Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (38)

Kepemimpinan Anis Matta (38)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Kenapa Salim Segaf Al-Jufri yang direkomendasikan GNPF Ulama? Kenapa bukan Aher sebagai peraih suara terbanyak di PKS? Kalau kader PKS juga, kenapa bukan 9 nama yang sudah dilempar ke publik dan Salim Segaf Al-Jufri hanya berada di posisi ke-6, dengan perolehan suara hanya sekitar 1 persen saja? Kenapa tak ada kandidat dari partai lain seperti PAN, Demokrat, dan PBB? Yusril, Amien Rais, dan Zulkifli Hasan, juga berorasi bagus, dalam acara GNPF Ulama itu. Kalau Abdul Somad, publik mengerti. Ia sedang naik daun.

Kenapa PKS harus mengeluarkan 9 nama capres/cawapres? Kenapa tak 1, 2, 3 atau 5 saja? Kenapa harus 9, sementara jarak antara posisi ke-3 dan ke-4, apalagi ke-6 dan 9, terlalu jomplang. Kenapa PKS terlalu cepat merilis 9 nama capres/cawapres-nya sementara partai-partai lain masih adem ayem saja? Bahkan pemilu internal sudah dilakukan jauh hari sebelum pilkada DKI Jakarta. Diadakan 2 kali dengan cara memperluas jumlah pemilih yang sebelumnya buat jenjang ahli saja.

Kenapa setelah dirilis 9 nama capres/cawapres ke publik justru tak dibolehkan sosialisasi? Harusnya ‘kan, mesti sebaliknya? Kenapa Aher, termasuk yang lain, saat mendatangi acara-acara struktur justru difasilitasi, sementara Anis Matta justru dilarang, bahkan diboikot? Kenapa baliho-baliho yang dipasang oleh relawan Anis Matta dipandang negatif, sementara baliho Salim Segaf Al-Jufri dan Sohibul Iman bersama para struktur daerah justru seperti diwajibkan? Tak bisa tidak.

Kenapa harus balik ke Prabowo, padahal awal-awal, jelas sekali “mengetuk” pintu istana? Kenapa terlalu percaya 9 nama capres/cawapres internal itu, bakal diambil salah satunya sebagai pendamping Prabowo? Tidakkah ada sinyal-sinyal sedikitpun Prabowo bakal menolak ke-9 nama itu? Kenapa tak menggalang poros ketiga, kalau sangat yakin bahwa efek ekor jas itu akan sangat berdampak? Menekan Prabowo harus memilih calon dari PKS, tanpa alternatif, apakah itu efektif? Harus disadari, kali ini Prabowo tak cuma ingin sekadar pendamping, cawapres. Ia ingin menang.

Kenapa Anis Matta selalu dibuat pengecualian saat ditawarkan kepada pihak luar? Malah, terang-terangan dikatakan di hadapan publik sebagai kandidat yang sudah keluar dari tradisi PKS? Apa sebetulnya tradisi PKS? Menawarkan diri diam-diam kepada calon lain, apakah itu termasuk tradisi PKS? Jangankan diperlakukan sama, saat ditawarkan pada pihak luar, di internal saja Anis Matta telah dihalang-halangi. Kalau begitu, kenapa nama Anis Matta tak dibuang saja sejak awal?

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa terus diperpanjang. Setidaknya, ini melingkupi pertanyaan untuk internal dan eksternal. Menjawabnya satu-satu akan bisa melengkapi semua yang ada pada fase pencapresan ini. Tapi, akan sangat panjang. Harus dipilah-pilah lagi, mana yang relevan dan tidak. Apa yang terjadi saat ini ialah akibat dari semua jawaban, atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas.

Tak ada yang berdiri sendiri karena bukan ruang hampa. Satu jawaban resmi hanya dari internal, percayalah bahwa itu tak memadai. Saya mendengar hari-hari, indentifikasi masalah yang dibuat Anis Matta, memang kompleks dan tak mudah. Maka satu kebijakan yang tak dikaji secara mendalam, dampaknya akan sangat buruk. Dan itulah sepertinya yang dialami PKS saat ini. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *