A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (47)

Kepemimpinan Anis Matta (47)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Bagi PKS, Garbi tentu bukanlah pecahan. Pecahan itu istilah pengamat. Pecahan dianggap terlalu mewah buat Garbi. Garbi hanyalah sempalan, pengkhianat, musuh dalam selimut, dan lain-lain. Dan itu jumlahnya tak seberapa. Tapi melihat reaksi PKS yang berlebihan, kata tak sesuai dengan perbuatan, anggapan tak bertemu dengan realitas, itu tak bisa dianggap main-main. Gaya tenang, tapi hati berdampuang. Apalagi muncul menjelang pemilu. Deklarasi-deklarasi bukannya sepi, tapi ramai. Di beberapa daerah malah terlihat seperti kampanye dari sebuah organisasi besar.

Itu yang saya bilang dauroh-dauroh Garbi, Mengenal Garbi, dari mereka yang entah siapa itu. Pada tahap ini, Garbi tak lagi sekadar ide dan gerakan, tapi berubah menjadi ancaman bagi PKS. Gerakan Garbi dituduh hendak menolkan PKS, agar PKS tak lolos parliamentary threshold (PT). Lalu, Garbi serta merta bisa mengambil alih (take over) PKS. Imajinasi yang kelewatan batas dan akut. Padahal, Garbi ya Garbi, PKS ya PKS. Imajinasi itu dibangun sebab Anis Matta, Mahfudz Siddiq, juga Fahri Hamzah, dianggap belum benar-benar hengkang dari PKS. Ide ABI di Garbi, menjadi hilang.

Kenapa sebelum pemilu dan bukan setelah pemilu? Lagi-lagi, ini pertanyaan dari internal PKS. Khususnya, para petingginya, untuk dijawab sendiri bahwa Garbi memang gerakan hendak merongrong PKS, gerakan sempalan, mau menolkan PKS, dan lain-lain. Tapi, bila pertanyaan ini dibuat oleh orang Garbi, atau bolehlah diajukan oleh internal PKS, tapi dijawab oleh petinggi Garbi. Minimal, seperti yang dikatakan Mahfudz Siddiq. Justru Garbi itu dibuat sebelum pemilu, agar ide-ide ABI masuk dalam agenda kedua capres-cawapres dan menjadi agenda bersama Indonesia ke depan.

Karena memang sejak awal, ide ABI yang ingin diejawantahkan Garbi tak ada sedikitpun kaitan dengan PKS. Apalagi, hanya serpihan pecahan PKS. Menunggu selesai pemilu dulu, atau menunggu PKS lolos PT atau tak lolos PT, justru itu menjadi tak relevan. Karena ide-ide ABI tak ada urusan dengan itu. Dan terbukti, ide ABI yang menjadi tagline Garbi paling dikenal, menjadi lima besar kekuatan dunia, sudah dikutip dalam pidato resmi, bahkan debat cawapres resmi KPU, oleh Prabowo-Sandi. Bayangkan, bila tak cepat disosialisasikan? Maka, ide itu akan kehilangan momentum.

Bahkan, tak hanya tagline, menjadi lima besar kekuatan dunia, simbol dua jari; jari telunjuk dan jempol seperti orang menembak ke samping kiri atau kanan, menjadi simbol yang sering dipakai, untuk dukungan kepada Prabowo-Sandi. Suatu kali, ada yang bertanya kepada Anis Matta, saat hendak di foto, bagaimana simbol ABI? Ia langsung menunjukan, seperti orang menembak ke samping kiri sambil berkata, Arah Baru Indonesia! Maka jadilah, itu simbol Garbi, kalau hendak di foto sendiri atau bersama-sama. Dan kebetulan, Prabowo-Sandi nomor urut 2 pula. Jadilah, itu simbol dukungan pula.

Kasihan juga pihak PKS, kader maupun petingginya, yang sudah nyinyir soal tagline Garbi, menjadi lima besar kekuatan dunia, jadi terbungkam secara tak langsung karena tagline itu malah diadopsi Prabowo-Sandi. Sementara, PKS sendiri mendukung Prabowo-Sandi. Termasuk, simbol dukungan jari seperti orang menembak ke samping kiri atau kanan itu. Baru-baru ini, malah Presiden dan Sekjen PKS berfoto bersama Prabowo-Sandi, beda sendiri sebab memakai simbol jempol dan jari telunjuk, menembak ke arah ke atas, hanya untuk menghindari simbol Garbi yang mungkin sudah diketahuinya, sejak awal.

Ada yang berseloroh bahwa itu bukan dukungan buat Prabowo-Sandi, melainkan Jokowi-Ma’ruf. Atau, itu menunjukkan bukan Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi), melainkan Gerakan Arah Atas Indonesia (Gaai). Sangat cocok dengan tagline, taat-tsiqoh, yang sering juga terdengar di lingkungan PKS. Semua harus patuh dan taat pada pimpinan. Atau, itu menunjukkan kebesaran Allah; hanya Allah SWT saja yang pantas dipuji, manusia bersifat lemah dan khilaf. Ini yang agak alim biasanya. Pokoknya, bermacam-macam selorohan itu. Kasihan saja melihatnya. Seperti terkepung dalam situasi yang dibuat sendiri. Malah, ide-ide sederhana dari Anis Matta pun, terbukti terpakai di kemudian hari dan menjadi relevan. Lalu, mau apa lagi?. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *