A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (17)

Kepemimpinan Anis Matta (17)

Oleh: Erizal

Takalarterkini.com, – Nasional. Hasilnya sudah sama-sama diketahui. PKS tak masuk koalisi pemerintahan. Yang masuk, justru PAN dan terakhir Golkar. PPP malah lebih dulu, sejak tak diberikan kursi Waka MPR. Ini menandai berakhirnya kubu KMP (Koalisi Merah Putih) yang dibentuk menjelang pilpres 2014. Prabowo dan atau Gerindra mengatakan, sendiri pun berada di luar pemerintahan, ia siap menjalani. Rasa-rasa ditinggal, sudah dirasakan Prabowo. Tapi, ia juga terus berkomunikasi dengan Jokowi.

Sukses membubarkan KMP, Fahri Hamzah juga tidak berhasil dipecat. Ia menang dalam gugatan hukum yang panjang, berjenjang, dan melelahkan. Malah, ada ganti rugi yang harus dibayar para tergugat sebanyak 30 miliar. Sempat diledek dengan pengumpulan koin, malah koinnya difoto-foto pula, lalu diviralkan ke media sosial. Putusannya inkracht, koinnya tak ada. Jumlah 30 miliar dikira sedikit, dan hanya main-main saja. Lewat kuasa hukum, Fahri Hamzah terus menagih secara sukarela dan atau paksaan.

Kalau rezim baru PKS selalu menggaungkan “politik keberkahan” sejak awal-awal sekali, saya tak tahu–gagal paham–di mana letak keberkahan dalam masalah ini? Masuk kabinet gagal, kembali lagi bersama Prabowo dan mengklaim paling setia, apa dikira Prabowo tak paham, tutup mata, dengan segala bentuk usaha-usaha itu? Makanya, dapat lihat bagaimana komunikasi antara Prabowo dan PKS? Seperti ada yang terputus. Akrab, mesra sekali, tapi seperti ada yang terputus. Komunikatornya sudah berganti. Dulu Anis Matta, kini Sohibul Iman. Ini terlihat sekali di publik.

Apalagi tentang Fahri Hamzah? Entah siapa yang menuai keberkahan? Fahri Hamzah dan PKS, jalan masing-masing. Fahri Hamzah semakin diminati dan dinanti-nanti umat (publik). PKS malah diambang perpecahan. Memang hampir semua partai yang tergabung dalam KMP terpecah-belah. Kecuali, Gerindra dan PAN. PAN hampir nyaris juga. Tapi masih ada sosok Amien Rais. Golkar, PPP, dan PKS. Celakanya, PKS tak selesai-selesai, malah hingga kini. Apa itu yang namanya politik keberkahan? Entahlah.

Agak lama saya di fase ini, sebab inilah fase pertama. Awal, dari segala awal. Seharusnya, fase ini harus dipintas atau dicarikan solusi. Seperti kata pepatah, “tersesat di ujung jalan, balik ke pangkal jalan.” Apalagi saat itu pangkal jalannya, belum terlalu jauh. Masih bisa disusul dengan mudah. Tapi, tingkat kepercayaan diri rezim baru memang sudah sampai ke ubun-ubun. Padahal, tak ada orang di PKS yang tak menginginkan adanya islah, malah hingga kini. Kecuali, beberapa orang saja yang terus menyebar hoaks. Malah, orang sekaliber yang katanya Ketua Dai Indonesia.

Balik kepada Prabowo dilakukan dengan enteng, tapi Prabowo terlanjur melihat jelas ada pergerakan yang diwaspadai. Balik kepada Anis Matta dan Fahri Hamzah, ogah benar dilakukan. Padahal teman seperjuangan. Harusnya lebih mudah dilakukan. Anis Matta juga sudah membuka diri, melawan ego, termasuk membunuh rasa berat di hatinya. Tapi, bukan tempat di dalam yang diberikan, melainkan tempat di luar. Berkali-kali dilibatkan, solusi yang diberikan selalu mentok.

Fase kedua, yakni terkait “perlawanan” terhadap Ahok dan pilkada DKI Jakarta. Fase ini juga akan cukup panjang. Sebab efeknya berpengaruh sampai saat ini, malah bukan tak mungkin, berlanjut hingga pemilu 2024. Dan lagi-lagi, proses pembuatan kebijakan dalam fase ini, tampak mentah dan maju-mundur. Akibatnya, jangankan akan mengeruk keuntungan semuanya, separuh pun akan sulit. Justru, kalkulasi Anis Matta yang relatif relevan. Walau ia tidak memegang posisi.

Memang tak mudah memimpin. Mengkritik jauh lebih mudah. Memimpin mendengarkan kritikan itu lebih tak mudah lagi. Anis Matta membuktikan itu. Siapa saja pengkritiknya, aman di bawah kepemimpinannya. Kepemimpinan (rezim) baru PKS tak demikian. Setidaknya saya bukti yang paling nyata. Apa ada hubungan dengan latar belakang dosen yang digelutinya? Dosen saya tak begitu. Banyak juga dosen yang suka dikritik mahasiswanya. Ini mungkin ada soal lain, yang entah apa? Muncul istilah under capacity. Pernah pula saya baca cara menjawab, jika disebutkan itu di internal. Aneh saja. Kualitas menunjukkan harga, walau tak selalu begitu. Murah kualitas bagus. Itu hebat. AJM/RedLP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *