A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (25)

Kepemimpinan Anis Matta (25)

Oleh: Erizal

Ada yang bilang, salah seorang kader di Jawa Barat. Aher itu hatinya bersama Anis Matta, tapi badannya susah. Ia terkepung. Ia menggerutu juga dengan DPP. Di publik, kita disebut-sebut bersih, tapi di belakang, kalau minta duit, kadang tak pakai mikir. Begitu kader itu berkisah. Tapi, itu kisah biasa saja yang terdengar di antara pejabat publik PKS. Entah di mana letak masalahnya? Apa itu dilema partai “penjual” moral, sementara riil politik tak begitu? Kasus LHI adalah contoh.

Tapi ada juga yang bantah. Aher itu tak begitu. Ia menganggap Anis Matta itu pesaingnya. Bersahabat dan bersaing, itu biasa. Jangankan saat Anis Matta tak pegang posisi apa-apa, sebagai Presiden PKS pun, ia tetap ingin “merebut “tiket capres-cawapres. Ada yang menyayangkan, tapi persaingan tetaplah persaingan. Apalagi, ini tergantung pihak lain, tak sepenuhnya karena pribadi-pribadi semata. Ingat cerita Fahri Hamzah dan Zulkieflimansyah, saya. Gubernur NTB sekarang.

Kalau dua orang ini tak hanya bersahabat dan bersaing, juga berkelahi dan terus berkelahi sampai lelah, baru kemudian bersahabat, atau mungkin juga tidak. Mereka terus berkali, bergulat, sampai masuk got, guling-guling, sejak dari kecil hingga remaja. Banyak yang mengira Bang Zul dikirim dari dapil Banten ke NTB buat mematahkan dominasi FH. Tak sepenuhnya salah tapi tak sepenuhnya juga benar. Ini cerita yang rumit. Makanya Bang Fahri tak pernah menghambat jalan Bang Zul di NTB. Tak sia-sia Bang Zul menggaet kakak TGB, yang didukung Nahdlatul Wathan.

Ini akhir dari cerita seputar pilkada Jawa Barat. Cerita yang tragis, tapi selalu ada obatnya. Obatnya adalah tafsir lain yang juga masuk akal. Sudrajat-Syaikhu yang mulai dengan angka 5%, tapi berakhir sekitar 30%. Sungguh, angka yang fantastis. Kerja mesin politik yang canggih, tapi jangan lupakan nama Prabowo sebagai antitesis Jokowi di situ. Sebagai klaim memang sulit juga dibantah, seperti kemenangan di DKI Jakarta. Tapi, Jawa Barat bukanlah DKI. Ia basis 2 periode. Dan jangan lupa juga, Jawa Barat itu kalah, bukan menang. Nomor 2 itu sama juga nomor buncit.

Kemenangan seperti di pilkada DKI Jakarta kemarin, akan dengan mudah diulang. Usung saja calon yang kuat, selesai masalah. Kemenangan akan bisa diraih secara berulang-ulang. Tapi, pilkada Jawa Barat, 2 periode dimenangkan PKS, tak akan mudah diulang. Takdir seperti dialami Aher, mungkin hanya ia seorang yang mengalaminya. Dan tidak mustahil, ia hanya akan menjadi kisah sukses pribadi, bukan kisah sukses organisasi. Walau PKS terus wanti-wanti yang besarkan kamu siapa? Persis #YangGajiKamuSiapa? Betul kata Fahri Hamzah, PKS lebih dekat ke Jokowi.

Saya akan masuk ke pilkada-pilkada lain sepanjang tahun 2018. Yang paling enak disorot, tentu pilkada Sumatera Utara dan Maluku Utara. Sumatera Utara, karena kader PKS juga pernah menjabat di situ. Mulai dari Wakil Gubernur, lalu ke kursi Gubernur. Yakni, Gatot Pujo Nugroho. Tapi sayang, ia berakhir di kandang situmbin dalam kasus yang berlapis-lapis, entah berapa lapis? Sedangkan Maluku Utara lebih tragis lagi karena kakak-adik bertarung. Si kakak menang dengan menggandeng PDIP. PKS malah mengusung si adik yang tak berkutik. Si kakak sampai sekarang belum terdengar diberi sanksi apa? Diturunkan jenjang keanggotaan, dicabut, atau dibiarkan saja? Ndak jaleh. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *