Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (32)

Kepemimpinan Anis Matta (32)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Dua seri (30-31) saya bercerita pengalaman terkait Anis Matta. Ini sekadar membuktikan bahwa Anis Matta itu cukup njlimet, punya firasat bagus untuk memutus satu perkara. Jangankan masalah besar, masalah sederhana pun begitu. Ia tak ujug-ujug, grasa-grusu, seperti yang terlihat pada kepemimpinan PKS, saat ini. Mohon ingatkan saya, bila ada kebijakan kepemimpinan PKS saat ini, baik internal dan eksternal, yang benar-benar pas, tepat, dan berbuah manis di kemudian hari. Kecuali, kebijakan “oposisi loyal” (eksternal) dan penyingkiran (internal) itu dianggap tepat.

Kata Rocky Gerung, beroposisi itu tak memerlukan partai, tapi otak. Bayangkanlah partai beroposisi loyal. Makin kabur kan? Dan untuk itu oposan yang sebenarnya seperti Fahri Hamzah, dipecat. Makin kabur lagi. Ini sejak awal. Awal melangkah, malah. Tak ada, yang berbuah manis satu pun. Baru-baru ini, beredar video Ahmad Heryawan memberi dukungan buat caleg Gerindra di Dapil I, Jawa Barat. Apa lagi artinya itu? Apa Aher tak mendukung caleg dari PKS? Apa Aher tak diberi sanksi sebab itu? Apa Aher mau memenangkan Gerindra agar lebih mulus jadi menteri?.

Selain ujug-ujug dan grasa-ngusu, juga kerap terlambat dalam membaca situasi. Dan saat tersadar hendak berbalik, semua orang sudah tahu. Jejak digital, sungguh kejam. Berdiri di depan, tak lagi kokoh. Tak hanya soal oposisi, juga aksi 212 dan termasuk dukungan terhadap Prabowo-Sandi. Datangnya tak sekaligus. Tapi bertahap, setengah-setengah, maju-mundur, dan tak terlalu jelas arahan pimpinan seperti apa? Dukungan seperti Aher terhadap caleg Gerindra itu, sangatlah merugikan. Sebab ia icon partai. Dielu-elukan, ternyata mendukung caleg Gerindra secara terang.

Saya masuk fase pencalegan saja dulu, pencapresan diakhirkan saja. Oleh pimpinan PKS, pencalegan ini seperti dijadikan daya tawar untuk taat dan tsiqoh kepada pimpinan. Yang macam-macam akan dibuang jauh-jauh, bahkan tak dicalegkan lagi. Anis Matta mungkin segan ditawar-tawari caleg, tapi istrinya ditawari. Mungkin agar tetap terikat atau dikira Anis Matta cari makan dari posisi-posisi itu. Ia tahu bagaimana cara memisahkan urusan pribadi dan gerakan. Menerima keluarga dicaleg-calegkan begitu, bisa disalahartikan, walau dilabeli alasan perjuangan sekalipun.

Ada yang diturunkan nomor urut, karena tak tampak taat-tsiqoh pada pimpinan. Biasanya, di nomor urut atas. Ia mengamuk dan mengancam tak usah dicalegkan saja. Akhirnya nomor urut dikembalikan di tempat semestinya dengan syarat tak banyak macam-macam. Ini, termasuk yang sering diistilahkan Garpu (Gerakan Aran Pulang) sebagai sindiran terhadap Garbi (Gerakan Arah Baru Indonesia). Arah baru tak jelas lebih baik pulang. Begitulah. Entah siapa yang menang pada posisi ini? Orang yang kembali karena mengancam, lalu posisinya dikembalikan lagi? Atau siapa?

Ada yang dipindahkan Dapil, tapi karena nomor urut masih bagus, tak perlu dipersoalkan. Mungkin masih terjangkau dan peluang terpilih masih terbuka lebar. Apalagi yang bersangkutan, petahana atau masih menjabat (aleg). Dana-dana aspirasi sebagai dewan, bisa diarahkan ke Dapil yang baru. Apalagi partai yang riil, yang terdaftar sebagai peserta pemilu cuma PKS. Garbi entah kapan? Dan memang sejak awal, setahu saya, tak ada keinginan dari Anis Matta untuk membikin partai baru. Jangankan keinginan, rencana, terpikirkan pun, tidak. Ini termasuk Garpu berikutnya.

Tapi, ada juga yang tak terpengaruh, dengan tawar-menawar itu. Bahkan, terang-terangan mengundurkan diri dari pencalegan. Walaupun peluangnya tentu saja terbuka lebar sebab sebagai petahana. Yakni, Triyono, Rofi’ Munawar, Ahmad Zainuddin, dan Mahfudz Siddiq dan tentu saja Fahri Hamzah. Bagi mereka tak ada lagi harapan dan semua sudah habis. Cara-cara pengambilan kebijakan bukannya menguntungkan partai, malah merugikan. Saat ini dan di masa depan. Usaha perbaikan sudah dilakukan, tapi dianggap tak berarti apa-apa. Selesai lebih baik, ketimbang terus. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *