Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (26)

Kepemimpinan Anis Matta (26)

Oleh: Erizal

Di Sumatera, Sumatera Utara termasuk pelopor. Daerah ini, sudah mendapat kursi wakil gubernur, di saat daerah lain masih berusaha. Sumatera Barat misalnya. Sebagai pembuka daerah ini, gagal pada tahun 2005. Kegagalan ini sedikit-banyaknya membikin trauma. Politik pemilihan langsung, ternyata punya kurenahnya sendiri. Tak cukup hanya modal semangat. Sumatera Utara, sekali melaju sekali mendapat, sekali juga hilang, dan bermasalah. Entah kapan bisa terulang lagi?

Ini agak dalam dan meluas hingga ke bawah. Pembelahannya relatif sempurna. Bengkalai yang ditinggalkan setelah kasus Gatot Pujo Nugroho saja, begitu rumit dan tak mudah. Ditambah lagi dengan konflik yang tak jelas ujung pangkal dan pengelolaannya sejak awal. Sumatera Utara lebih dulu menikmati sisi-sisi baik dan buruk kekuasaan secara bersamaan. Pengalamannya tentu lebih lengkap dan sempurna. Itu modal yang bagus untuk lahir kedua kalinya dengan wadah baru.

Saya mendapat banyak cerita dari Abah Yasin, bagaimana ia bersama Irwan Prayitno dan senior yang lain ikut serta membuka dakwah di Sumatera Utara. Jalan darat yang saya lewati saat ini saja begitu berat, apalagi dulu sekitar tahun 90-an. Tapi sayang, Irwan Prayitno ikut serta pula mencabut “tali aki” Abah Yasin, teman saat ia bersusah-payah dulu. Ia tak sabar menunggu masa jabatannya habis di Jamkrida. Saya tak yakin, ini dilakukannya. Ia berani pasang badan buat orang lain (baca: Ir. Joni), tapi gagal mempertahankan teman sendiri. Lemah.

Petinggi-petinggi PKS di Sumatera Utara, terutama yang muda-muda, terlalu banyak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di tubuh PKS. Bukan lewat omongan orang lain, tapi dengan mata kepala sendiri. Tidak soal perilaku orang perorang, tapi sistem itu sendiri. Mereka langsung bersentuhan dengan Anis Matta dan sebagai apa Anis Matta datang di tengah-tengah mereka saat situasi begitu sulit. Maka, wajar, mereka rela kehilangan jabatan karena berpihak pada kebenaran.

Mereka melihat sendiri bagaimana dana pemenangan disedot ke pusat, dan tak balik-balik lagi. Mereka harus pinjam sana-sini buat bergerak dan sampai sekarang, pinjaman itu belum juga terbayar. Seperti Jawa Barat, Anis Matta menjadikan kemenangan Sumatera Utara sebagai modal menatap pemilu 2014. Perang-perang kecil ini harus kita menangkan dulu sebelum masuk perang besar. Itu sering dikatakan Anis Matta. Anis Matta terlalu dekat di situ, dan mereka tak bisa diam.

Malah, kalau mereka diam, pertanggungjawaban jauh lebih besar. Bukan di dunia ini, tapi nanti di akhirat. Apa yang akan mereka katakan atas sesuatu yang sudah mereka lihat sendiri? Yang tak pernah melihat masih mendingan walau pertanyaannya kenapa terlalu mudah percaya dan tak mau sungguh-sungguh mencari kebenaran? Itu juga yang dirasakan Abah Yasin dan disampaikan kepada saya dengan perasaan teriris-iris. Ini hanya kehilangan yang sementara, untuk cita-cita yang lebih besar.

Menurut saya mereka bukanlah para pemberontak atau terlalu kritis. Mereka adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan. Bukan memelihara ketidakpuasan. Usaha mereka mengadu, mengajukan islah, menyalurkan aspirasi, terlihat sungguh-sungguh. Tapi, bukan pengertian yang didapat, malah stempel, yang berujung pada penyingkiran secara diam-diam, atau terbuka. Maka, tak ada pilihan lain. Jalan kebenaran harus ditempuh. Cita-cita pergerakan harus tetap dilanjutkan.

Sudah benar mereka hanya mendukung di pilgub 2018 kemarin. Mereka ikut menang dan tak bisa lagi menang di depan, seperti dulu. Ada yang memprovokasi untuk mengulangi lagi, tapi mereka ngerti situasi dan kemampuannya. Tifatul Sembiring yang digadang-gadang, bisa berbuat apa? Dan mereka langsung menerima secara kontan dicopot oleh Tifatul Sembiring tak lama usai ia ditunjuk sebagai Ketua Wilda Sumatera Bagian Utara. Hukum besi kekuasaan berlaku di mana-mana, tanpa terkecuali. Dengar imam masjid yang dicopot gegara beda pilihan? Begitu benarlah.

Sementara Gatot Pujo Nugroho sudah menentukan takdirnya sendiri. Ia dikabarkan sudah keluar habis dari PKS. Dari kepartaian dan dari tetek-bengek UPK yang pernah dilaluinya. Beban berat yang ditanggungnya sudah sangat berat dan tak ada yang sepertinya bisa menolong. Di dalam maupun di luar, sama saja. Itu artinya sejarah baru akan segera dimulai di Sumatera Utara. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *