A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (41)

Kepemimpinan Anis Matta (41)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Di internal, Anis Matta juga sependapat dengan dimunculkannya 9 nama capres/cawapres. Tapi ia tak sependapat dengan pembatasan-pembatasan. Kabarnya, masing-masing ada pengawas pula. Entah, mau apa? 9 nama capres/cawapres diminta hanya duduk manis saja. Pasif menunggu pinangan mitra koalisi. Dan dalam hal ini mitra koalisi itu sinyalnya hanya satu, yakni Gerindra. Tak ada lagi manuver berarti. Yang mengurus pinangan, siapa lagi kalau bukan yang sedang berkuasa.

Apa pun diberikan, jika Gerindra yang minta. Kursi cawagub DKI Jakarta diberikan, PKS cukup sebagai pendukung saja, walau punya kursi signifikan. Berpindah dukungan paslon, dalam pilkada Jawa Barat, juga dituruti karena itu maunya Gerindra. Tidak gratis juga, tentu saja. Mana pula ada politik yang gratis. Kini, minta kursi Wagub DKI Jakarta yang ditinggalkan Sandi gratis. Ya, mana bisa. ‘Kan, PKS tahu caranya? Bukan Prabowo tak mau mengambil kader PKS sebagai cawapres. Ya, memang tidak PAS saja. Apalagi, yang disodorkan nama sendiri pula yang 1% itu.

Tak hanya Anis Matta, yang mengamati proses ini dengan baik akan langsung bergumam, “emm..ketahuan maunya, ada udang di balik batu.” Makanya sejak awal Anis Matta menganggap, ini sebagai jalan terjal berbatu. Mustahil, tapi tak bisa juga menyerah atau lempar handuk. Proses harus dijalankan. Walau tahu hasil akan sama saja, tapi lebih baik gagal setelah bekerja, daripada gagal dalam keadaan duduk manis. Pelajaran, pengalaman, juga hikmah, sesuatu yang tak ternilai.

Apalagi Anis Matta punya relawan-relawan yang siap bekerja. Pemasangan baliho-baliho, billboard, dan lain-lain. Kunjungan-kunjungan ke daerah, walau dihalang-halangi, diboikot, jalan terus. Semua harus terlibat, semua harus menyaksikan. Duduk manis menunggu pinangan, bukan saja memalukan, juga mustahil karena pengantin sudah mematut-matut diri. Ketua Majelis Syuro, termasuk Presiden Partai terlihat berminat memakai tiket sendiri. Presiden Partai memakai istilah mandataris Majelis Syuro. Artinya, ia sadar pegang stempel. Tapi, hasil sama-sama tahu. Kosong.

Selain mengerti perpolitikan nasional, Anis Matta mengerti betul perpolitikan dalam PKS. Kalau dibawa pada kompetisi yang fair play, kompetitornya hanya dua, yakni Aher dan HNW. Ia tahu persis Aher akan berat, karena aroma kasus-kasusnya saat menjabat tercium keras. Sekarang saja entah sudah berapa kali Aher diperiksa penyidik Polri dalam kasus BJB Syariah? Belum lagi kasus Meikarta yang terus dikembangkan KPK. Walau belum berstatus apa-apa, tapi kalau benar-benar maju akan menjadi beban. Sementara HNW, di pilkada DKI Jakarta saja tak bisa melawan.

Akhirnya, kembali pada niat baik. Untuk apa kita berdakwah? Sayang, niat baik itu hanya kita dan Allah Yang Maha Tahu. Orang lain tak ada yang tahu, termasuk teman dekat kita. Maka, Anis Matta kerap mengatakan soal semangat pertanggungjawaban. Semua orang tanpa terkecuali, akan mempertanggungjawabkan apa yang dikerjakannya masing-masing. Anis Matta turun untuk kembali menyemangati kader-kader PKS yang tak tahu menahu, soal apa yang terjadi. Semangat itu ada dan masih kuat. Tiap ia turun, walau tak banyak, disambut gelora semangat yang menyala.

Tapi ruang terlalu sempit dan waktu terlalu singkat pula. Bukan diciptakan orang lain tapi oleh teman sendiri. Ia bukan tak pernah memegang posisi. Pernah. Bahkan dalam waktu yang tak singkat. Tapi tak begitu betul menjalankan amanah dari posisi itu. Sekali ia tak memegang posisi, sekali itu juga selesai. Tak ada ruang, tak ada waktu, semua dikunci. Bentuk ke iya saja, akhirnya semua berderai-derai. Siap-siap dalih dan kambing hitam. Aslinya orang itu memang terlihat saat ia memegang posisi dan harta. Selamat ia dari kemiskinan, belum tentu selamat dari kemewahan. Begitu juga saat berkuasa. AJM/RedLP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *