A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (27)

Kepemimpinan Anis Matta (27)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Dapat informasi terbaru, ternyata Gatot Pujo Nugroho, masih tetap di dalam dan bertahan. Jenjang keanggotaannya, kabarnya, tetap, alias tak diturunkan. Ini lebih tragis lagi. Berarti, ia tak dianggap bikin kesalahan apa pun. Bandingkan dengan Fahri Hamzah? Biarlah! Bebannya sudah teramat berat. Sumatera Utara dan Maluku Utara cerita yang hanya tinggal kenangan. Jawa Barat dan Sumatera Barat, tersisa hanya Sumatera Barat. Saya ada di sini. Nanti akan jadi cerita sendiri.

Maluku Utara menjadi “perang” antar keluarga. Kakak-adik adu kuat dalam pilkada. DPP PKS ada di pihak adik, Muhammad Kasuba. Sedang kakaknya, Abdul Gani Kasuba, digaet PDIP. Keduanya kader inti di PKS. Jenjang keanggotaan berada di puncak. Nyaris saja, kalah keduanya. Untung saja, pilkada di Maluku Utara ini adalah pilkada yang rumit dan panjang, sejak dulu. Ada pilkada ulang di beberapa titik. Yang menang berstatus tersangka dan sudah ditahan pula di KPK.

Akhirnya, Abdul Gani Kasuba kembali keluar sebagai pemenang. Tapi ia didukung PDIP, bukan PKS. Adiknya yang didukung PKS tak berkutik sama sekali. Apakah itu strategi keluarga? Jelas bukan. Atau malah strategi partai? Apalagi ini. Sengkarut itu benar-benar nyata. Sejak awal, partai gagal mencari jalan tengah. Keputusan akhirnya juga tak jelas, apakah Abdul Gani Kasuba dihukum atau tidak? Menghukum gubernur terpilih itu cari perkara. Tak dihukum, apa kata dunia?

Main mata? Mustahil, karena sudah ada PDIP sebagai partai pendukung. Konstribusinya jelas. Hanya pelengkap penderita saja PDIP tentu keberatan atau ogah sama sekali. Apalagi PDIP berpotensi menjadi partai pemenang pemilu. PDIP yang memenangkan dan PKS yang menikmati, apa bisa begitu? Ikatan kekaderan, apalagi kekeluargaan, mungkin bisa. Dan mungkin, karena itu pula sanksi terhadap Abdul Gani Kasuba tetap kabur. Azaz manfaat masih bisa, walau tak mudah.

Persepsi yang tidak sama antara struktur dan pejabat publik PKS terjadi di banyak tempat. Bagi struktur, ia harus didengar, dipatuhi, paling tahu. Tapi bagi pejabat publik, ia yang paling tahu. Ia bersentuhan langsung dengan realitas dan lain-lain. Baginya, apa yang dibilang baik oleh struktur, belum tentu baik pada realitasnya. Maka, terjadilah silang pendapat. Bukannya didamaikan, DPP malah “mengadu gerobak” kakak-adik ini. Celakanya, rezim baru DPP saat ini umumnya mantan pejabat publik. Mestinya mereka lebih tahu, karena sudah mengalami. Ternyata tidak. Apa yang salah?

Persis, saat dulu berada di luar struktur. Rasa-rasa, ada saja kebijakan struktur itu timpang atau kurang timbangan. Merasa paling bisa saja. Saat berada di dalam struktur bahkan hampir tak ada kebijakan yang bermanfaat secara nyata dirasakan organisasi selain pembenaran-pembenaran sepihak. Kerap keteteran merealisasikan suatu kebijakan. Sudah itu, minta ditaati, dipatuhi, tanpa banyak tanya. Bahkan cenderung kejam menggunakan kekuasaan. Pemecatan imam masjid bisa ditempatkan di situ. Masa Anis Matta masih memegang posisi semua itu diraih sungguh-sungguh, sekarang lepas mudah. Tanya kenapa?

Saya akan mengakhiri fase pilkada Jawa Barat, dan beberapa pilkada yang dinilai penting ini. Banyak yang mengatakan masih terlalu singkat dan terlalu umum. Kurang menukik ke dalam persoalan yang lebih penting dan inti. Istri Aher, Netty Prasetiyani, juga perlu diulas karena yang bersangkutan, sempat juga digadang-gadang sebagai pengganti Aher. Sekarang sedang bertarung sebagai caleg. Istri Gubernur Irwan Prayitno, juga sedang bertarung sebagai caleg. Mungkin juga istri-istri yang lain. Ini menarik juga dikaji tersendiri karena dulu pernah dilarang secara tegas.

Saya akan masuk fase terakhir, fase yang paling menarik, mungkin juga asyik. Yakni fase pencalegan sekaligus pencapresan. Pencapresan ini bahkan jauh hari dibahas. Sejak pilkada DKI Jakarta belum selesai pun ini sudah menggeliat-geliat di internal. Seolah-olah sudah dipersiapkan jauh-jauh hari bahwa berhasil tidaknya rezim baru ini tergantung pada pencapresan ini. Tak perlu menang banyak, walau itu pastilah mustahil. Cukup masuk saja sebagai pasangan calon itu sudah dianggap kemenangan nyata. Maka sejak awal berkutatnya di situ saja dan cenderung mengorbankan semuanya. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *