Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (43)

Kepemimpinan Anis Matta (43)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Agar lebih terang, perlu juga dibuat fase-fase pencapresan ala PKS ini. Pertama, berjarak. Setelah begitu dekat, saat pilpres 2014. Ini terjadi, karena perubahan kepemimpinan di PKS. Ada usaha bermanuver tapi gagal. Bagi PKS tentu itu karena ia yang tak mau atau menolak. Tapi bisa jadi bagi pihak istana, itu kebalikan. Ia yang merasa sudah cukup, karena itu, tak dibutuhkan lagi tambahan. Tapi, usaha untuk mengubah haluan politik itu sangat terasa sekali. Dan itu biasa saja, kalau hitung-hitungannya jelas. Kalau asal beda, itu yang susah. Laba tak dapat, rugi sudah pasti.

Kedua, balik lagi. Ini terjadi karena perubahan politik nasional begitu cepat. Sekitar akhir 2015 dilantik, sedang euphoria-euphoria, pertengahan 2016, sudah terjadi ribut-ribut soal pilkada DKI Jakarta. Apa lagi kalau bukan soal Ahok. Walau bukan pelopor, PKS “terpaksa” merapat ke dalam aksi umat, menentang Ahok. Orang, terutama FPI, sudah lama, PKS khawatir betul, dicap sebagai mempolitisasi agama. Maka, PKS bergandengan tangan lagi dengan Prabowo. PAN akhirnya juga turut bergabung, tapi Amien Rais, sejak awal. Tokoh reformasi ini, selalu hadir dalam peristiwa penting di republik ini.

Ketiga, longgar lagi dan kuat lagi. Ini terjadi usai pilkada DKI Jakarta. Gerindra dan PKS menang, tapi PKS sadar sekali, tak benar-benar menang. Tapi, di mata petahana atau pemerintah, daya tawarnya naik lagi. Di situlah mulai terjalin lagi komunikasi dengan pihak istana. Tapi, kali ini agaknya, diam-diam. Otomatis, dengan Prabowo longgar lagi. Mulai menguat lagi setelah masuk pilkada Jawa Barat. Agaknya juga pihak istana tawarannya tak konkret. Sementara ada keinginan isu pilkada DKI harus dipertahankan hingga pilpres, karena menguntungkan. Dan memang polarisasi itu nyata. Bukankah Gerindra dan PKS sudah cukup mengusung calon sendiri?

Keempat, ultimatum atau mengancam. Ini terjadi karena PKS merasa sudah menyerahkan segalanya, buat Gerindra. Pilkada DKI Jakarta, pilkada Jawa Barat, dan beberapa pilkada lainnya. Sudah seharusnya kepastian cawapres diberikan. PKS ingin cepat sebab itu berarti sudah menang. Tidak saja terhadap politik eksternal, juga internal. Dulu, PKS tak dapat wakil, kini dapat. Suara-suara kritis di dalam, otomatis terbungkam dengan sendirinya. Istilah under capacity, juga hilang.

Tapi, bagi Prabowo, semua bukanlah penyerahkan, melainkan kesepakatan bersama. Tak ada yang gratis. Prabowo sadar tak bakalan meninggalkan PKS setelah begitu jauh berjalan. Tapi, buru-buru mengambil cawapres dari PKS, apalagi di publik diberikan bulat-bulat, tapi ada batas-batasan tersendiri. Itu tak saja menyeret Prabowo dalam pusaran konflik internal PKS, juga akan berat. Bagaimanapun Prabowo lebih dulu dekat dengan Anis Matta dan Fahri Hamzah ketimbang rezim baru PKS. Wajar, Prabowo kesal juga dengan ultimatum atau ancaman itu. Maka, komunikasi dengan Demokrat-PAN terus dijaga. Malah, PAN terlihat setia dan tak banyak cincong usai pilkada DKI.

Kelima, tak ke mana-mana. Ini terjadi karena memang tak ada pilihan lain. PKS menekan tak diiringi dengan alternatif. Manuver atau terobosan, tak pernah dibuat. Maka, mungkin terbaca oleh Prabowo, PKS juga tak akan ke mana-mana. Calon alternatif tinggal Gatot Nurmantyo. PKS tak bakal merapat ke Gatot Nurmantyo sebab disinyalir dekat dengan Anis Matta. Memilih Gatot Nurmantyo berarti memilih Anis Matta. Ini nggak benar, pokoknya. Jangan sampai terjadi. Sama saja dengan mendukung Anis Matta.

Maka, PKS tak bisa berbuat apa-apa saat Prabowo akhirnya memilih Sandi sebagai pendamping. Walau sebetulnya pilihan itu bertentangan dengan substansi keputusan Majelis Syuro soal calon separtai. Keputusan itu ditentang keras, tapi jalan terus. Saya dengar, ada salah seorang anggota Majelis Syuro yang berani mencap tindakan itu sebagai tindakan pengkhianatan, tapi tetap tak digubris. Dan rapat Majelis Syuro tak pernah lagi terdengar setelah itu, hingga sekarang. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *