Home / Politik / Men “Challenge” Narasi Islam Politik Anis Matta

Men “Challenge” Narasi Islam Politik Anis Matta

FB_IMG_1532734628261

LIPUTANPOLITIK. COM
Narasi Politik Arah Baru Indonesia identik dengan gagasan murni Anis Matta.

Narasi politik Anis Matta ini bukan isapan jempol, tapi memang punya sandaran filsafat dan platform yang kuat sebagai penopangnya.

Anis Matta pernah menyampaiakan bahwa salah satu syarat islam politik atau dengan kata lain golongan islamis agar bisa memimpin adalah ideologi baru.

Ideologi baru yang dimaksud anis matta sebenarnya bukanlah partai baru, tapi banyak aktivis salah tafsir akan hal ini, sehingga banyak tuduhan ke anis matta yang serampangan.

Bahkan ada aktivis bergelar doktor berani menuduh Anis Matta, Fahri Hamzah dkk berhaluan politik sekuler dan liberal, saya gak tau dia doktor bidang apa bisa sengawur ini.

Arah Baru Indonesia adalah narasi politik yang lahir dari rahim islam politik itu sendiri yang secara sunnatullah akan mustahil menjadi liberal dan sekuler.

Kalau mau menuduh Arah Baru Indonesia adalah sebagai narasi politik sekuler, seharusnya mereka menyebutkan asas asas dan landasan filosofis nya sehingga layak disebut sekuler.

Kalau kita ingin mencari di buku manapun, narasi politik islam anis matta dkk tidak akan ketemu kalau mau dikaitkan dengan politik sekuler.

Perlu dipahami bahwa, gagasan politik arah baru indonesia adalah kelanjutan dari narasi islam politik model eklektisis ala PKS saat ini yang sudah tidak relevan.

Narasi politik anis mattaa adalah inti dari gagasan negara madani yang sebanarnya sesuai rumus islam jika mau dikalkulasikan dengan kondisi politik indonesia yang serba masih liberal.

Anis Matta, Fahri Hamzah dkk bukan pengekor liberalisme, jangan kan liberalisme versi Marchiavelli yang begitu keras, tingkat liberalisme versi Rifaah Thanthawi saja gak masuk.

Tesis politik anis matta masih murni dan masih pure islam politik, hanya dengan modifikasi seperlunya agar sesuai dengan kondisi indonesia untuk memenangkan narasi islam politik.

Menuduh Anis Matta dkk adalah sekuler itu sikap serampangan yang tidak akan bisa dibuktikan sampai kapanpun, karena memang gak akan ada tesis politik yang bisa mendukung argumen ini.

Apa yang dilakukan anis matta adalah apa yang sebenarnya sudah digariskan albanna dahulu dalam kalimat yang terkenal”yakhtalitunana walakin yatamayyazun”.

Jikapun ada modifikasi seperlunya, maka itu adalah hal wajar mengingat fatwa politik umat bisa berubah kapan saja jika dibutuhkan untuk beradaptasi dengan negara dimana mereka hidup.

Zaman dimana kita hidup dengan zaman dimana al Banna hidup tentu punya ciri dan masalah yang berbeda beda, tesis al Banna pun sudah mengalami banyak modifikasi di timur tengah, kenapa modifikasi anis matta dianggap keliru dan keluar pakem? Ilmu si penuduh belum sampai kesana.

Islam politik memang punya bentuk liberal, model Khalid Muhammad Khalid diawal awal misalkan, kalau saja Al Qardhawi tidak meluruskan khalid, busa jadi khalid sudah jauh melangkah ke liberalisme. Anis Matta bukan Khalid Muhammad Khalid.

Islam politik memang punya jejak mengarah ke sekulerisme dan modernisme yang kebablasan, tesis politik Hassan Hanafi misalkan sangat semangat ke arah modernisme terutama saat beliau pulang belajar dari prancis, tapi anis matta gak ada di level itu.

Islam politik memang punya jejak mengarah ke radikalisme, Abdussalam Farraj misalkan, tesis politik radikalnya bahkan sampai jauh ke ektrem kanan yang parah dengan terbitnya buku beliau dengan judul “Al Faridhoh al Ghoibah” yang buku inilah dijadikan sebagai buku panduan untuk membunuh Presiden Mesir Anwar Sadat, Anis Matta gak ada sama sekali dengan warna ini.

Islam poltik juga pernah mengalami misinterpretasi mazhab dan ideologi, sehingga melahirkan gerakan model Hizbut Tahrir di yordania yang sampai saat ini hanya punya 3 juta pengikut diseluruh dunia.

Saat itu gagasan an nabhani juga tidak murni sepenuhnya sebagai Neo Ikhwan, tapi lebih kepada harapan beliau sendiri untuk mengembalikan khilafah islam pasca runtuh di turki 3 maret 1924. Dan itu lumrah, karena mayoritas intelektual islam masa itu juga menginginkan khilafah islam kembali. Tapi Anis Matta bukan An Nabhani.

Gagasan Anis Matta masih tetap dalam koridor islam politik yang benar dan gagasan ini kalau dalam filsafat islam politik disebut dengan gagasan post islamis, banyak aktivis islam belum selesai baca buku.

Gagasan post islamis ini berbeda dengan gagasan islamis ala PKS saat ini, post islamis sudah berada 5 langkah didepan tesis politik PKS sehingga gagasan post islamis ini telah berhasil di Turki, Tunisia dan Maroko dkk.

Tentu sangat relevan jika gagasan ini dipraktekkan di indonesia karena lebih cocok dengan DNA geopolitik islam di indonesaia yang rakyatnya lebih humanis dan minus konflik dan perang saudara gak seperti mayoritas negara islam lain di timur tengah dan kawasan teluk.

Lalu kenapa ada aktivis yang buru buru menolak dan menuduh Anis Matta dkk adalah sekuler, liberal secara serampangan saat buku besar islam politik belum selesai dibaca?

Butuh ilmu yang cukup untuk memahami tesis politik post islamis, memang tidak semudah taat dan tsiqoh, tidak semudah menuduh dan menyerang tanpa landasan ilmu yang cukup.

Perlu dipahami juga, bahwa gagasan islam politik post islamis ini juga di aminkan olelh beberapa pakar islam politik tingkat dunia semisal Al Qardhawi, Ganoucchi, Tariq Ramadhan, dkk.

Oleh sebab itu, Al Qardhawi, Ganouchi dkk ikut mensupport Erdogan di turki sampai Anwar Ibrahim di Malaysia.

Anis Matta dkk suatu saat juga akan didoakan dan disupport oleh mereka juga untuk memimpin indonesia menyusul negara maju lainnya didunia.

Itu suatu hal yang pasti, hanya menunggu momentum dan timing nya saja, jikapun bukan Anis Matta, maka anak anak ideologisnya Anis Matta suatu saat pun siap melanjutkan estafet ini untuk kejayaaan indonesia kedepan.

Tengku Zulkifli Usman.
Analis Politik Dunia Islam Internasional, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *