A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (42)

Kepemimpinan Anis Matta (42)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Maka, sebenarnya, tak ada guna proses-proses internal dilakukan. Pemilu-pemilu internal yang gagap, rapat-rapat, termasuk rapat-rapat Majelis Syuro sekadar formalitas saja. Memang itu bukan patokan utama, melainkan hanya referensi bagi pimpinan untuk membuat kebijakan. Tapi, kalau semua dikesampingkan, lalu buat apa? Kalau hasil akhirnya bagus, juga tak apa-apa. Kalau hasilnya nol, siapa yang harus bertanggung jawab? Proses dan hasil sama-sama jelek, habis main.

Tapi, main, belum benar-benar habis. Masih ada 17 April. Semua kemampuan masih bisa dikerahkan. Janji gratis ini, gratis itu, sudah diumumkan. Tapi, seperti kata Anis Matta, bila opini publik saja tidak dimenangkan, bagaimana proses lainnya bisa diteruskan? Malah kecenderungan opini publik itu ditentang. Mengorbankan ranah publik untuk ranah pribadi. Maka, permainan ini sebetulnya tak lagi sepenuhnya dikendalikan pihak internal, tapi lebih banyak dikendalikan pihak eksternal. Pihak internal masih bisa dikendalikan lewat berbagai cara, pihak eksternal bagaimana?

Dulu, buat memuluskan niatnya petinggi-petinggi PKS masih berani mengultimatum atau mengancam Prabowo. Kini, mana bisa lagi? Semua sudah berubah drastis. Yang megang kendali, tak hanya kita. Dulu, bisa kasih batas warning Ramadhan 2018, misalnya. Kalau sampai batas itu Prabowo belum memilih 1 dari 9 nama cawapres dari PKS–bahasa publiknya begitu–maka PKS bisa saja berpikir ulang. Acara di Sentul akan dijadikan tempat deklarasi itu. Tapi, Prabowo tegas menolak deklarasi itu. Bahkan, kabarnya balik pula mengancam tak akan hadir acara itu, bila ada deklarasi-deklarasian. Samak betul, barangkali hati Prabowo. Diultimatum-ultimatum tak karuan.

Fahri Hamzah pernah bercerita kepada saya. Prabowo sebetulnya pernah bertanya tentang siapa pimpinan PKS ini? Ia spesifik menyebutkan nama Sohibul Iman. Di mana ia saat reformasi 1998 dulu? Prabowo boleh dibilang kenal betul siapa-siapa pentolan reformasi 1998. Dari Amien Rais hingga tokoh-tokoh mahasiswa seperti Fahri Hamzah. Tentu, Fahri Hamzah tak bisa banyak bercerita. Diceritakan pun, susah. Prabowonya sedang kesal didesak-desak, diultimatum tak jelas.

PKS bisa menghapus jejak-jejak Fahri Hamzah di internal, di eksternal tak bisa. Prabowo kenal baik dengan Fahri Hamzah. Begitu juga saat BJ Habibie hadir dalam acara PKS, saat Fahri Hamzah sudah dipecat. Tentu BJ Habibie tak bersua dengan Fahri Hamzah. Dan sepertinya ia tak mendapat cerita yang berimbang sehingga Fahri Hamzah harus menyambangi BJ Habibie makan malam di rumahnya. Fahri Hamzah juga sudah mengenal baik BJ Habibie jauh hari, saat bersama Adi Sasono. Maka, politik itu sebenarnya bukan yang ada di atas kertas saja, tapi juga di balik itu.

Mengultimatum, mengancam atau mendesak-desak orang, kalau tak tepat, bisa membalik klep itu. Orang jadi tahu kualitas sebenarnya si penggertak. Itulah yang terjadi. Anis Matta dan 8 bacawapres internal lainnya, juga ada dalam acara itu. Saat itu harapan islah sudah terbuka lebar, karena Fahri Hamzah sudah mencabut laporan pidananya terhadap Sohibul Iman. Tapi, lagi-lagi, harapan tinggallah harapan. Ramadhan 2018 berlalu begitu saja. Fahri Hamzah melanjutkan lagi laporannya. Itu pula yang dijadikan alasan oleh kuasa hukum Sohibul Iman bahwa kasus itu batal demi hukum. Karena sudah pernah dicabut oleh si pelapor. Benar-benar pemutarbalikan niat baik.

Itulah pertemuan pertama dan terakhir kalinya Anis Matta secara formal di hadapan kader-kader PKS. Setelah itu, tak ada lagi. Di tempat yang sama, terbukti mengultimatum, mengancam, atau mendesak-desak Prabowo, gagal total. Juga sekaligus gagal islah secara internal. Anis Matta menjadi makmum shalat tarawih yang diimami ustaz Musyafa. Saat itu ayat-ayat yang dibacakan bercerita tentang kisah antara nabi Musa dan Khidir. Usai shalat tarawih itulah, Anis Matta mulai melontarkan kalimat, “akhirnya dua orang saleh itu berpisah”. Tentu dengan perasaan pilu, bukan riang gembira. Ini semua bukan cerita satu purnama. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *