Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (5)

Kepemimpinan Anis Matta (5)

FB_IMG_1550785873487

Kepemimpinan Anis Matta (5)

Oleh: Erizal

LIPUTANPOLITIK. COM
Orang yang me-like tulisan di medsos pun, bisa ditegur. Tulisan panjang maupun sekadar komen satu kalimat saja. Tulisan Anis Matta atau Fahri Hamzah, atau siapa pun yang mendukung atau berempati kepadanya. Ajaib. Dunia yang makin terbuka, disikapi dengan cara kolot. Padahal hanya sebuah tulisan atau satu kalimat saja. Bayangkan! Kebijakan aneh, diamankan secara aneh.

Yang tak mau ditegur, pekan berikutnya, pembina UPK tak lagi mengundang untuk hadir acara pekanan. Yang bengong, bertanya, ngangguk-ngangguk balam saja, dimasukkan informasi-informasi palsu, sepalsu surat yang dikeluarkan buat Fahri Hamzah pernah dihukum, padahal tak pernah. Tak sedikit yang mengadu kepada saya soal ini. Ia me-like tulisan saya, lalu ditegur keras.

Orang dibentur-benturkan tak jelas. Tapi masalah persisnya tak tahu. Orang mencari tahu, tapi dilarang, dibatasi, ditutup. Bahkan, ke sumber primer langsung, orangnya langsung. Sekadar simpati-empati pun, tak boleh. Entah pemahaman apa yang hendak dibentuk? Terpidana korupsi seperti LHI, masih dibuat citra baik. Masak FH dan AM tak ada apa-apa, mau dibuat citra buruk?

Bahkan, ini menerpa level atas. Keanggotaan ahli pun, bila sudah teridentifikasi nasibnya akan sama. Komposisi UPK istilahnya, tapi namanya lenyap sebagai pembina. Ia terbuang tanpa alasan yang jelas. Di sini awal mula muncul dokumen “Mewaspadai Gerakan Mengkudeta PKS”. Jadi, tak hanya wilayah-wilayah yang ditandai. Kader pun diwarnai dengan merah, kuning, hijau. Entah apa gunanya itu?

FB_IMG_1548758537730

Yang merah berarti pendukung Anis Matta. Disebut Osan (Orang Sana). Sedangkan hijau berarti pendukung DPP (Rezim Baru). Disebut Osin (Orang Sini). Dan kuning berarti, tak masuk kedua kubu, alias berada di tengah-tengah. Kemudian, disebut Oteng (Orang Tengah). Dokumen itu dibantah, tak diakui. Tapi dalam praktik sulit untuk dikatakan bahwa dokumen itu tak dipakai.

Ndak-ndak, tapi iya. Iya-iya, tapi ndak. Begitulah. Ini implementasi kebijakan yang keliru. Cetakan dibuat lebih dulu, lalu masalah dipuruk-purukkan ke dalamnya. Mestinya cetakan dibuat setelah masalah dirumuskan. Pastilah identifikasi masalahnya tak valid. Apalagi ini buat internal, bukan eksternal. Kalau internal saja begini, bagaimana membuat kebijakan eksternal? Pasti repot.

Ada yang bilang, ini bukan lagi dakwah yang bekerja, tapi hantu. Cara-cara siluman, cara-cara intel. Informasi dihembuskan dari dalam, informasi dari luar ditutup. Masuk juga, dihantam lewat pertemuan-pertemuan tertutup tiap levelnya. Kasus ceramah TJ adalah bukti. Maka banyak yang heran, ini masalahnya apa? Tak ada yang tahu. Kayak mesin yang telah jadi, tinggal dipakai saja.

Ada yang lucu dari isi dokumen itu. Orang yang mestinya masuk ke Osan ternyata masuk ke Osin, atau sebaliknya? Ada yang kecewa berat, kenapa namanya tak masuk ke Osan? Padahal ia merasa sangat dekat dengan Anis Matta. Berarti, “itu pelecehan kedekatan, “katanya. Ada yang namanya sama, Reza Pahlepi, misalnya. Orang itu di daerah A, tapi dibuat di daerah Z yang jauh.

Jadi, masalah sebenarnya tak ada. Masalah dibuat sendiri. Benar kata Anis Matta, kadang kita tak perlu menceritakan masalah kita, masalah itu bisa bercerita sendiri lewat orang lain. Yang paling penting kita mencari jawabannya. Pada saat masalah itu muncul, kita sudah punya jawabannya. Itulah, kenapa orang yang bertemu Anis Matta menceritakan masalah internalnya selalu terpuaskan karena ia sudah memiliki jawabannya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *