A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (19)

Kepemimpinan Anis Matta (19)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Ternyata, dari tulisan seri ke-18, banyak kader yang mengaku bahwa aksi 411 tak sekadar tak diikuti PKS, bahkan PKS proaktif melarang kader-kader untuk turun, dengan cara menelepon ketua-ketua DPW, agar disebarluaskan larangan itu. Yang sudah terlanjur, bahkan disuruh segera balik kanan. Itu yang saya katakan tidak mudah mengklaim aksi-aksi umat itu sebagai milik PKS. 4 juta massa itu bukan angka yang kecil. Setidaknya, separuh dari pemilih PKS seluruh Indonesia.

Jika mengklaim aksi umat hanya 212 saja, dengan tampilnya berorasi Hidayat Nur Wahid. Maka jangankan Hidayat Nur Wahid, Jokowi pun bisa mengklaim karena juga berorasi dan hadir berhujan-hujan dalam aksi 212 itu. Jokowi saja tak pernah mengklaim aksi 212, masak PKS tiba-tiba berani mengklaim? Berarti, kalah dong sama Jokowi? Sayang, Jokowi juga tak bisa membaca aksi itu di kemudian hari berubah menjadi kekuatan oposisi yang paling efektif yang bisa mengganjalnya.

Hampir mirip nanti jika Prabowo-Sandi menang. PKS akan cepat-cepat mengklaim usaha kemenangan itu sebagai miliknya. Sekutulah, setialah, bisa macam-macam. Padahal, semua tahu; Prabowo-Sandi tahu, Gerindra tahu, publik juga tahu, bahwa PKS hanya fokus pada pemenangan pileg saja. Kepala-kepala daerahnya turun ber-flashmob ria hanya buat PKS, tidak buat Prabowo-Sandi. Malah di beberapa daerah jelas-jelas mendukung Jokowi-Ma’ruf dengan bermacam alasan.

Mengancam mematikan mesin politiknya buat Prabowo-Sandi! Entahlah, mesin itu masih ada atau tidak? Prabowo ramai-ramai dibela para pendukungnya, Presidennya malah, menyempal sendiri, mengkritik soal durasi-durasian. Ada pula yang memuji, itu sebagai masukan konstruktif. Entah di mana letak konstruktifnya? Itu yang saya katakan, olahan kebijakan yang masih mentah, kurang pandai, dan tidak canggih. Selalu saja berada pada situasi yang sulit dan rumit. Juga kalah.

Tapi, sayangnya, tak mau diakui cepat, diubah segera untuk perbaikan. Malah, dicari-cari pembenaran. Tak hanya di publik, juga di internal, apalagi. Putusan pengadilan pun disalah-salahi seenaknya. Istilah Fahri Hamzah, “mau ditarok di mana muka qiyadah.” Ya, maunya di mana? Ini yang kerap mengganggu. Soal ego, harga diri, citra, dan lain-lain. Jadi bukan hanya semata-mata soal risalah pergerakan. Kalau memang soal itu, sejak awal, sudah lama selesai. Tak ada masalah.

Cukup masukan Fahri Hamzah kembali ke barisan, selesai masalah! Mau mengklaim aksi umat, pendukung ulama, penentang Ahok, penentang Jokowi, pendukung Prabowo-Sandi hingga soal konsistensi dan integritas, juga dapat. Semua masuk. Mengklaim aksi umat, aksi umat hanya ikut di ujung, tokohnya Fahri Hamzah tetap di pecat. Pendukung ulama, ulama sendiri di internal dipecat-pecatin. Lalu, sowan pula ke ulama eksternal seolah-olah takzim ulama. Bagaimana bisa?

Masalah ditarik lebih jauh dan dalam. Pesantren-pesantren, lembaga-lembaga, baik sosial maupun pendidikan, yang diasuh oleh pengurus-pengurus PKS, yang berani berbeda dan macam-macam langsung dicabut “tali akinya”. Yang menjadi pejabat publik juga begitu. Saya baru dapat kabar M. Yasin dicabut “tali akinya” oleh Gubernur Irwan Prayitno sebagai Pengawas Syariah di suatu lembaga di Sumbar. Kabarnya, penggantinya adik kandung dari Ketua DPW PKS Sumbar pula. Siapa dia?

Kata Anis Matta suatu kali, “kadang inilah cara orang-orang membakar masa depannya.” Saat masalah sudah dicampuradukkan, kuasa dipergunakan sembarangan, informasi diputar suka-suka, maka kehancuran masa depan hanya soal waktu. Nanti diseri-seri berikutnya rasanya perlu juga saya tulis tentang M. Yasin bagaimana perannya di PKS Sumbar dan bagaimana peranannya dalam pemenangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit, di pilgub lalu? Ini menarik diungkap, sebagai ibroh. AJM-GARBI/RedLP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *