Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (39)

Kepemimpinan Anis Matta (39)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Inilah enaknya sejarawan. Ia menulis peristiwa yang sudah selesai. Beda dengan ilmuwan politik yang menulis peristiwa yang sedang berlangsung. Ada kalanya, peristiwa yang ia tulis itu, berakhir tak sebagaimana yang ia tulis. Tapi, bila sejarawan pasti menulis sebagaimana peristiwa itu terjadi, dari A sampai Z. Sebab peristiwanya sudah selesai. Selama ada fakta-fakta, selama itu peristiwa itu bisa ditulis. Perspektif sejarawan yang berbeda membuat peristiwa itu lebih lengkap.

Sulit untuk tidak mengatakan Ketua Majelis Syuro, Salim Segaf Al-Jufri berminat, malah sangat berminat, menjadi cawapres. Mulai dari keputusan Majelis Syuro 9 nama capres/cawapres, hingga rekomendasi GNPF Ulama yang memunculkan namanya. Satu sisi salut juga, kenapa tiba-tiba namanya bisa masuk rekomendasi GNPF Ulama? Berarti, ada suatu hal. Asap tak ada kalau tak ada api. Minimal, ini komunikasi yang terus dibangun. Walau di urutan 6, peluang masih ada.

Haikal Hassan melalui viedo pendeknya yang tersebar masif di media sosial, mengatakan langkah GNPF Ulama itu–mengeluarkan nama Abdul Somad dan Salim Segaf Al-Jufri–sebagai jebakan buat Jokowi untuk kemudian memilih ulama juga, yakni KH Ma’ruf Amin. Dan akhirnya Prabowo menang, karena memilih Sandi. Tapi, ada juga yang mengatakan justru itu langkah dari pihak Jokowi untuk menjebak Prabowo agar mudah dikalahkan. Dan Prabowo tahu itu. Makanya ditolak, malah kabarnya sampai bicara dengan nada tinggi dan marah-marah dengan tindakan itu. Ketua Majelis Syuro sekadar jebakan, kasihan juga.

Apalagi, dapat kabar dari teman di Gerindra bahwa selain “menjual” nama-nama kandidat internal, ia juga membawa namanya sendiri kepada Prabowo. Gelagatnya tampak sekali di publik, bahwa Prabowo sudah tutup buku. Maka, dibukalah komunikasi dengan Demokrat, yang rupanya jelas-jelas menawarkan AHY. Sepertinya Demokrat juga tak konkret atas soal-soal yang esensial, maka Prabowo langsung berbelok kepada Sandi dengan syarat, ia mengurus amunisi partai-partai.

Belum lagi, jaulah-jaulah ke berbagai daerah. Baliho, spanduk, poster, termasuk poster di media sosial dengan tagline pasangan, “Militer-Ulama”. Kajian-kajian ilmiah pun dibuat, positif-negatif, tentu banyak yang positifnya. Disampaikan secara informal dan formal, bahkan di forum Majelis Syuro sekalipun, hingga beliau sendiri yang mengungkapkan kepada para hadirin, bahwa Prabowo tak mau berpasangan dengannya. Dan ternyata, pilihan Prabowo banyak juga positifnya.

Mestinya, sebagai Ketua Majelis Syuro beliau adalah penjaga “suara roh”. Lebih memilih berumah di atas angin. Menjauh dari politik “hari-hari” yang berubah cepat. Apalagi hasil pemilu internal sudah jauh-jauh hari jelas. Bahwa internal itu mempercayai tiga orang saja. Yakni, Aher, HNW, Anis Matta. Beliau harusnya menjadi wasit yang adil terhadap tiga orang ini. Beri arahan, dorongan, dan motivasi yang sama buat kebesaran partai. Tapi sayang, itu benar yang tak terlihat.

Beliau memilih terjun langsung dalam politik hari-hari. Baik di internal maupun eksternal. Bahkan pemecatan Fahri Hamzah, gelar pembohong dan pembangkang, seperti diakuinya sendiri di hadapan publik, dari dirinya sendiri. Tak sedikit yang menyayangkan. Bahkan, secara sukarela memprakarsai islah, mencari jalan keluar, baik kolega dari dalam maupun luar negeri. Semuanya menerpa ruang kosong. Padahal, Fahri Hamzah juga terkenal di publik sebagai orang baik, bersih. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *