A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (23)

Kepemimpinan Anis Matta (23)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com, – Nasional. Foto tulisan seri ke-22 bisa ditafsirkan, bukan Demiz-Syaikhu yang dijodohkan Prabowo-Salim, melainkan Demiz-Syaikhu yang “menjodohkan” Prabowo-Salim. Itu terlihat dari susunan tempat berdiri. Karena Demiz-Syaikhu yang terlihat mengapit Prabowo-Salim, bukan sebaliknya. Artinya, agenda pilpres yang masih lama, sudah mulai tercium saat itu. Dan memang pembatalan Demiz, salah satunya terkait dengan pilpres. Internal PKS, sudah melakukan pemilu internal pula.

Rasa-rasa sudah menjadi pendamping Prabowo. Pasti, bila saya lanjutkan kalimat ini, akan muncul tuduhan lancang, tak beradab, tak berakhlak, dan lain-lain. Padahal minat atau motif itu jelas, tak hanya di eksternal, juga di internal. Urutan ke-6, hanya 1% dukungan. Bukti-bukitnya terlalu keras, jalannya terlalu lapang. Tak ada yang salah; mau masuk kabinet, mau jadi cawapres, dan lain-lain, salahnya di mana? Tapi, minat atau motif itu selalu diberikan kepada seorang Anis Matta saja. Itu yang salah. Harusnya fair saja.

Memang, minat atau motif Anis Matta itu terlalu terang. Ia pasang baliho, turun ke kader, turun ke masyarakat, walau tak banyak karena selalu dihalang-halangi. Tapi itulah hukum politik pemilihan langsung: Anda harus dikenal, baru bisa dipilih! Apalagi, di internal dukungan kepada dirinya, nyata. Tipis-tipis saja dibandingkan Aher dan HNW. Lalu, bagaimana menyembunyikan dukungan yang hanya 1%? Anis Matta jarang sekali mengutip istilah “keberkahan” dalam politik. Bukan pada tempatnya mungkin.

Pilkada Jawa Barat adalah tonggaknya. Kalau PKS ikut Demiz, koalisi dengan Demokrat, kemungkinan menang. Ini bukan mengada-ada. Data-data survei, sejak awal, bisa dicek, dikuliti, satu-satu. Suara siapa yang menggerus siapa? Pertarungan antara RK dan Demiz. Tapi saat suara Sudrajat melaju kencang, yang ditarik suara Demiz, akhirnya RK yang melenggang. Ini hitungan yang matematis. Dan Demiz berbelok ke Demokrat, juga atas “campur tangan” teman-teman PKS Jabar juga.

Apakah Gerindra atau Prabowo akan lari? Ternyata, tak ke mana-mana juga. Malah, peluang Demokrat berkoalisi dengan Gerindra dalam pilpres ketimbang PKS, jauh lebih besar. Walaupun PKS sudah mengantonggi SK GNPF Ulama. AHY terlihat lebih prioritas ketimbang Salim Segaf Al-Jufri. Hanya ada secuil syarat saja lagi yang mungkin kurang, sehingga Prabowo akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Sandi. Dan ternyata pilihan itu benar. Sandi bisa jadi sebab kemenangan Prabowo.

“Sikua capang sikua capeh. Saikua tabang, saikua lapeh.” Itu dalam pepatah Minang. Artinya, tak ada yang menjadi satu pun, tak ada yang dapat. Yang satu terbang yang satu lagi lepas. Begitulah. Pilkada Jawa Barat lepas. Dua periode berkuasa seperti tak ada bekas. Harapan pilpres tinggallah harapan. Aher malah, berkali-kali harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Ini juga menarik diulas sedikit, sebagai ibroh. Diminta mundur dari pencalegan, ternyata pencapresan juga hanyut. Sedih sekali.

Itu yang sering dikatakan Anis Matta. Satu strategi, tak bisa dipakai dua kali. Strategi saat ini hanya berlaku untuk saat ini saja. Berpikir untuk sesuatu yang belum terjadi, sama sekali jauh, dengan mengorbankan masa kini, itu suatu kesalahan yang fatal. Ternyata Prabowo yang berpikir PKS tak akan ke mana-mana. Harusnya PKS juga berpikir begitu. Sehingga tak khawatir berbeda dengan Prabowo, sebagaimana Prabowo juga begitu dengan PKS. Pilihannya, sama-sama tak ada.

Baru saja saya mendengar hitung-hitungan Anis Matta soal pilpres, besoknya muncul lagi hitung-hitungan lain yang tak kalah njlimetnya. Ia mengerti soal peta global dan nasional dengan sama baiknya. Wajar, di Jawa Barat dianggap main dua kaki di antara Demiz dan Sudrajat untuk menjaga peluang, padahal firasatnya tak bakalan dikasih. Di pilpres pun dianggap main dua kaki. Padahal kepala-kepala daerah PKS jelas-jelas tak bekerja keras buat Prabowo-Sandi. Bayangkan saja, tak berkuasa pun masih dituduh bisa main begitu. Apa tak ngeri?. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *