kader-kader yang memegang jabatan publik. Artinya, Fahri Hamzah diredam sebab kasus-kasus yang mungkin melibatkan kader pejabat PKS bisa-bisa diusut. Apalagi, Ketua Majelsi8 Syuro PKS adalah mantan Menteri Sosial, di masa SBY.

Untung, Walikota itu bukan Doktor pula. Baru Master. Tapi, mudah ditebak. Selain ingin “menyelamatkan” diri dari berbagai bahaya yang mungkin, rezim baru para Doktor ini juga ingin berkoalisi8 dengan pemerintahan Jokowi yang saat itu memang membutuhkan tambahan kekuatan agar eksis di DPR. Caranya mudah. Hanya dengan menyingkirkan Licence dan Sarjana Ekonomi yang sulit ditundukkan. Licence selesai, Licence lain, malah mundur sendiri, tinggal SE saja lagi.

Itu yang sering dikeluhkan Fahri Hamzah. “Lu yang ngebet, gue yang dipenggal; Lu yang bermasalah, gue yang dibuang.” Dipakai pula, operasi-operasi media. Operasi-operasi pemalsuan surat di MKD. Operasi-operasi intelijen. Operasi-operasi taklimat memang sukses, tapi yang lain belum tahu. Kalau ada mau, bicarakan baik-baik, cari titik temu. Itu yang diinginkan SE, Licence, sejak awal, malah sampai kini. Lihat, bagaimana Fahri Hamzah cipika-cipiki dengan para Doktor ini di arena debat ke-2 capres? Terus terang, saya tak melihat. Tapi, bisa dipastikan masam sekali itu.
Editor: AJM/RedTT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *