Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (28)

Kepemimpinan Anis Matta (28)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Sebelum. Sebelum masuk fase pencapresan dan pencalegan, saya masih ragu, mana yang lebih dulu harus dibahas, pencapresan atau pencalegan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pencapresan jauh hari sudah menggeliat, tapi paling akhir juga tahu kejelasannya. Sementara pencalegan lebih kemudian dibahas, tapi paling cepat selesai. Aher, misalnya. Ia sudah lama disebut-sebut sebagai capres internal PKS. Tapi, ia mencaleg juga. Mundur, karena ada peluang pencapresan. Akhirnya tak dapat satu pun. Pencapresan gagal, pencalegan sudah mundur pula. Maka tak salah, ia korban.

Sebelum itu, saya hendak menunaikan janji membuat seri khusus, perihal Abah Yasin (M. Yasin) dulu. Saya ditanya Anis Matta perihal Abah Yasin. Mungkin ia turut prihatin. Abah Yasin baru saja dipecat sebagai salah seorang anggota Dewan Pengawas Syariah di Sumbar. Bahasanya tentu bukan pemecatan, tapi penyegaran. Seorang pegawai datang ke rumahnya, membawa pesan penyegaran itu. Hasil evaluasi RUPS, katanya. Tapi pegawai itu tentu saja kikuk, karena tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak mempersoalkan. Tapi sedih karena kenal baik dengan direkturnya. Masih mengolah dana bau-bau APBD saja sudah belagu.

Begitu cepat semua berlalu. Abah Yasin pantas di posisi itu, bukan hanya karena ia Ketua Tim Pemenangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit pada pilkada lalu. Tapi juga karena kapasitasnya di situ. Ia memang lulusan ilmu syariah di LIPIA Jakarta. Jadi tak ada masalah dan memang tak ada yang mempermasalahkan. Like and dislike. Mantan Ketua Tim Pemenangan, dapat imbalan yang sesuai dengan bidangnya, siapa pula yang protes? Dan Irwan Prayitno sangat ketat soal itu. Ia tak mungkin menempatkan orang sembarangan seberjasa apa pun orang itu. Tak ahli ya tak mungkin.

Ir. Joni, Mantan Kepala Dinas Pertanian adalah contoh. Ia bukan tim ini, tim itu. Ia bukan siapa-siapa. Malah, cenderung sebagai lawan politik saat pilkada 2010. Tapi Irwan Prayitno tetap mempertahankannya sampai akhir, malah sampai memperpanjang segala. Padahal, sebalik orang di PKS menginginkannya diganti. Tapi Irwan Prayitno tak seinci pun bergeming. Ia tutup telinga dan tutup mata, tak peduli sedikitpun. Tapi terhadap Abah Yasin, ia tak kuasa berbuat apa-apa. Ia membiarkan semuanya terjadi seolah itu pantas dan sah. Ia tak bisa menunggu beberapa saat saja.

Apalagi, penggantinya, dikabarkan adik kandung dari Ketua DPW PKS Sumbar. Ada apa ini? Jangankan publik Sumbar, saya pun tak kenal dengannya. Siapa dia, apa aktivitasnya selama ini? Oh, ia juga punya kapasitas, bahkan melebihi Abah Yasin. Ia produk Mesir, sementara Abah Yasin hanya produk LIPIA Jakarta. Labelnya saja Timur Tengah, tapi tempatnya di Jakarta. Dan ia lebih segar, ilmunya lebih fresh. Sementara Abah Yasih produk lama, sudah mentok. Mending ada jugalah jejak-jejak pemenangannya di Sumbar. Ini tidak sama sekali. Betul-betul bersih, licin.

Anis Matta membatin mendengar cerita saya. Ia terdiam lama. Ia seperti tak mengerti apa yang sedang terjadi? Ini seperti bukan teman-temannya; bukan organisasi yang dirintisnya secara bersama-sama; bukan lingkungan yang hendak dicita-citakannya di kemudian hari. Malah bukan seperti batang tubuh dari dirinya yang utuh dan sungguh-sungguh. Ini seperti ada yang benci dan dendam kesumat, tapi dilampiaskan tidak jelas kepada siapa dan semau-maunya saja. Bukan pula saat gerakan ini masih berada di bawah tanah. Saya tak tega menyebut satu istilah. Menyedihkan.

Anis Matta, termasuk Irwan Prayitno, tentu paham, mengapa dan sebagai apa Abah Yasin datang ke Sumbar. Ia datang sebelumnya ke Riau dan kemudian menetap di Sumbar sejak sekitar tahun 1994. Ia tak berhenti berdakwah hingga saat ini. Semua sudah dilalui, pahit-getir, berat dan ringan, dijalani tanpa mengeluh. Entah sudah berapa orang dibina dan “disalami” hingga bersama-sama terjun ke dalam medan dakwah? Semua sirna dalam sekejap seperti kemarau panjang yang disapu hujan sesaat. Tak disingkirkan, ia yang menyingkir, usai “fitnah” itu. Itu yang disebar kini.

Anis Matta bertanya soal pesantren, perguruan, dan seputar itu. Saya tak banyak tahu dan tak banyak menjawab pula. Tapi seperti yang sudah-sudah, ini hanya masalah waktu. Anis Matta tentu lebih bisa menjawab dan memprediksi apa yang akan terjadi. Benar. Ceritanya belum tamat. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *