A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (44)

Kepemimpinan Anis Matta (44)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Keenam, mengancam lagi. Ini terjadi persisnya, setelah resmi mengusung Prabowo-Sandi. Ada dua hal, setidaknya yang diancam di sini. Satu, masuknya Anis Matta dan Fahri Hamzah, ke Tim BPN Prabowo-Sandi. Kalau masuk, maka PKS keluar! Kira-kira, begitu. Dua, kursi Wagub DKI Jakarta yang ditinggalkan Sandi otomatis menjadi milik PKS. Itu seperti tukar guling antara kursi cawapres PKS yang “diambil” Sandi, dengan kursi Wagub yang ditinggalkan. Ini dianggap lunas. Kalau tidak, PKS akan “mematikan” mesin politiknya, untuk pemenangan Prabowo-Sandi. Sebetulnya, ancam-mengancam ini bukan cara PKS, tapi mau apa lagi? Mengancam dalam posisi lemah pula. Celakanya, pihak yang diancam tahu itu. Mana efektif? Akhirnya, berlalu begitu saja.

Ketujuh, mematikan mesin. Ini terjadi karena satu dari ancaman di atas tak dipenuhi, satu lainnya yang bisa dipenuhi. Yakni, tak memasukkan Anis Matta dan Fahri Hamzah, ke Tim BPN Prabowo-Sandi. Tapi, seperti yang sering dikatakan Fahri Hamzah, bahwa ia mustahil bergabung ke Tim TKN Jokowi-Ma’ruf. Selain karena kritik-kritiknya, teramat substansial terhadap Jokowi-JK, juga posisinya sebagai wakil rakyat. Fahri Hamzah sangat sadar, apa tugas yang diembannya. Apalagi kedekatannya dengan Prabowo-Sandi secara pribadi tak bisa dihapuskan begitu saja oleh rezim baru PKS. Pegang stempel boleh saja, tapi tak bisa serta merta menghapus hubungan orang. Dipenuhi juga tapi tak penuh. Sementara kursi Wagub DKI tak jelas ujung kepalanya hingga kini.

Maka, tak ada cara lain, kecuali, ancaman mematikan mesin itu dilaksanakan. Pertemuan terakhir DPP PKS dan kepala-kepala daerah asal PKS tak terlihat lagi, usaha memberi dukungan terhadap Prabowo-Sandi. Terlihat juga pasca pertemuan itu, aura kepala-kepala daerah asal PKS memenangkan Prabowo-Sandi, makin kabur. Justru dukungan terhadap Jokowi-Ma’ruf yang jelas tercium dan terang-terangan. Belum lagi kepala-kepala daerah yang sudah mulai merapat kepada Jokowi jauh-jauh hari seperti Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, melalui tulisannya yang fenomenal soal blusukan Jokowi. Juga, kritikan yang dilancarkan Presiden PKS soal durasian itu. Terlihat sekali, PKS tak menghiraukan lagi soal pilpres, tapi hanya fokus pada pemenangan pileg.

Kedelapan, merapat terakhir. Ini terjadi karena ada gejala terjadinya perubahan konstelasi politik. Walau masih dipercaya berada di bawah Jokowi-Ma’ruf, entah kenapa orang yakin, yang keluar sebagai pemenang nantinya Prabowo-Sandi? Persis perasaan ini seperti pilkada DKI yang dialami Ahok. Menang di perhitungan survei, tapi keok dalam perhitungan KPU. Ini bukan tanpa gejala. Penurunan elektabilitas petahana sungguh terasa, auranya seperti telah sirna. Orang mulai jenuh, tak ada perubahan berarti. Begitu-begitu saja. Malah, semakin buruk. Sementara sambutan terhadap Prabowo-Sandi terus mengalir seperti gelombang. Alamiah, apa adanya, tanpa settingan.

Petinggi PKS juga sadar itu. Maka, pelan-pelan merapat lagi. Minimal, jejak-jejaknya ada, tak terlalu kentara menjauh. Repot nanti kalau benar-benar menang, apa yang mau diklaim? Tapi, pihak Prabowo-Sandi agaknya bisa membaca, dan tak terlalu menghiraukan pula. Perjuangan ada dan nyata di depan mata. Lagian, hanya petingginya yang tampak begitu. Kader, simpatisan, atau konstituen di bawah, larut bersama gelombang. Kepala-kepala daerah yang tadinya ke kiri, mulai bergerak ke kanan, minimal ke tengah. Iya kalau menang, kalau kalah bagaimana? Ini lagi! Gaya kebijakan setengah-setengah, maju-mundur, ragu-ragu, seperti jadi pola. Entah di mana salahnya?

Mulai dari ingin bergabung ke koalisi pemerintahan, aksi umat 411 atau 212, hingga soal dukung-mendukung capres. Semua hampir tak ada yang utuh. Istilah Anis Matta dalam bukunya, “Menikmati Demokrasi”, antara akurasi data, kedalaman analisis, ketajaman firasat dan intuisi, serta sifat kolektivitas syuro tak bertemu, sehingga efek samping yang ditimbulkan dalam suatu keputusan tak bisa diminimalisir. Akhirnya, menjebak diri atau organisasi sendiri. Ini bisa juga membahayakan Prabowo-Sandi kalau menang. Sampai berani mengultimantum atau mengancam segala. Prabowo-Sandi kuat, kalau PKS kuat. Ini bagaimana ceritanya? Tapi, tidak! Berdasarkan hasil survei suara Prabowo-Sandi larinya ke Gerindra. Beberapa ke Demokrat dan PAN. Itu yang sedang diusahakan Eef Saefulloh Fatah sebagai konsultan politik PAN. Hasilnya, entahlah?. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *