Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (34)

Kepemimpinan Anis Matta (34)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Fahri Hamzah sendiri sebetulnya sudah terlihat hendak melakukan serangan balik. Ancar-ancarnya, sudah dibuat. Sesiapa para pihak, yang dulu memecatnya secara semena-mena, hendak di prosesnya secara hukum. Di samping, eksekusi terhadap putusan kasasi MA, berupa ganti rugi imaterial sebanyak 30 miliar terus ditagih. Dan konferensi pers terhadap itu, sudah dilakukan dan sangat gamblang. Tapi, tak ada angin dan tak ada badai, rencana itu, jangankan jelas eksekusinya, terdengar pun tidak. Hilang begitu saja. Fahri Hamzah seperti mentok dan tertahan, entah kenapa?

Usut punya usut, ternyata banyak yang memberikan masukan, agar rencana itu dihentikan terlebih dulu menjelang pemilu 17 April. Selepas itu, pupuhlah sejadi-jadinya. Bukan bermaksud menenggang pileg, melainkan pilpres. Bagaimanapun, impactnya merugikan salah satu pasangan calon, dan menguntungkan pasangan calon yang lain. Salah seorang yang turut serta memberikan masukan siapa lagi kalau bukan Anis Matta. Padahal baik Fahri Hamzah maupun Anis Matta, tak masuk timses mana pun. Bahkan PKS sangat tegas menolak keduanya masuk tim Prabowo-Sandi.

Itulah yang saya bilang, enaknya menzalimi orang baik. Tangannya mudah saja dialihkan, ditahan, untuk membalas atau terindikasi menzalimi orang lain. Ia tahu batas-batas, tahu hal yang lebih besar, tahu akibat dari kerusakan yang bakal terjadi. Bukan terhadap orang yang menzalimi, melainkan orang lain yang tak tahu apa-apa. Ia mustahil, menzalimi orang yang tak tahu apa-apa, walau dimaksudkan untuk membalas hal yang sepadan. Sebab kezaliman itu adalah satu tindakan yang balasannya, bukan mustahil diperlihatkan di dunia ini, tanpa harus menunggu Yaumil Akhir.

Sebaliknya, ada orang yang tak tahu apa-apa terkena juga getahnya. Ia berperkara dengan satu orang, tapi semua orang kena, malah semesta orang. Imam masjid ikut dipecat, guru yayasan dengan gaji kecil dipecat, ditakut-takuti, pengurus pesantren dicopot, tiap orang berperkara kerap ditindas #YangBesarinKamuSiapa, #KacangLupaKulitnya, pasangan orang direcokin, orang mau menikah pun disebar fitnah macam-macam, dipecat cuma lewat WA, orang disisihkan tanpa jelas salah apa, dan lain-lain. Malah tak sabar ganti orang yang digaji APBD dengan orang entah siapa?

Ini bentuk perbandingan yang tak sepadan. Tapi seperti menjadi kisah yang belum selesai. Dan pimpinan PKS melakukan strategi pembersihan yang berlapis-lapis. Ada pemecatan beramai-ramai, sebelum proses pencalegan seperti di Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan; lalu setelah proses pencalegan seperti di Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Belum termasuk yang sendiri-sendiri, yang tiba-tiba namanya lenyap, dan sebagainya. Juga, yang paling mengunci adalah strategi penandatanganan surat mengundurkan diri caleg, bertanggalkan kosong.

Kabarnya strateginya hanya untuk kursi DPR saja. Sementara untuk kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, tak berlaku. Tapi, kabarnya, ada juga yang sampai ke DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Yang jelas, strategi itu bukan hoaks, karena sempat viral dan menjadi perbincangan publik. Strategi ini benar-benar mengunci “mati” orang-orang yang macam-macam dengan pimpinan partai. Tak ada lagi orang seperti Fahri Hamzah. Semua harus manut dan nurut, tanpa banyak tanya. Tapi, apakah kursi PKS masih ada, bertambah, atau justru habis sama sekali?

Bila masih ada, apalagi bertambah banyak, dan menang sebagaimana yang dicita-citakan dengan janji kampanye bebas pajak motor, SIM seumur hidup, dan UU Perlindungan Ulama, tak ada lagi yang seenak itu berkuasa. Semua tombol sudah berada di tangan. Yang tak patuh dan tak taat langsung berlaku surat pengunduran diri saat itu juga. Dan yang bersangkutan langsung mati tegak, seperti imam masjid atau guru yayasan yang dipecat itu. Tapi, bila habis, maka strategi itu benar-benar efektif, malah sebelum sempat surat itu berlaku, ia sudah dijalankan sesuai takdirnya. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *