A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (22)

Kepemimpinan Anis Matta (22)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Berbekal “kemenangan semu” di DKI Jakarta, pilkada Jawa Barat lebih tragis. Hubungan baik dan mesra yang terjalin dengan Deddy Mizwar (Demiz) menjadi ikut rusak, entahlah hingga sekarang? Padahal, selama mendampingi Ahmad Heryawan (Aher), Demiz tidak banyak cincong, sebagaimana pendamping (wakil) pada umumnya. Lagian Demiz mau mendampingi Aher seperti kata Fahri Hamzah, dirayu, bukan mengaju-ngajukan diri. Ia layak sebagai cagub, bukan cawagub.

Aher memang petahana, tapi elektabilitasnya saat itu berada di bawah Dede Yusuf. Orang lebih mengenal Dede ketimbang Aher. Maka Demiz adalah jawaban. Aher butuh wakil yang bisa mendongkrak elektabilitasnya, Demiz menyerahkan dirinya. Dalam perjalanannya, Demiz tak hanya dekat dengan satu-dua kader di PKS, tapi banyak sekali. Bahkan kata teman-teman di Jawa Barat, Demiz selalu mengkoordinasikan langkah-langkahnya dengan elit PKS. Lalu, kurang apa lagi itu?

“Twitwar” antara Hidayat Nur Wahid (HNW) dan Demiz yang sempat terjadi dan meluas di publik disesalkan banyak pihak. Seperti tak ada bekas. Untungnya Demiz tak mengungkap apa yang perlu diungkapnya. Ia tak kehilangan rasa hormat. Ia sadar, masalahnya bukan dengan PKS, tapi Gerindra di Jawa Barat, bahkan langsung Prabowo. Ada informasi yang tersumbat, sehingga Demiz-Syaikhu yang sudah diumumkan jauh-jauh hari, spanduknya sudah beredar, menjadi batal.

Orang teringat dengan Sandi-Mardani di pilkada DKI Jakarta. Seharusnya dijadikan ibroh yang berharga, agar tak terulang. Tapi, tidak! Itu terulang lagi. Demiz-Syaikhu yang sudah di-acc di depan Prabowo dan Salim Segaf Al-Jufri, buyar karena alasan yang di kemudian hari, ternyata terbukti tak ada relevansinya. Gerindra, Demokrat, dan PKS, toh akhirnya berkoalisi juga. Hanya Demiz yang bergabung ke kubu Jokowi-Ma’ruf. Tentu ia menyimpan luka. Ia patah dan itu wajar.

Seharusnya PKS bisa menjadi penengah. Membuka sumbat antara Prabowo dan Gerindra, termasuk dengan Gerindra di Jawa Barat. Tugas itu tidaklah terlalu berat. Di masa lalu KMP saja bisa digalang. Apalagi hanya sekadar membuka sumbat antara Demiz dan Prabowo dan Gerindra di Jawa Barat. Kalau gelombang umat yang disebut, Demiz ada di situ, dan berada di garis depan. Ketimbang Aher, Demiz lebih dulu maju. Ia benar-benar aktor hebat yang halus membaca situasi.

Bukannya menjadi penengah malah PKS ikut-ikutan menyerang Demiz. PKS sepenuhnya berada di belakang Prabowo. Di sini muncullah pertanyaan beraroma sindiran apakah PKS sudah menjadi cabangnya Gerindra? Ini telak sekali. Jika pilkada DKI bisa dimaafkan, apalagi akhirnya juga menang walau semu. Pilkada Jawa Barat masih ada waktu. Masih banyak bisa berbuat. Tapi semua seperti berakhir. Di pusat, kepala meliuk, di daerah ekor susah bergerak, tapi terpaksa ikut.

Istilah “nyunda, nyantri, nyakola, dan nyatria” yang disebut langsung oleh Presiden PKS, seperti sengaja menyungkai Demiz yang disinyalir, bukan asli Sunda. Sementara Sudrajat sebagai pengganti memenuhi semua syarat yang dibuat dan memang sengaja dibuat begitu. Singkat cerita, akhirnya Demiz kalah, tapi PKS tidak menang. PKS sukses membuka kemenangan bagi Ridwan Kamil. Banyak pengamat yang kemudian berpendapat, bahwa Demiz-Syaikhu, mestinya pemenang.

Di sini Anis Matta terlihat dilematis. Ia kenal baik Demiz. Perjuangan memenangkan saat kasus daging sapi menimpa sulit dilupakan. Ia mungkin termasuk yang merayu seperti kata Fahri Hamzah. Tapi ia akhirnya dibuang, tak dipakai, malah “twitwar” pula dengan petinggi PKS yang terhormat. Ia juga tak mungkin menepis tangan Sudrajat yang telah digandeng. Ia kenal baik saat berada di Lemhanas. Ia bercengkrama akrab di markas Anis Matta di Patra. Tapi itu pulalah yang menjadi tuduhan bahwa ia main dua kaki agar tetap berada di dalam jalur dukungan struktur PKS.

Apa lagi, kalau bukan soal pilpres. Itu dianggap langkah politik Anis Matta, agar menjaga terus peluangnya di pilpres. Padahal ia sudah dapat feeling tak akan bisa apa-apa karena memang tak punya posisi apa-apa. Ia hanya menjaga pertemanan belaka. Di markasnya saat obrolan santai bersama Demiz, Demiz berpesan: “Ji, bila nanti bikin partai, bikinlah partai yang orang ngerokok boleh di dalamnya. Jangan kayak kite, jadi pendatang baru terus.” Tentu sambil tertawa, khasnya Naga Bonar. Entah ke mana arahnya? Apakah Demiz tahu cerita penyingkiran Anis Matta? Entahlah. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *