A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Anis matta / Kepemimpinan Anis Matta (50)

Kepemimpinan Anis Matta (50)

Oleh: Erizal

Liputanpolitik.com,- Nasional. Saya pernah bilang jika PK (Partai Keadilan) itu PKS jilid I, maka Garbi adalah PKS jilid II. Atau boleh juga, PKS itu adalah PK jilid II, dan PKS jilid II adalah Garbi jilid I. Apakah nanti akan ada lagi Garbi jilid II? Entahlah. Ini saya buat semata-mata, untuk menunjukkan kontinuitas, keberlanjutan. Bukan diskontinuitas, keterputusan. Apalagi keterpecahan atau penyelewengan. Selalu saja ada sejarah, akar, asal-usul, dan semacamnya. Mana ada dalam realitas sosial, apalagi politik yang betul-betul baru? Tumbuh begitu saja, tanpa jelas tanah tempat berpijak. Lupakan masa lalu! Tak bisa begitu.

Memang ada persoalan saat kelahiran Garbi, karena PKS-nya masih eksis. Beda saat PKS lahir, PK-nya sudah tak eksis. Tapi jangan dikira, tak ada orang yang menginginkan tetap adanya PK. Tetap ada dan mungkin juga tak sedikit. Artinya, tak perlu melahirkan PKS, tetap saja dalam suasana PK. PKS itu suasana yang hiruk-pikuk dan kita tidak siap. Kira-kira, begitu. Tapi setelah PKS menampakkan hasilnya, mereka yang tetap mau mempertahankan PK dulu, ikut-ikutan pula mendukung PKS. Meninggalkan profesi dosen, misalnya. Bukan berjuang, tapi lebih empuk saja.

Harusnya Garbi tak lahir karena PKS masih ada. Tapi itulah takdir sejarah. Tak bisa sama persis, memang. Apakah nanti PKS betul-betul tak ada seperti PK dan semua bergabung bersama Garbi? Ataukah Garbi dan PKS sama-sama ada, seiring sejalan, saling berpacu, saling rebut, atau saling menafikan? Tak ada yang tahu pasti ke depannya. Tapi Garbi yang tak ada, sirna atau mati sebelum lahir, tesis saya tak begitu. Mohon maaf, bila berbeda. Jika ada situasi-situasi baru, yang muncul dan mempengaruhi bisa saja tesis saya berubah. Tapi untuk saat ini belum, dan begitulah.

Walaupun ada beberapa kubu, tapi secara pemikiran, sebetulnya aliran pemikiran dalam tubuh PKS itu hanya satu. Yakni, Anis Matta. Perkubuan terbentuk bukan karena faktor pemikiran, tapi lebih karena faktor sosial, politik, atau bahkan hanya sekadar style atau gaya. Faksi Keadilan dan Faksi Kesejahteraan. Osin (Orang Sini) dan Osan (Orang Sana). Kubu Patra, Kubu Simatupang, Kubu Lembang. Alumni LIPIA, Alumni UI, Alumni Al-Azhar. Jaringan NF, Jaringan Jepang. Itu faksi yang besar-besar, belum faksi yang kecil-kecil. Perkubuan itu, bukanlah karena faktor pemikiran.

Saya pernah membaca tulisan Fahri Hamzah, yang kalau tak salah kemudian diberi judul, “Anis Matta dan Biografi PKS”. Menurut saya, itu betul dan tepat sekali. Sebab, biografi PKS itu sendiri sebenarnya adalah pemikiran atau sejarah pemikiran Anis Matta. Dan sebaliknya, sejarah pemikiran atau pemikiran Anis Matta itu hakikatnya adalah biografi PKS. Bukan pemikiran atau sejarah pemikiran Salim Segaf Al-Jufri, Hidayat Nur Wahid dan apalagi Sohibul Iman. Beberapa nama lain bisa disebut, tapi bukan arus utama. Misalnya Abu Ridho. Pemikirannya tak mengakar. Agak rumit memahaminya. Dan tak sejalan juga, atau malah bisa jadi, bertolak-belakang dengan sejarah (biografi) PKS itu sendiri.

Sebab hanya Anis Matta yang punya buku, menulis pemikirannya, dan relatif konsisten di dunia itu. Memang, buku Anis Matta bukanlah buku yang dibuat khusus. Melainkan tulisan yang dikumpulkan menjadi buku, buku kumpulan tulisan. Tapi, justru, karena kumpulan tulisan itulah, ia menjadi biografi PKS itu sendiri. Sebab, tulisan-tulisan itu mewakili kegelisahan zamannya. Ia dibuat karena ada permasalahan yang ingin diungkapkan dan dicarikan solusinya. Tidak tiba-tiba, dibuat begitu saja. Konteks sosial-politiknya ada, malah bisa berkelindan, dengan PKS itu sendiri.

Sebutlah buku, “Menikmati Demokrasi (2002), Mencari Pahlawan Indonesia (2004), Dari Gerakan Menuju Negara (2006), Serial Cinta (2008), Gelombang Ketiga Indonesia (2014), Arah Baru Indonesia (2019, proses cetak), dan beberapa buku yang ditulis dari ceramah-ceramah beliau seperti Integrasi Politik dan Dakwah (2007), Momentum Kebangkitan (2013), dan lain-lain. Dari tahun-tahun terbitnya buku itu saja, tampak jelas bahwa ia mewakili periodesasi-periodesasi dari sejarah (biografi) PKS itu sendiri. Belum merujuk pada isinya. Dan jika dibuka isinya, bisa jadi satu tulisan bisa menceritakan satu atau beberapa peristiwa yang sedang dialami PKS saat itu. Dan ini, bukan figuritas seperti yang sering dituduhkan. Dokumentasinya bisa dicek dan memang, riilnya begitu. AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *