Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (36)

Kepemimpinan Anis Matta (36)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Kemarin ada yang protes bahwa kalimat selama tidak bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya sudah hilang. Tak ada lagi kata-kata itu dalam surat janji setia. Yang protes, juga memberikan bukti surat janji setia bermeterai itu. Ini makin ngeri dan gelap. Entah apa yang terjadi di balik semua ini? Ada juga yang japri saya panjang mengatakan surat janji setia itu, usai ditandatangani nanti langsung dikumpulkan dan dibakar atau dibuang. Entahlah, mana yang benar? Tapi, ia dapat informasi langsung dari petinggi partai yang memintanya tanda tangan. Lalu, untuk apa? Sia-sia.

Tapi, apakah semua berjalan mulus? Tidak juga. Pengurus-pengurus yang dipecat, setelah pencalegan seperti di Bali, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, tentu ada yang terdaftar sebagai caleg. Ini akan mengalami dilema tersendiri. Bila kerja habis-habisan, dan duduk sebagai aleg, terbayang PAW di ujung tanduk. Bila santai-santai saja dan tak duduk, harus ada aktivitas lain, terutama bila ia petahana. Dan ini tak mudah. Termasuk juga, caleg-caleg yang sudah tanda tangan surat pengunduran diri bertanggal kosong. Apakah ia semakin heroik bekerja?

Yang ada, semakin setengah-setengah. Uang pensiun sudah harus disisihkan seberapa ada, seberapa bisa. Bagi yang bukan petahana semangat tentu ada, tapi yang punya uang bisa dihitung pakai jari. Infak kader yang diharapkan, berapalah kuatnya. Maka dicarilah kampanye-kampanye yang murah meriah. Media sosial jadi salah satunya. Share foto, share video, seberapa bisa. Yang pasang spanduk, baliho, apalagi billboard, dalam jumlah banyak, hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup. Kampanye flashmob itu juga murah-meriah. Termasuk janji-janji gratis ini dan itu. Orang sulit menang, kadang mudah berjanji. Karena, bila benar, janji itu bisa diusung sejak lama.

Apakah kader-kader yang sudah tanda tangan janji setia bermeterai 6000 makin bergelora semangatnya? Tidak juga. Pasti ada yang setengah-setengah juga. Malas berurusan panjang yang tak berujung, lebih baik tanda tangan saja. Apalagi yang punya pekerjaan lain, terkait dinas yang macam-macam. Akhirnya tanda tangan juga, walau hati kecil menolak. Baru kali ini sebuah janji setia harus dibuktikan dengan tanda tangan bermeterai 6000. Padahal telah puluhan tahun sejalan. Jangankan ada konflik, tak ada konflik pun, menggerakkan kader itu, bukanlah pekerjaan mudah.

Belum lagi caleg-caleg yang mendua lalu tiarap saja lagi. Atau kebalikannya seperti caleg DPR RI di Yogyakarta, Fahima Indrawati. Ia kader ahli pula. Bila kader ahli di PKS itu suaranya tiga, dalam pemilihan-pemilihan internal. Ia terang-terangan menyatakan mundur dan keluar dari PKS. Dari surat pernyataannya yang tersebar luas di media sosial, sepertinya ia sudah tidak tahan lagi, ada beban berat di pundaknya, lalu buncah pada tanggal 27 Februari, lalu. Ia tak bisa keluar atau mundur dari pencalegan karena itu, pidana. Ia berani mundur dari PKS dan tentu saja itu poin keras.

Atau, caleg-caleg yang asal pasang untuk memenuhi kuota. Apakah mereka dapat bekerja untuk memenangkan partai? Yang bisa, bisa. Yang tidak, juga tidak. Yang bisa, nanti juga punya masalah tersendiri. Istilahnya, caleg eksternal. Bayangkan, sudah resmi sebagai caleg pun, masih ada kategori internal-eksternal. Bila caleg eksternal mengidentifikasi dirinya masih sebagai pihak luar, apakah ia tak merasa tersisih? Kader-kader diarahkan untuk memenangkan caleg internal, ia (caleg eksternal) mencari suara sendiri di rimba politik. Mereka akan tersisih, di komunitas ramai.

Lihatlah, caleg Alhuda untuk DPRD Pasaman Barat, Sumatera Barat. Ia bermasalah pelik karena diduga mencabuli anaknya sendiri, sejak lama. Ia melarikan diri dan sedang dikejar oleh polisi setempat. Beritanya, tak hanya menggetarkan atau membuat geram Pasaman Barat dan Sumatera Barat, tapi juga republik Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi? Tapi, pihak PKS dengan gersit langsung membuat kategori caleg internal dan eksternal. Artinya, “atah” dan beras langsung dipisah. Jangankan membela, memohon maaf pada publik atas kelalaian, ia malah dibuang dengan dingin. Jangankan suara, bahkan cacat moral yang diperoleh. Sementara, moral itulah yang selama ini dijual.

Belum lagi efek pileg dan pilpres yang serentak. Efek ekor jas relatif jelas diraih Gerindra, PDIP, dan PKB. Partai-partai lain, tak hanya PKS, mengalami masalah suara (elektabilitas) yang tak mudah. Menyalahkan Gerindra, ia teman koalisi. Hari ini, PSI mulai menyerang PDIP karena sadar suaranya tersedot ke situ. Padahal, PKS lebih dulu melakukan itu untuk Gerindra. Memang tak banyak membantu dan cenderung kontra-produktif. Akhirnya, tak banyak yang bisa dilakukan, kecuali menerima keadaan apa adanya. Tak bekerja maksimal buat Prabowo-Sandi kalau menang bagaimana? Bekerja maksimal buat Prabowo-Sandi, suara mengalir deras buat Gerindra. Dilema. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *