A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (29)

Kepemimpinan Anis Matta (29)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Cerita belum tamat, tapi sudah bisa diprediksi. Maka, saya cukupkan saja. Abah Yasin itu suatu kegetiran yang nyata. Ia kerap berada di tengah di antara dua kubu yang sedang bertikai. Ia ditunjuk sebagai Ketua Tim Pemenangan juga sebagai bentuk jalan tengah. Tak semua yang suka dengan cara Irwan Prayitno. Tapi dalam konflik ini, tak ada yang boleh berada di tengah. Jika tak di sini (osin), berarti di sana (osan). Irwan Prayitno sudah memutuskan sebagai osin, bukan osan. Sebaliknya, Abah Yasin memutuskan sebagai osan, bukan osin. Semua akan menjalani takdirnya.

Ada yang japri saya. Ia bertanya. Kenapa pilkada Jawa Timur nggak dimasukkin? Itu ‘kan juga menarik. Sebagai bukti di antara kebijakan yang diambil buru-buru dan berakhir pilu. Sebab, jauh-jauh hari Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Al-Jufri, sudah “menenteng” Gus Ipul (Saifullah Yusuf) ke dalam internal, kader inti. Itu artinya tak ada pilihan lain dan tak mungkin lagi berubah. Tapi ternyata politik berubah drastis. Gus Ipul merapat ke PDIP. PKB yang sebetulnya bisa maju sendiri, masih butuh partai lain. Tak tanggung-tanggung, Puti Guntur Soekarno sebagai wakilnya.

PKS galau. Meneruskan koalisi dengan Gus Ipul berarti berkoalisi dengan PDIP. Menjadi mitra koalisi setara masih mending, ini hanya sekadar mendukung. Memutus saja koalisi dengan Gus Ipul, apa kata dunia? Ia sudah ditenteng ke dalam internal kader inti. Mungkin sudah dipuja-puja pula berbuih-buih. Sementara efek pilkada DKI Jakarta, sangatlah besar. Konstituen bahkan kader-kader PKS di bawah, ikut memutar rumor, “partai pendukung penista agama”. Jawa Timur termasuk pemasok massa terbesar dalam aksi-aksi bela Islam. Di internal PKS terjadi perdebatan.

Internal sebetulnya menolak, tapi tak berdaya, tak punya kuasa. Maunya cepat dipelopori poros ketiga, tapi kaki sudah tertanam di satu poros. Jadi, susah bergerak cepat. Akhirnya, dibuat saja pembenaran. PKS lebih dulu berkoalisi dengan Gus Ipul, PDIP datang kemudian. Itu tak ada yang salah. Betul! Tapi publik tak mau tahu. Seperti rumor itu “partai pendukung penista agama” akhirnya bumerang, senjata makan tuan. Poros ketiga tak jadi dibentuk, Gus Ipul kalah bersama PKS.

Sebetulnya wajar, PKS buru-buru mendukung Gus Ipul. Pakde Karwo (Soekarwo) tak bisa lagi maju. Pakde Karwo-Gus Ipul dulunya didukung PKS. Otomatis, saat Pakde Karwo tak bisa lagi maju, PKS langsung merapat ke Gus Ipul. Tapi langsung ditenteng Ketua Majelis Syuro tanpa memberi ruang terjadinya perubahan, itu sangatlah riskan. Padahal, politik adalah serba ketidakmungkinan. Sekali kaki terperosok, mencabut, dan membuat cerita baru, butuh skill tersendiri, dan tak mudah. Siapa yang menyangka Khofifah mau mundur sebagai menteri dan didukung Pakde Karwo pula?

Ini mirip dengan pagi-pagi sudah merapat ke istana (Jokowi). Masuk kabinet, tak kunjung terwujud, politik sudah berubah lagi. Aksi umat bergemuruh, sempat surut, lalu maju lagi seolah-olah berada paling depan pula. Prabowo punya catatan, PKS tentu juga. Semua kepala daerah tak ada yang all out mendukung Prabowo-Sandi. Tapi dipastikan, beberapa saat lagi, akan mengubah haluan, karena peluang menangnya mulai terbuka. Jejak-jejak seperti mendukung Jokowi-Ma’ruf, akan dihapus. Tapi, seperti di Jawa Timur dan lain-lain, tak gampang. Jejak digital, terlalu kejam.

Tapi sebetulnya persoalan di Jawa Timur bukan sekadar pilihan-pilihan politik pilkada itu. Berbeda dengan Sumatera Utara, anak-anak mudanya terlalu banyak tahu persoalan, Jawa Timur, tak hanya anak-anak muda, senior-seniornya pun terlalu banyak tahu, kompak, dan tak bisa pura-pura tak tahu saja. Mereka tahu, bagaimana harus bersikap, dan apa yang harus dilakukan. Ramai-ramai hadir dalam acara deklarasi Garbi, itu pertanda serius dan sungguh-sungguh. Tak ada lagi yang bisa disembunyikan. Rofi’ Munawar rela mundur dari pencalegan PKS dan tak jadi apa-apa.

Dalam Rapat Majelis Syuro, awal-awal, Ahmad Mudzoffar Jufri, Anggota Majelis Syuro dari Jawa Timur, dengan tegas menyuarakan agar Anis Matta dipilih lagi sebagai Presiden Partai. Karena suara tegasnya itu, di bawah beredar rumor bahwa ia sudah disuap Anis Matta satu koper uang asing. Istrinya yang jengah dengan rumor itu, memperlurus saja rumor itu, dengan tak mau lagi hadir acara pekanan dengan alasan menjaga koper uang asing yang diberikan Anis Matta itu. Dibantah? Capek saja.

Begitulah “hebatnya” sebuah rumor beredar di internal PKS. Anis Matta sendiri kenyang dengan rumor-rumor itu. Ia mungkin punya uang, tapi yang dipunyai lebih penting dari sekadar uang adalah ide, rute, atau peta jalan menuju cita-cita perjuangan yang sudah digariskan bersama. Dengan itu anak-anak muda, termasuk senior-senior seperti Rofi’ Munawar dan Ahmad Mudzoffar, bersama-sama dalam satu barisan. Ini sudah tak punya ide, rute, peta jalan, uang, dan lain-lain, tapi kader tiap sebentar ditagih soal taat-tsiqoh. Apa bisa begitu? Sedangkan taat-tsiqoh itu sendiri akibat, bukan sebab. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *