Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (18)

Kepemimpinan Anis Matta (18)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Seperti Jokowi, Ahok dan PKS, sebetulnya tak pernah saling berhadapan. Bahkan setelah pernyataan Ahok soal al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu pun, PKS masih ragu-ragu. Yang jelas-jelas saling berhadapan dengan Ahok, sejak awal memang FPI, di bawah pimpinan Habib Rizieq. Kontroversi Ahok, memang luar biasa. Bahkan, sampai penyembelihan hewan kurban pun diatur.

Tak hanya warga Jakarta, seluruh Indonesia pun gelisah dan menahan napas, kalau Ahok sudah berbicara dan beraksi. Bercarut, bentak-bentak orang di hadapan publik, ia santai saja. Tak ada yang dipedulikan. Aneh saja saat keluar penjara kemarin, orang dan media masih meliputnya. Sejak sejuta KTP untuk pilkada DKI Jakarta gagal, saya tak percaya ia punya pendukung militan.

Puncaknya memang soal al-Maidah 51. Dan itu, menjelang pilkada DKI Jakarta. Aksinya dinamakan 411. Di situlah baru muncul nama GNPF Ulama dengan tokoh Bachtiar Nasir, Zaitun Rasmin, dan lain-lain. Sebetulnya, yang lebih sentral lagi adalah KH. Ma’ruf Amin. Akibat fatwa MUI atas kasus al-Maidah 51 itu, di mana KH. Ma’ruf Amin menjabat Ketua Umumnya, gerakan penentangan terhadap Ahok makin besar dan meluas. Kabarnya, aksi 411 itu diikuti 4 juta massa.

Selain nama-nama yang sudah disebut di atas, ada juga nama Amien Rais, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Ahmad Dhani, Arifin Ilham, Aa Gym, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, yang pantas disebut. Tokoh-tokoh ini di kemudian hari terbelah menjadi empat. Satu, tetap di posisi itu, bahkan merangsek ke depan seperti Ratna Sarumpaet dan Ahmad Dhani. Dua, tetap di posisi itu, tapi menjaga jarak seperti Arifin Ilham dan Aa Gym. Tiga, dari dulu sampai kini, tetap begitu seperti Habib Rizieq, Fahri Hamzah, Fadli Zon, dan Amien Rais. Empat, berbalik seperti KH. Ma’ruf Amin.

Berbalik di sini mungkin karena menganggap masalah sudah selesai. Jokowi-Ahok bukan satu paket. Semakin klop karena yang dipinang Jokowi sebagai Wakil langsung pula, KH. Ma’ruf Amin. Awal-awal, sempat guncang juga rimba perpolitikan. Tak hanya di kubu, katakanlah umat, juga di kubu Jokowi atau Ahok. Tapi pelan-pelan menguat lagi. Itu di antara bukti, Jokowi-Ahok satu paket. Keluar penjara langsung berbaju PDIP. Langsung pula masuk pilpres, tapi dicegah JK.

Aksi-aksi umat, reuni 212, bukannya surut, tapi makin bergelombang dan lebih besar lagi dari sebelumnya. Itu tanda umat sudah mulai membaca dan membuat tafsir sendiri. Menarik KH. Ma’ruf Amin dan beliau pun tertarik, itu tak berpengaruh besar. Langkah kuda tinggallah langkah kuda. Walau hanya buat daerah Jakarta, acara Malam Munajat 212, juga ramai. Sudah betul yang tampil Fadli Zon, Fahri Hamzah, Zulkifli Hasan menggantikan Amien Rais yang lebih dulu pulang.

Lalu, di mana posisi PKS? Setelah didatangi Prabowo, sebelumnya Prabowo yang didatangi Jokowi, Sohibul Iman resmi mengatakan PKS tak ikut aksi 411. Sebetulnya, sama juga dengan Gerindra dan PAN, tapi mereka punya simbol Fadli Zon dan Amien Rais, yang berdiri di atas mobil komando aksi, bersama Habib Rizieq, Bachtiar Nasir, dan lain-lain. PKS punya Fahri Hamzah. Tapi sudah keburu dipecat dan tiap sebentar dalam sidang paripurna DPR selalu diinterupsi, tapi diabaikan yang lain.

Sumua kader pasti ingat bagaimana ketatnya pengaturan bagi yang ikut aksi 411. Yang tak perlu diatur, diatur juga. Lalu, bagaimana PKS bisa mengklaim aksi-aksi umat di kemudian hari? Merek dagang sudah dimiliki yang lain. Seharusnya Fahri Hamzah ditarik lagi. Itu baru, rezim baru PKS yang pandai dan canggih membaca situasi. Tapi, itu betul yang tak mau dilakukan. Entah kesalahan apa yang sudah diperbuat Fahri Hamzah? Di situ Anis Matta hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membatin haru dan ia di luar tak pegang posisi apa-apa. AJM-Garbi/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *