A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (33)

Kepemimpinan Anis Matta (33)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Tapi, kebijakan pencalegan ini juga tak bisa terlalu keras. Tawar-menawar dilakukan, tapi tetap ada tolak-ansur. Terutama, di daerah-daerah. Kalau terlalu keras, bisa membalik klepnya itu. Melanting ia, dan rusak terburai-burai semuanya. Karena, syarat-syarat pencalegan itu tak mudah. Diurus oleh orang-orang baru, bisa gagal semuanya, dan partai terancam tak bisa mengikuti pileg. Maka yang keras-keras dan tak jelas keberpihakannya, dilepaskan saja dulu sepanjang masih bisa digunakan tenaganya. Jadwal dan syarat pencalegan yang rigid, memang tak bisa semau-mau gue.

Pemecatan pengurus DPW Sulawesi Selatan sebelum proses pencalegan adalah bukti. Banyak sekali kursi kosong dan asal pasang saja. Yang penting bisa ikut dulu. Menang, urusan belakangan. Bahkan, sempat viral, kursi di DPRD Pinrang dipastikan kosong, karena tak ada satu pun caleg di situ. Ada seorang kader di Sumatera Barat asal Sulawesi Selatan, sudah lama tak pulang-pulang, kabarnya, menjadi caleg pula di Sulawesi Selatan. Entahlah, kapan ia bisa pulang? Di Sumatera Barat, ia tinggal di pelosok wilayah pula. Sudah begitu, target menang tak mau pula direvisi. Ini baru satu wilayah saja. Bagaimana jika pemecatan dilakukan di beberapa wilayah? Bisa-bisa, PKS gagal mengikuti pileg dan memang tak dapat apa-apa.

Maka, palu godam ditahan-tahan dulu. Biarkan proses pencalegan itu benar-benar selesai. Tapi, begitu selesai, langsung palu godam dipukulkan. Itulah korbannya seperti DPW Bali, DPW Sumatera Utara, DPW Kalimantan Selatan, dan DPW Kalimantan Timur. Mereka dipecat bareng justru setelah menyelesaikan tugas-tugas pada proses pencalegan. DPW Bali paling cepat respon karena langsung deklarasi Garbi dengan kekuatan full PKS di Bali. Padahal, saat itu Garbi masih seumuran jagung. Agaknya mereka juga tahu dihisap dulu, hingga habis, baru kemudian dibuang. Dan itu lebih sakit seperti diiris sembilu lalu diberi air cuka. Maka, responnya juga habis-habisan.

Memang, tak semua bisa ditawar-tawari jabatan, iming-iming, bahkan ancaman sekalipun. Yang melawan, melawan juga. Terutama, usai digebrak Fahri Hamzah. Lucu. Aktivis pergerakan diperlakukan tak adil! Kekuasaan negara pun dilawan, apalagi hanya kekuasaan partai. Coba saja kembali ditonton pernyataan-pernyataan awal tentang pemecatan Fahri Hamzah. Maka, tak susah menemukan aura arogansi di dalamnya. Bandingkan dengan sekarang, setelah semua berantakan? Justru yang terjadi terbalik 180 derajat. Seolah-olah merekalah yang sedang dizalimi ramai-ramai.

Maka, selain orang yang pendiam, tak mau berkonflik ekstrem, tersisa di PKS itu, mereka yang kehidupannya melengket betul dengan struktur PKS. Mereka ini pembelaan paling kuat, tak ada kompromi. Usut punya usut memang tidurnya di PKS, kerjanya di PKS, “tukang” jaga keluar-masuk pintu di PKS. Ada orang baru atau orang lama, tapi selama ini di luar lihat-lihat jauh, dan merasa peluang PKS masih sangat terbuka menjadi pemenang pemilu dengan segala hitungannya. Ada juga, mereka yang sama sekali baru, tak tahu masalah apa-apa. Yang tahu, yang tampak saja.

Sebetulnya, respon dari DPW Sumatera Utara, DPW Kalimantan Selatan, dan DPW Kalimantan Timur, juga cepat dan luar biasa. Tapi belum muncul dalam kekuatan full. Masih ada yang ditahan-tahan. Bahkan, Kalimantan Timur yang didukung Wagub terpilih, Hadi Mulyadi, masih bisa berbuat banyak. Tapi, itu tak dilakukan. Masykur Sarmian, Ketua DPW Kalimantan Timur yang dipecat, masih ada satu tanda tangan, yang apabila tak ditorehkannya, PKS di situ bisa gagal sebagai peserta pemilu. Tapi, itulah enaknya “menzalimi” orang baik. Stok sabar dan akal sehatnya masih surplus. Jadi, dibawa senyum saja. “Jangan lupa bahagia”, istilah Anis Matta. Jangan lupa bahagian, itu lain lagi. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *