Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (35)

Kepemimpinan Anis Matta (35)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Tak hanya di tataran atas (caleg), di tataran bawah (kader inti), juga dibuat. Bila di tataran caleg dibuat surat pengunduran diri bertanggal kosong, di tataran kader inti dibuat lagi surat janji setia kepada pimpinan dalam situasi apa pun, selama tak bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ada yang mengistilahkan ini sebagai mu’ahadah atau bai’at ulang. Dan tak main-main, surat janji setia ini dibubuhi meterai 6000. Entah apa gunanya? Bila caleg melanggar, bisa langsung dicopot. Tapi, bila kader melanggar, mau diapakan? Mau dipecat sebagai kader atau diusut secara hukum?

Berarti, bila ia caleg dan juga kader inti, otomatis ia menandatangani dua “surat kematian” sekaligus. Entah, bagaimana caleg dan sekaligus kader inti seperti Hidayat Nur Wahid, serta para petinggi PKS lainnya? Apakah semua berlaku sama, atau ada pengkhususan-pengkhususan? Bila perintah ini langsung dari Ketua Majelis Syuro, Salim Segaf Al-Jufri, mestinya berlaku sama dan tak ada pengkhususan-pengkhususan. Kecuali, bukan perintah langsung dari beliau. Tapi, dengar-dengar semuanya memang perintah langsung dari beliau. Minimal sudah merupakan restu beliau.

Seperti kasus pencemaran nama baik atau ujaran kebencian terhadap Fahri Hamzah, yang diduga dilakukan Sohibul Iman, yang saat ini kasusnya masih berjalan, diakui sendiri oleh Salim Segaf Al-Jufri di depan publik, saat memberikan keterangan di depan awak media, usai diperiksa penyidik di Polda Metro Jaya. Bahwa, istilah berbohong dan membangkang, seperti disampaikan Sohibul Iman di depan publik, memang dari dirinya. Dialah yang pertama sekali menggelari atau mencap Fahri Hamzah sebagai pembohong dan pembangkang di internal PKS, bukan siapa-siapa.

Agak lucu memang. Salim Segaf Al-Jufri seperti membenarkan tindakan yang diduga, ada indikasi pidananya. Ia gagal memisahkan ruang privat dan ruang publik. Fahri Hamzah dikatakan pembohong dan pembangkang di ruang privat (internal PKS), ya tidak masalah. Seberapa banyak dan seberapa sering itu dilakukan, ya monggo. Tapi, di ruang publik tak bisa begitu. Ada Undang-Undangnya, ada aturannya, dan lain-lain. Apalagi Fahri Hamzah resmi dimenangkan Pengadilan. Alih-alih membenarkan atau membantu Sohibul Iman, ia sendiri bisa ikut terseret dalam masalah.

Tapi ini membuktikan lain bahwa memang semuanya berawal dari beliau. Boleh dibilang, apa pun yang terjadi saat ini, baik internal maupun eksternal PKS, adalah atas restu, sumbang sih, dan sepengetahuan beliau. Dugaan, termasuk dugaan saya sejak awal, bahwa beliau tidak banyak tahu tentang apa yang sedang terjadi karena sudah lama tak aktif di struktur partai, ternyata salah. Beliau sangat tahu dan jelas keberpihakannya dalam konflik PKS saat ini. Kader-kader di daerah yang mengadukan masalah kepada beliau, bukannya penyelesaian yang didapat, justru hukuman.

Seperti juga bocornya dokumen “Mewaspadai Gerakan Mengkudeta PKS”. Dibantah, tapi di beberapa daerah termasuk yang terekam dalam salah satu acara internal di Jakarta, ternyata itu benar yang lebih kurang disampaikan. Malah, lebih ngeri, karena dengan bahasa lisan. Termasuk, pemanggilan-pemanggilan terhadap anggota Majelis Syuro (MS), yang dilakukan BPDO. Semua atas restu dan sepengetahuan beliau. Formatur tunggal soalnya. Beliaulah yang menginginkan semua ini terjadi, dan ini cara beliau memimpin dan mendisiplinkan partai. Suka tak suka, harus diterima. Bila tidak, ya sudah!

Apakah cara ini akan berhasil? Masih menunggu. Tapi, seperti yang saya sampaikan, bila ini berhasil; artinya PKS menjadi partai pemenang pemilu, kursinya bertambah berkali-kali lipat, maka alangkah nikmatnya memimpin dalam situasi seperti itu? Atas-bawah semua kendali sudah dipegang seperti tali-tali yang terhubung antara satu dan lainnya. Tak ada lagi orang seperti Fahri Hamzah, Anis Matta, dan lain-lain. Semua damai, aman dan nyaman. Ini akan menjadi berkah yang luar biasa.

Tapi situasi ini, juga seperti membenarkan satu tesis bahwa kubu-kubu di PKS akan bersatu-padu bila berhadapan dengan kubu Anis Matta. Antar kubu lain, juga belum tentu. Apakah kubu di PKS tak hanya dua (keadilan dan sejahtera) seperti yang diketahui selama ini? Ada yang meyakini tidak dan saya termasuk di dalamnya. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *