Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (21)

Kepemimpinan Anis Matta (21)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Gagal masuk kabinet, KMP bubar, ada jarak dengan Prabowo, sehingga ogah mengambil wakil dari PKS, gagal juga di pilkada DKI Jakarta. Karena tradisi PKS di Jakarta itu, mengusung kader sendiri, bukan mendukung kader lain. Saya sudah analisis juga begitu (Baca: Kemenangan Semu) dulu, kini semakin nyata. Kalau PKS mengusung kader sendiri, apa gelombang umat akan menolak? Gelombang, ya tetap gelombang. Bahkan kotoran pun akan digulung. Salah baca, tetaplah salah baca.

Kalau sekadar mahar politik “sebinjek duabinjek” buat apa itu? Sebentar juga habis. Saya orang yang tak akan percaya dan tak akan pernah percaya, bahwa penandatanganan dukungan pada salah seorang calon, bahkan kadang kader sendiri pun, itu tanpa mahar politik. Semua sudah ada tarifnya. Besar-kecil, itu tergantung situasi politik saat itu. Bukan satu-dua parpol, hampir semua parpol begitu. Dan PKS bukan pengecualian. Kalau mahar itu bisa bicara, maka ia akan meludah.

Tak ada yang berubah. Dulu kini, sama saja. Bahkan kini seperti yang sudah saya katakan, potongan-potongannya jauh lebih gede. Keberkahan, kesederhanaan, dan sejenisnya, mestinya itu bukan jualan belaka, tapi sikap atau pilihan pribadi. Kalau organisasi, apalagi parpol, patokannya sudah jelas. Etika organisasi, transparansi, dan lain-lain. Pilihan-pilihan politik, mana yang lebih menguntungkan. Ukurannya jelas. Jangan sebut untung, padahal rugi. Atau sebaliknya? Itu keliru.

Natsir, misalnya. Ketua Umum Masyumi dan pernah menjadi Perdana Menteri. Dia pakai kemeja yang saku depannya bekas tinta. Ia santai karena kesederhanaan pilihan pribadinya. Hatta juga begitu. Tapi berbeda dengan Soekarno yang selalu perlente. Kartosoewirjo, pimpinan DI/TII juga mengoleksi jam tangan mewah. Tapi, apakah mereka ribut soal kesederhanaan, kerberkahan? Tidak. Mereka ribut, malah “berkelahi”, soal yang elementer bagi Indonesia. Bukan remeh-temeh.

Ini partai dakwah, ribut soal remeh-temeh. Soal kesederhanaan, bermewah-mewah, mobil apa yang digunakan, bahkan soal istri pun diusik. Semua tertuju kepada Anis Matta. Seolah-olah, apa yang datang darinya semua salah. Slogan yang dibuatnya, “Cinta, Kerja, dan Harmoni” untuk mengalihkan kasus sapi pun, dipersekusi petinggi sekarang, di hadapan kader inti. Saya dengar sendiri itu. Cita-cita ustaziyatul ‘alam (soko guru dunia) tak pernah diusik. Bagaimana rutenya bisa jelas?

Ini cerita yang basi. Saat semua telah memakai mobil mewah keluaran terbaru, apa masih relevan bicara kesederhanaan itu? Sudahlah! Saya akan masuk ke fase ketiga, yakni pilkada Jawa Barat dan beberapa pilkada penting yang menjadi basis PKS. Dulu di bawah kepemimpinan Anis Matta, pilkada-pilkada itu diraih-dipertahankan dengan segenap kemampuan, kini pilkada-pilkada itu lepas mudah begitu saja. Bahkan, pilkada Jawa Barat, misalnya. Dijadikan pertaruhan bangkit dari keterpurukan, akibat kasus impor daging sapi saat itu. Apa masih ada yang bilang pilkada itu sukses karena berada di posisi kedua?. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *