Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (40)

Kepemimpinan Anis Matta (40)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Anis Matta termasuk yang sependapat dengan banyak bacapres atau capres yang nantinya maju. Baik internal maupun eksternal. Makanya ia termasuk yang mendukung pencapresan tanpa syarat atau sering disebut, nol persen. Asal peserta pemilu, parpol berhak mengusung satu pasang capres-cawapres. Berkoalisi dengan parpol lain mengusung juga boleh. Itu hak. Maka akan ramai capres-cawapres. Pilpres jadi seru. Tak ada istilah “coattail effect”. Pilpres, mustahil satu putaran.

Tapi, parpol-parpol, sepertinya tak serius, terutama yang dalam pemerintahan. Sadar akan terbakar, tapi main api juga. Mereka sok-sokan mendukung syarat pencapresan 20 persen. Malah, parpol non-parlemen seperti PSI juga ikut-ikutan. Mendukung Jokowi baginya seperti harga mati. Akhirnya, sekarang ia bertengkar dengan PDIP, karena sadar suaranya tersedot. Golkar berseteru dengan NasDem. Bahkan, walau laten, PKS versus Gerindra. Sistem pemilu kali ini bisa menjadi kuburan bagi parpol-parpol. Tak ada yang bisa merasa selamat sebelum hari H, kecuali PDIP dan Gerindra.

Agaknya hanya Demokrat yang menyadari situasi saat ini. Makanya sampai detik terakhir, ia (SBY) belum menentukan pilihan. Bahkan saat semua parpol sudah klop, SBY masih berharap ada parpol yang menggelicik, membuat poros ketiga. Pilihan Jokowi terhadap Ma’ruf Amin betul-betul menyolidkan koalisi petahana. Harapannya tentu, periode selanjutnya tak ada yang merasa membesarkan anak singa. Tapi kalau kalah, semua sudah tahu, siapa yang nanti harus disalahkan.

Saya lihat Anis Matta sudah gatal-gatal tangannya. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. PKS tak membuat terobosan baru. Sejak awal, rezim baru PKS tak terlihat memiliki visi-misi dan menguasai peta perpolitikan Indonesia dengan baik. Langkah-langkahnya terlalu mudah dibaca dan sangat mentah. Eksekusi juga kerap terlambat. Bukannya mendekat pada Demokrat membuat poros baru, malah menjauh dan cenderung bertentangan pula terhadap langkah-langkah yang dibuat. Merasa Gerindra mendekati Demokrat, PKS malah seperti menghantam.

Bukan rahasia umum, di pilkada Jawa Barat bahkan berseteru secara terbuka. Rezim baru PKS agaknya punya catatan tersendiri dengan Demokrat, sehingga dalam koalisi-koalisi strategis menjauh dari Demokrat. Entah sepenting apa catatan itu? Padahal, rata-rata petinggi PKS saat ini adalah bekas menteri pada zaman SBY. Setelah gagal mengetuk pintu istana, bergabung menjadi parpol pemerintah, sepertinya PKS hanya bertumpu pada Gerindra. Semua jadi terserah Gerindra.

Tak sedikit yang mengingatkan. Memberi lampu kuning atau merah. Berupa sindiran atau langsung, tertutup atau terang-terangan. Saya termasuk yang terang-terangan. Malah sebab itulah saya dihukum. Baca saja tulisan saya–terutama dalam buku ARAH BARU: Konflik di Tubuh PKS dan Masa Depan Politik Islam–kalau tak percaya. Tapi, tak sedikitpun digubris. Rezim doktor ini memang terlalu percaya diri, sejak awal. Meliuk-liuk di jalan politik yang sebetulnya lurus-lurus saja. Kini, tak satu pun yang didapat dan riil. Lalu, kader masih dilarang mengkritik. Mengkritik berarti membuka aib, pembangkang, gerakan sempalan, bughat, macam-macam pokoknya. Bagaimana bisa?. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *