Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (45)

Kepemimpinan Anis Matta (45)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Saya cukupkan fase pencapresan ini. Tak semua terangkum, tapi cukup mewakili. Hal-hal spesifik tentu ada, tapi tak berkaitan langsung, buat apa diceritakan? Akan muncul sendiri, saat ia bertemu dengan konteksnya. Ini akan menjadi jauh lebih enak. Misalnya, dana yang disebut pada Prabowo bila memuluskan keinginan untuk menggandeng cawapres dari PKS. Konon jumlahnya tak tanggung-tanggung. Tentu saja Prabowo tak mudah percaya. Buya Irel hanya senyum-senyum saja mendengarnya. Dikira jumlah segitu, kalau ditumpuk-tumpuk setinggi apa? Ia tak terbayang. Tapi orang PKS berani menyebut angka, itu kemajuan.

Fahri Hamzah kerap bercerita soal dana dari orang yang mau nyalon atau maju pemilihan. Kadang ia menyebut sesukanya saja. Tapi bila orang yang nyebut punya rekam jejak jelas, Erwin Aksa, misalnya. Tentu orang percaya berapa pun yang disebutnya. Tapi bila Si Hantu Belau yang menyebut, tentu orang hanya bisa mendengar saja, tanpa bisa mempercayainya. Mungkin karena itu bantuan pendanaan pilpres sudah tak diperlukan lagi, sebab sudah punya dana sebanyak entah. Akhirnya, senjata makan tuan, digilas omongan sendiri. Saya dengar, infak disedot habis-habisan.

Ada pula cerita soal gebrak meja, bahkan pengusiran saking tegangnya. Saya juga dengar dicerita itu. Saya percaya, cerita pencapresan ini adalah permainan yang keras. Ini pertaruhan terakhir. Gagal ini, berarti gagal semuanya. Tapi, setelah benar-benar gagal, anehnya tak banyak pula yang menganggapnya sebagai kegagalan. Mestinya, kalau mengikuti budaya Jepang, kalau tidak “harakiri politik”, minimal mengundurkan diri. Tapi, tidak! Ada saja dalih yang bisa dibuat sebagai pembenaran. Pertaruhan terakhir berubah ke pileg. Padahal, itu tak akan beda terlalu jauh.

Andai saja Anis Matta menemui Presiden Jokowi seperti Prabowo dan Aburizal Bakrie di istana. Fahri Hamzah tak melawan dan kalah di Pengadilan melawan pemecatan terhadap dirinya, oleh rezim baru PKS secara utuh tanpa bocet sedikitpun. Fahri Hamzah tak hadir dan tak berorasi dalam aksi umat 411. Anis Matta “duduk manis” saja tak melawan pembatasan-pembatasan yang dilakukan rezim baru PKS dan ia benar-benar menghilang. Maka cerita-cerita ini–sepanjang ini–tak akan menarik. Apa menariknya menulis orang yang tiba-tiba mengetuk pintu istana, melawan dan kalah, hadir dan tak membawa pesan jelas, duduk manis tak melawan, lalu benar-benar pergi?

Atau, ceritanya akan sama sekali berbeda jauh–bisa lebih panjang malah–andai saja Anis Matta tak disingkirkan. Atau Anis Matta tak mau turun saat tak ditunjuk, sementara arus bawah masih ingin lanjut. Anis Matta dan Fahri Hamzah diberikan ruang yang cukup, bukan malah ditekel atau dipatahkan. Tak usah benar maju atau didukung sebagai calon, cukup saja terbentuk Poros Ketiga, siapa pun calonnya. Cerita akan sama sekali berbeda. Semua akur-akur saja, dan menatap ke depan. Tak ada kusut sarang tempua di sini, sebetulnya. Tapi itulah takdir sejarah yang harus dijalani. Tak ada yang sanggup menolak, kecuali menjalani saja. Persis penutupan pendaftaran capres dilewati, Garbi (Gerakan Arah Baru Indonesia) secara institusi mulai menggeliat. Idenya sendiri sudah lebih dulu dicetuskan oleh Anis Matta.

Tentu ini menjadi bagian-bagian akhir dari tulisan ini. Saya akan bercerita sedikit tentang asal-usul dari ide Garbi. Sambutannya luar biasa. Histerianya juga dapat. Kemarin, di depan para pengusaha, Prabowo, dan bahkan Sandi, saat debat cawapres resmi KPU, mengutip istilah Indonesia menjadi lima kekuatan besar dunia. Istilah ini menjadi tagline Garbi sejak semula. Banyak tulisan tentang Garbi, baik dari orang Garbi sendiri, maupun tidak. Bahkan, ada pula saya dengar dauroh-dauroh tentang Garbi, Mengenal Garbi, dan lain-lain, dari orang-orang yang entah? Itu salah satu bentuk histerianya, mungkin. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *