A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (30)

Kepemimpinan Anis Matta (30)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Suatu kali saya diajak mengiringi Anis Matta, aksi umat Islam di Monas. Saya sudah siap-siap sejak semalam. Agaknya Anis Matta pun begitu. Ia dijadwalkan mengisi orasi dalam aksi itu. Panitia berkali-kali mengingatkan. Kami siap-siap hendak berangkat. Tak ada lagi yang ditunggu. Semua sudah siap, dan sudah sarapan pula. Tiba-tiba Anis Matta mengatakan, sebaiknya saya tak usah orasi saja! Kami semua bengong. Pertimbangannya ini-itu ini-itu. Semua terasa begitu cepat.

Saya tak ingin mengungkapkan pertimbangan-pertimbangannya itu. Agak sensitif, karena terlalu personal. Tapi pertimbangan-pertimbangan itu masuk akal. Selintas, itu memang mustahil. Artinya, tak akan sejauh itu. Terlalu berlebihan. Tapi kalau direnungkan pelan-pelan, ada benang merahnya, nyambung, dan cukup besar juga dampaknya kalau benar terjadi. Maka, kami tak bisa menanggapi banyak. Salah seorang teman hanya nyeletuk, “ini karena persiapan terlalu lama dan sarapannya terlalu banyak. Seharusnya, dari tadi itu kita berangkat saja.” Katanya sambil tertawa.

Kami berangkat dengan kesepakatan hanya sebagai peserta aksi biasa. Ikut, selesai, bubar. Tak ada orasi-orasian. Anis Matta tak jadi orasi. Panitia memang, tidak diberi tahu. Yang penting sudah hadir. Tokoh sebanyak itu, tak akan mengurangi. Sampai di situ, kami langsung bergabung dengan massa. Takbir bergema, bergemuruh, berkali-kali. Melihat Anis Matta, massa bersalaman dan selfie-selfie bergantian. Tak berhenti dan tak terasa, Anis Matta telah masuk ke tengah massa. Kami hanya mengikuti saja. Akhirnya sampai juga ke pentas karena dibukakan jalan oleh panitia.

Memang. Anis Matta tak jadi orasi. Walau sudah berada di atas pentas. Waktu juga sudah kasip, mendekati akhir. Saya tak tahu, seperti apa dialognya dengan panitia? Saya di bawah. Tapi poinnya tidak di situ. Anis Matta memang seperti yang saya ceritakan di atas, sudah tak enak hati berorasi karena berbagai pertimbangan. Poinnya adalah bagaimana seorang Anis Matta memutus sesuatu itu dengan berbagai pertimbangan. Hal-hal sederhana saja begitu. Apalagi hal yang besar?

Ini bukan persoalan pribadi. Bukan pula soal panggung. Kalau soal pribadi dan panggung, inilah saatnya. Kan, sudah lama menghilang? Inilah saat berorasi, saat membakar semangat umat, saat pembuktian pada siapa saja yang perlu bukti. Pasti akan direkam, dan akan diviralkan. Inilah pemimpin yang dihilangkan; pemimpin yang ditukar; dan lain-lain. Tapi tidak! Tak satu pun arah pertimbangan Anis Matta berorasi dan tak berorasi ke situ. Ia mempertimbangkan jauh di balik itu.

Maka dapat dimengerti kenapa saat memimpin PKS, Anis Matta tak mau atau belum mau bertemu Jokowi? Kenapa kebijakan kenaikan BBM ditentang pada masa lalu, sementara menteri-menteri PKS seperti Tifatul Sembiring justru mendukung? Atau kenapa Anis Matta melenggang turun podium saat Salim Segaf Al-Jufri tak menunjuknya lagi sebagai Presiden Partai. Semuanya ada pertimbangannya dan itu kuat serta berdasar. Tak hanya ujuk-ujuk mengetuk pintu istana, menenteng Gus Ipul jauh-jauh hari. Lihatlah, pertimbangan Anis Matta atas situasi saat ini! Itu panah-panahnya seperti acara pekanan saja. Hehehe. AJM/RedLP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *