A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (46)

Kepemimpinan Anis Matta (46)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Ya, saya mendengar istilah Garbi itu, tiga hari setelah hiruk-pikuk penutupan pendaftaran capres-cawapres. Kamis malam ditutup, minggu malam istilah Garbi sudah terdengar dan terbaca di group-group medsos. Tapi seperti yang saya katakan, idenya sudah lebih dulu dicetuskan Anis Matta. Yakni, ABI (Arah Baru Indonesia). Tepatnya, kalau di publik, pada acara Mukernas I KA KAMMI di Jakarta, 3-4 Februari 2018. Artinya, enam bulan sebelumnya. Dan Garbi mengadopsi ide ABI itu, secara lengkap. ABI dalam bentuk ide, diejawantahkan dalam bentuk gerakan, Garbi.

Ini juga bentuk lain dari kepemimpinan Anis Matta. Ia menyiapkan ide secara matang. Ia datang ke politik, ke tengah-tengah atau ke pertarungan, dengan kepala berisi, bukan dengan otak kosong. Ia mengajukan proposal ide, bukan proposal lain. Rencananya, ide ABI itu disampaikan dalam pidatonya sebagai capres-cawapres. Tapi gagal karena semuanya pupus, sirna. Tertulisnya sekitar 70 halaman. Berisi, padat, dan mencerahkan. Itulah kini, yang menjadi rujukan dari Garbi. Walaupun saya yakin, belum semua orang-orang Garbi membaca dan memahami ide-ide ABI itu.

Seperti kata Fahri Hamzah tak ada ketok palu terhadap lahirnya Garbi. Ia lahir betul-betul dari bawah. Anis Matta juga tak tahu pasti, kalau ide-ide ABI-nya dijadikan gerakan sosial dalam bentuk ormas bernama Garbi. Seperti lambangnya bintang berekor atau meteor berekor, tiba-tiba melesat ke tengah-tengah pembicaraan publik, di saat jumlah terhadap pembicaraan-pembicaraan itu makin meningkat. Fahri Hamzah pun, sebetulnya ikut terseret ke situ. Awal-awalnya ia hanya lihat-lihat jauh saja. Orang sama-sama tahu, ia bergulat dengan banyak hal, banyak gerakan juga.

Entah kebetulan atau tidak, Garbi mulai terdengar di Sulawesi Selatan, kampungnya Anis Matta. Akta, logo, dan segala macamnya, dibuat di situ. Tapi, deklarasinya mulai pecah dan viral di Bali. Tak hanya di Indonesia, konon, juga sampai ke manca negara. Publik mulai mencari tahu bertanya-tanya, apa itu Garbi? Di Sulawesi Selatan sendiri, deklarasinya agak telat terkait saat itu terjadi gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tenggara. Para pencetus Garbi di sana, memutuskan terjun langsung ke daerah bencana. Bukankah ide dasar Garbi juga untuk kebaikan umat manusia?

Hadir dalam acara deklarasi di Bali ialah Mahfudz Siddiq. Sementara di Sulawesi Selatan dihadiri oleh Fahri Hamzah. Dua orang ini kemudian terkenal dengan sebutan, “national speaker” saat ada deklarasi Garbi di daerah-daerah. Karena dua orang inilah, Garbi dikaitkan dengan PKS. Apalagi pencetusnya ialah Anis Matta. Maka lengkap sudah. Walaupun deklarasi-deklarasi Garbi di daerah-daerah selalu melibatkan semua pihak. Lintas generasi, lintas segmen, lintas organisasi, dan segala macam lintas lainnya. Tapi, tetap saja citra sebagai pecahan PKS turut mengkerdilkan.

Kenapa mengkerdilkan? Karena PKS sendiri bukanlah sebuah organisasi atau partai besar. Dicitrakan sebagai pecahan partai kecil atau partai menengah, bukankah otomatis mengkerdilkan? Sementara ide ABI itu adalah ide tentang Indonesia masa depan. Bukan ide tentang PKS, apalagi sekadar pecahan PKS. Belum lagi reaksi-reaksi yang ditunjukkan tidak saja oleh kader-kader dan simpatisan PKS, juga petinggi, bahkan sekelas Ketua Majelis Syuro PKS. Sehingga, orang-orang Garbi pun seperti terseret menepis reaksi-reaksi itu ketimbang mendalami ide-ide ABI itu sendiri. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *