A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (49)

Kepemimpinan Anis Matta (49)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Secara sederhana ide ABI itu menggunakan pendekatan sejarah, baik sejarah dunia, dunia Islam, maupun sejarah Indonesia. Anis Matta membuat timeline dalam kejadian-kejadian penting dunia, dunia Islam, dan Indonesia secara bersamaan. Ada benang merah yang sangat jelas, antara satu kejadian dunia, dunia Islam, dan Indonesia. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa satu kejadian saling berhubungan, atau tak berdiri sendiri. Kemerdekaan Indonesia, misalnya. Itu sangat terkait dengan kekalahan Jepang terhadap Sekutu dalam Perang Dunia II. Ia tak berdiri sendiri. Dan tak lupa, kekhasan Anis Matta, sejarah dalam Quran, seperti Sulaiman-Balqis juga dijadikan rujukan.

Pendekatan sejarah ini membuat kita (Indonesia) tahu di mana, dan dalam situasi apa kita berdiri saat ini. Memang kejadian-kejadian itu lebih banyak disorot merupakan kejadian-kejadian politik. Tapi sebuah kejadian politik tentu saja tak murni disebabkan oleh kejadian politik semata-mata. Ada kejadian ekonomi, sosial-budaya, malah bisa juga ideologi yang melatarbelakanginya. Tahu di mana kita berdiri, memungkinkan kita juga tahu betul, apa yang akan kita lakukan. Maka tak ada yang mustahil terhadap tagline, menjadi lima besar kekuatan dunia itu. Ia telah dipikirkan.

Faktor SDM dan SDA yang melimpah-limpah, letak geografi, termasuk sejarah Indonesia itu sendiri, memungkinkan semuanya bisa terwujud. Kapasitas Indonesia sebetulnya sangat besar, tapi belum dijalankan sesuai kapasitasnya. Anis Matta mengistilahkan dengan kalimat sederhana, “langit kita terlalu luas, tapi kita terbang terlalu rendah”. Maka, memahami ide ABI, harus dibaca juga buku Anis Matta, “Gelombang Ketiga”. Bisa dibilang ide (buku) ABI itu adalah Jilid Kedua dari buku Gelombang Ketiga. Buku ini mengkaji sejarah Indonesia dalam rentang waktu panjang, tapi disajikan secara lebih singkat tanpa mengabaikan kedalaman. Garis-garis besarnya mewakili.

Dua hal yang ditemukan adalah krisis narasi dan krisis kepemimpinan. Setelah reformasi, Indonesia terlalu lama berada dalam situasi transisi demokrasi. Institusi-institusi demokrasi yang sudah dibuat masa Orde Baru, tak terlalu cepat beradaptasi dengan nilai-nilai demokrasi sungguh-sungguh. Dan tak terlalu jelas juga hendak dibawa ke mana? Krisis narasi ini terjadi juga karena krisis kepemimpinan. Menurut Anis Matta sosok pemimpin yang dinantikan Indonesia itu adalah perpanduan antara sosok Soekarno dan Soeharto. Keduanya juga mewakili era demokrasi dan era pembangunan pada masanya. Dan Indonesia ke depan membutuhkan keduanya secara bersamaan.

Fahri Hamzah mengistilahkannya sebagai “jodoh sejarah”. Bertemunya Indonesia dengan pemimpin yang tepat sehingga Indonesia bisa terbang tinggi setinggi rajawali atau seperti burung garuda yang menjadi Lambang Negara. Sebagai gerakan, Garbi mestinya bertugas mencari jodoh sejarah itu. Minimal, mengawal Indonesia agar tidak balik ke belakang. Transisi demokrasi harus segera diakhiri. Karena kecenderungan balik dan berlama-lama di masa transisi ini juga ada. Apa yang terjadi belakangan ini, seperti menegaskan itu. Baru kali ini kita kembali menegaskan, saya Pancasila, NKRI harga mati, dan lain-lain. Bukankah ini perdebatan ideologi yang sudah selesai?

Maka tampak sekali bahwa ide ABI yang diadopsi Garbi tak ada sangkut-pautnya dengan PKS. Ide ABI itu tentang Indonesia masa depan. Artinya, Garbi juga buat Indonesia. Bukan buat memecah PKS, atau sekadar pecahan PKS. Satu kebetulan saja penggagasnya Anis Matta, bekas Presiden PKS. Karena PKS tentu juga bertujuan untuk membangun Indonesia masa depan, maka sebetulnya tak ada perbedaan antara PKS dan Garbi. Ke depan, bisa saja berkolaborasi atau tidak saling menafikan. Ada yang bertanya, apa Garbi akan tetap lahir kalau Anis Matta masih sebagai Presiden PKS? Tentu saja, tidak! Tapi karena Anis Matta disingkirkan, maka lahirlah Garbi. Jadi akibat bukan sebab. Jangan terbalik-balik lagi. Apalagi menuduh Anis Matta ambisius. Keliru itu. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *