A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Politik / Konsolidasi oposisi pilpres

Konsolidasi oposisi pilpres

IMG-20180801-WA0028

Konsolidasi Oposisi
Serial : Erizal

LIPUTANPOLITIK. COM
Pekan ini publik dipertontonkan konsolidasi dari pihak oposisi. Prabowo dan SBY hingga bertemu dua kali. Kesepahaman, pelan-pelan makin merangsek maju. Tesis-tesis kedua tokoh ini merekat, bukan memecah. Tak ada capres, belum tentu, parpol nyungsep. AHY bukan harga mati. Prabowo capres kita semua. Prabowo diberikan hak buat menentukan cawapresnya. Dan lain-lain.

PAN konon telah pamit dari koalisi pemerintah. Sehari setelah itu, langsung dibayar tunai dengan OTT Bupati Lampung Selatan, Zainudin Hasan, yang nota bene adik kandung dari Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan. Tak ada kaitan. Bisa jadi. Tapi politik, tak ada yang serba kebetulan.

PKS seperti dapat durian runtuh. GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) Ulama yang baru-baru ini mengadakan acara di Jakarta, tiba-tiba merekomendasikan Ketua Majelis Syuronya, Salim Segaf Al-Jufri, sebagai cawapres Prabowo. Ada satu nama lagi, Abdul Somad, tapi dengan rendah hati dia menolak. Sementara Salim Segaf, menerima. Selera KMS PKS ini, mulai terkuak.

Mulai dari penjaringan internal PKS yang menempatkan dirinya di posisi ke-7, hasil rapat Majelis Syuro PKS yang memutuskan 9 nama capres-cawapres, hingga lobi-lobi politik di menit-menit akhir kepada partai-partai, terutama Gerindra. Termasuk, kepada GNPF sendiri, sebetulnya.

Ini bisa menjadi ganjalan bagi konsolidasi dari pihak oposisi. Rekomendasi GNPF Ulama ini bisa dijadikan tekanan baru bagi PKS untuk Gerindra, untuk segera memilih cawapres berasal dari PKS. Tekanan dari PKS sudah dilancarakan sejak awal Ramadhan, lalu. Tapi, Prabowo cuek.

Bagi PKS, inilah saatnya, ia menduduki posisi cawapres. Pilpres lalu sudah menyerahkan kepada PAN. Walau saat itu, juga ada PPP dan Golkar. Tapi, belum lama, di pilkada DKI Jakarta dan Jawa Barat, PKS sudah menuruti, maunya Gerindra. Akibatnya, PKS ikut terlempar di Jabar.

Rekomendasi GNPF ini menjadi amunisi baru. Bahkan, PKS sudah mengatakan akan taat sepenuhnya kepada Ijtima’ Ulama ini. PKS lebih memilih mengikuti Ulama, ketimbang Prabowo. Lebih keras lagi, bisa muncul. Ujungnya, PKS punya alasan lepas dari pihak oposisi atau abstain.

Tak hanya Gerindra atau Prabowo, Demokrat dan SBY pun turut diserang. Demokrat dan SBY “orang baru” dalam koalisi dengan Gerindra atau pihak oposisi. Posisinya bergabung bukan menentukan. Tapi, SBY lihai. Ia bergerak cepat, membuat klarifikasi. Harus diakui, SBY matang.

Entah kenapa pula, GNPF hanya mengusulkan satu nama dari unsur parpol? Kenapa tak 2 bahkan 3 nama, sekaligus. Dari PKS, juga PAN, dan Demokrat. Kalau satu nama dari satu parpol, itu sama saja dengan menyandera atau mengangkat dan menginjak yang lain. Bukan merekat tapi memecah. GNPF terlalu masuk ke dalam urusan politik praktis. Bukan lagi hanya gerakan politik.

Apalagi GNPF Ulama, gerakan 212 yang sempat ramai saat pilkada DKI Jakarta, satu per satu mulai pecah. Tokoh-tokohnya mulai berganti. Bachtiar Nasir, yang dulu sebagai ikon, sudah jarang muncul. Pengacara Habib Rizieq Shihab, Kapitra Ampera, yang sempat juga populer maju mencaleg lewat PDIP. TBG malah bergabung ke pihak pemerintah. Apakah GNPF masih relevan?

Tapi, di atas semua itu, bisa dikatakan bahwa konsolidasi dari pihak oposisi sudah selesai. Yakni, Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS. Diurut berdasarkan perolehan suaranya di Parlemen. Otaknya siapa lagi jika bukan Prabowo dan SBY. Tersisa PKS, apa terus mengeras atau melunak?

Jika pihak oposisi telah memulai konsolidasinya, pihak pemerintah masih jalan di tempat. Yang perlu diperhatikan, langkah Golkar dan PKB. Sementara, PDIP, PPP, NasDem, dan Hanura kayak tak punya pilihan. Jika cawapres yang dipilih mengecewakan, dua partai ini bisa hengkang.

Ini menjadi isyarat terbentuknya poros ketiga. Apalagi, PKS dari pihak oposisi ikut dalam poros ini. Tapi pilihan semakin sempit. Pihak pemerintah lebih punya banyak sumber daya untuk menyolidkan koalisi. Dua poros seperti pilpres 2014, menjadikan pilpres 2019 akan semakin seru dan keras. Seperti pilpres-pilpres sebelumnya, semoga negara ini bisa kembali enteng melaluinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *